Matahari mulai merunduk, membiaskan warna jingga keemasan di atas permukaan air teluk Nafplio yang tenang. Di atas sebuah pembatas semen yang menghadap langsung ke arah Bourtzi—sebuah benteng tua yang seolah terapung di tengah laut—dua sosok duduk bersisian. Pak Danuarta dan Bu Rosetta.
Dulu, hidup mereka adalah tentang keteraturan yang berbeda kutub. Pak Danuarta adalah seorang pensiunan tentara dengan pangkat yang disegani. Baginya, hidup adalah tentang disiplin, punggung yang tegak, dan waktu yang dihitung dalam detik-detik operasional. Di sisi lain, Bu Rosetta adalah seorang pensiunan guru sastra. Baginya, hidup adalah tentang barisan puisi, kesabaran menghadapi riuh rendah suara murid, dan seni memahami hati.
Awal pernikahan mereka penuh dengan "penyesuaian" yang menantang. Pak Danuarta yang kaku harus belajar bahwa rumah bukanlah barak, dan Bu Rosetta yang lembut harus memahami bahwa di balik ketegasan suaminya, ada rasa protektif yang luar biasa.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, rambut mereka telah memutih sepenuhnya—seperti salju yang jatuh perlahan di atas puncak kenangan. Jaket berwarna krem yang mereka kenakan seolah menjadi seragam baru di masa pensiun ini; bukan lagi seragam loreng atau batik guru, melainkan seragam kenyamanan.
"Ingat saat kamu pertama kali mengajakku kencan, Dan?" tanya Rosetta memecah keheningan. Suaranya masih selembut dulu, meski kini sedikit serak dimakan usia.
Danuarta terkekeh, suara tawanya yang dalam masih memiliki wibawa masa lalu.
"Aku menjemputmu tepat pukul lima sore. Kamu terlambat lima menit karena masih merapikan buku di perpustakaan. Aku hampir saja pergi karena kupikir kamu membatalkannya."
"Dan untungnya kamu tidak pergi," Rosetta menyandarkan bahunya ke bahu Danuarta yang masih terasa kokoh.
"Karena kalau kamu pergi, kita tidak akan duduk di sini sekarang."
Bagi mereka, menua bersama bukan lagi soal mengejar ambisi besar. Kebahagiaan kini ditemukan dalam hal-hal kecil:
•Debat kecil tentang siapa yang lupa menaruh kunci rumah.
•Aroma teh melati yang diseduh Rosetta setiap pagi
•Tangan Danuarta yang selalu menggenggam tangan Rosetta setiap kali mereka menyeberang jalan, seolah ia masih melindungi aset paling berharga di dunia.
Di depan mereka, matahari perlahan tenggelam, menyentuh cakrawala tepat di belakang benteng tua. Sinar keemasan itu terpantul di air, membentuk jalur cahaya yang menuju ke arah mereka.
"Terima kasih sudah bertahan bersamaku, Rosetta," bisik Danuarta. Ia tak lagi bicara tentang strategi perang atau disiplin militer. Ia bicara tentang cinta.
"Hidup ini terasa sangat sebentar kalau dijalani bersamamu."
Rosetta tersenyum, matanya yang mulai berkabut karena usia tetap bersinar saat menatap matahari terbenam.
"Kita tidak hanya menua, Dan. Kita sedang mengumpulkan cahaya untuk dibawa ke tempat tujuan kita nanti."
Mereka tetap duduk di sana, diam dalam kenyamanan yang hanya bisa dipahami oleh dua jiwa yang telah saling mengenal selama setengah abad. Tak ada ketakutan akan masa depan, tak ada penyesalan atas masa lalu. Hanya ada saat ini—kehangatan bahu yang bersandar, deburan ombak yang ritmis, dan janji yang telah ditepati: untuk menua dan tetap bersama hingga senja benar-benar hilang.