Kabut tipis menggantung rendah di atas rawa-rawa, ketika perahu kayu kecil itu akhirnya merapat di dermaga sederhana. Nama kampung itu Wambi, sebuah perkampungan terpencil di tengah hutan lebat Papua Selatan yang bahkan tidak tercantum di sebagian besar peta. Aldi, seorang guru muda yang baru lulus, menginjakkan kaki dengan perasaan campur aduk: bangga, takut, dan sedikit ragu.
“Kalau malam, jangan ko keluar rumah,” pesan kepala kampung singkat saat menyambutnya. “Dan… kalau dengar suara aneh dari hutan sana, jangan ko tanggapi e pak guru.”
Aldi tersenyum canggung, menganggap itu hanya mitos lokal untuk menakut-nakuti pendatang. Ya, maklum, guru muda dengan nyali yang masih bajah.
Hari-hari pertama berjalan biasa saja. Ia mengajar anak-anak di bangunan sekolah sederhana yang terbuat dari papan kayu. Mereka ceria, meski sering melirik ke arah hutan seolah ada sesuatu yang mengawasi. Setiap sore, setelah matahari tenggelam, kampung itu berubah menjadi begitu sunyi. Tidak ada anak-anak bermain, tidak ada suara tawa. Hanya suara serangga… dan angin yang terasa terlalu dingin untuk sebuah daerah tropis.
Malam pertama yang ganjil datang pada hari ketiga.
Sekitar pukul dua dini hari, Aldi terbangun oleh suara samar. Seperti seseorang memanggil dari kejauhan.
“…Guru…”
Ia membuka mata perlahan. Suara itu datang dari arah hutan di belakang rumahnya.
“…Guru… keluar…”
Aldi menelan ludah. Suara itu terdengar seperti suara seorang anak. Salah satu muridnya, mungkin? Tapi… kenapa di tengah malam?
Ia teringat pesan kepala kampung. Jangan dijawab.
Namun suara itu semakin jelas. Semakin dekat.
“Pak Guru… saya di sini…”
Langkah kaki terdengar di luar rumah panggungnya. Kayu berderit pelan, seolah seseorang berjalan mengelilingi rumahnya.
Aldi gemetar. Ia memberanikan diri mengintip melalui celah dinding kayu.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi suara itu masih ada.
Tepat di bawah jendela.
“Pak Guru…”
Kali ini lebih pelan. Lebih… dekat. Seolah tepat di telinganya.
Aldi menutup mata, menahan napas. Ia tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, suara itu menghilang. Digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekam.
Keesokan harinya, ia mencoba menanyakan hal itu kepada warga.
Semua wajah berubah tegang.
“Itu bukan anak-anak,” kata seorang mama tua pelan. “Itu yang tinggal di hutan sagu.”
“Siapa?” tanya Aldian.
Mama itu tidak menjawab. Hanya menggeleng.
Sejak malam itu, gangguan semakin sering terjadi.
Kadang suara tangisan. Kadang suara orang berjalan di kolong rumah. Kadang… suara dirinya sendiri.
“Keluar, Aldi..”
Ia pernah mendengarnya jelas. Suaranya sendiri, memanggil dari luar rumah.
Puncaknya terjadi seminggu kemudian.
Salah satu muridnya, Yonas, tidak masuk sekolah. Warga bilang ia hilang sejak malam sebelumnya. Jejak kakinya terakhir terlihat mengarah ke hutan sagu.
Aldi merasa bersalah. Ia nekat mencari, meski dilarang keras.
Hutan itu gelap bahkan di siang hari. Pohon sagu yang tinggi menjulang, menutup cahaya. Udara lembap dan bau tanah basah terasa berat di dada.
Ia berjalan semakin dalam… sampai ia melihat sesuatu.
Seorang anak berdiri di antara pohon.
“Yonas?” panggilnya.
Anak itu membelakangi. Diam.
Aldi mendekat perlahan.
“Yonas, ayo pulang—”
Anak itu berbalik.
Wajahnya… bukan Yonas.
Matanya kosong. Hitam pekat tanpa putih. Senyumnya terlalu lebar, hampir sobek.
“Guru…” katanya pelan.
Suara itu sama seperti yang ia dengar setiap malam.
Aldi mundur ketakutan. Tapi kakinya terasa berat.
Tiba-tiba, dari balik pohon-pohon, muncul lebih banyak sosok.
Anak-anak.
Puluhan.
Semua dengan wajah yang sama—kosong, pucat, dan tersenyum lebar.
“Guru… ikut kami…”
Suara mereka bersamaan, bergema di antara batang sagu.
Tanah di bawah kaki Aldi terasa seperti hidup. Seolah sesuatu menariknya masuk.
Ia berteriak, berusaha lari.
Tapi suara itu mengejarnya.
Sampai tiba-tiba—
“JANGAN LIHAT BELAKANG!”
Suara keras memecah semuanya.
Seorang pria tua—kepala kampung—menariknya keluar dari hutan. Mereka berlari tanpa berhenti sampai mencapai kampung.
Aldi jatuh terengah-engah.
“Jangan pernah masuk lagi,” kata kepala kampung tegas. “Yang masuk ke sana… bukan selalu bisa kembali.”
“Yonas?” tanya Aldi dengan suara gemetar.
Kepala kampung menunduk.
“Kalau mereka sudah memanggil… berarti dia sudah jadi bagian dari hutan.”
Malam itu, Aldi tidak bisa tidur.
Ia duduk diam di sudut rumah, menatap pintu.
Dan tepat saat jam menunjukkan pukul dua dini hari…
Ketukan pelan terdengar.
Tok… tok… tok…
“ Pak Guru…”
Suara itu lagi.
“Tolong buka… sa Yonas…”
Air mata Aldi jatuh.
Ia tahu… itu bukan Yonas.
Tapi kali ini…
Suara itu diikuti sesuatu yang berbeda.
Tangisan.
Tangisan anak kecil… yang terdengar begitu nyata.
Aldi berdiri perlahan. Tangannya gemetar menyentuh pintu.
Suara di luar berubah menjadi bisikan.
“Guru… kami kedinginan di hutan…”
Ia menutup mata.
Pesan kepala kampung terngiang di kepalanya.
Jangan dijawab.
Jangan dibuka.
Ketukan itu semakin keras.
Tok! Tok! Tok!
“GURU!!”
Aldi menjerit dan mundur menjauh.
Tiba-tiba—
Semua suara berhenti.
Hening.
Benar-benar hening.
Namun dari celah lantai rumah panggungnya… muncul sesuatu.
Jari-jari kecil.
Hitam.
Basah lumpur.
Mencakar perlahan ke atas.
Dan suara itu… sekarang datang dari bawah rumah.
Lebih dekat.
Lebih dekat dari sebelumnya.
“Guru… kami di sini…”
Sejak malam itu, Aldi tidak pernah benar-benar tidur lagi.
Dan setiap orang yang datang ke kampung Wambi selalu diberi satu pesan yang sama:
“Kalau hutan memanggilmu… jangan pernah menjawab.”