Langit - langit masih gelap saat Aku merasakan angin dingin menyapu masuk mengelus pipi. Meraba-raba dan meyakinkan diri kalau memang Aku masih di tempat tidur yang terlalu besar ini.
Sudah hari kedua bangun pun begini, seolah angin nan jauh berharap bertemu denganku. Kepalaku sudah tidak pusing tapi menyisakan panas dan keringat yang menjalar di seprai dan selimut namun tidak berdaya jika dihadapkan dengan angin yang keterlaluan menusuk-nusuk dinginnya ke kulit.
Ah.. Rasanya tidak nyaman. Panas badan dan dingin ini mengingatkanku ketika berangkat ke sekolah di kelas siang lalu. Cuaca yang terlalu panas untuk berangkat sampai berkeringat berlebih tapi dingin bak musim dingin saat duduk di kelas dan yang terburuk tidak boleh menggunakan jaket. Akhirnya?? Aku demam selama 2 hari. Benar-benar dejavu.
Kenapa kenangannya menyebalkan mudah diingat disaat-saat seperti ini?? Bajuku juga mulai basah dibanjiri keringat. Rambut panjang ini juga semakin membuat tidur terasa dalam sauna. Sembari menyentuh dahi untuk yang kesekian kali untuk memastikan kalau Aku memang demam.
Tok-tok-tok.
"Bia??" Seseorang di balik pintu, terdengar pelan. "Apakah Kamu bangun?"
Meski begitu tiap katanya terdengar jelas. "Ya" Berharap suaraku mencapai ke balik pintu besar kamar.
"Aku masuk ke dalam-" Ia mematung sejenak ketika baru saja menginjak selangkah ke dalam kamar. "Apakah Kamu membiarkan jendelanya terbuka lagi? " Angin menggoyangkan api di lentera yang Ia pegang.
"Tidakkah Kamu berpikir untuk membuat Kamar musim utara disini?? " Berjalan ke arah jendela besar dan menutup rapat.
"A-ku.. Maaf tubuhku terasa aneh." Menegakan badan tanpa melepas selimut di kepala. "Semua terlalu panas, bahkan keringatnya pun membuatku tidak nyaman untuk tidur jadi kulonggarkan jendela agar anginnya, setidaknya, membuat sejuk tapi malah kedinginan untuk bergerak."
Pero duduk di samping kasur. "Kau tau, semua tidak harus selalu berakhir seperti ini karena itu harusnya Aku yang meminta maaf-".
"Tunggu, kenapa semua harus Pero yang merasa bertanggungjawab akan hal-hal yang sudah terjadi? " Pandangannya tertunduk. "Lihat Aku Pero! " Mengangkat dagunya, mata biru kelereng berbinar terpantul cahaya lentera. "Mataku bukan dibawah tapi disini. Kamu terlalu berlebihan jika menganggap seperti itu, ada andil besarku juga ingat? "
"Mungkin Aku sendiri masih samar akan ingatan pada tubuh saat ini tapi Aku ingat Pero!" Pipinya terasa dingin ketika ku tangkup di telapak tanganku yang terasa membara dan Ia membalas dengan elus balik dengan kecupan tanpa membuatku menggerakan tanganku.
"Kumohon jangan bilang lagi 'tubuh saat ini' jangan pergi lagi Sabia." Tangannya menyambut dengan meremas lembut punggung tanganku. "1 tahun saja sudah membuatku runtuh, tubuhmu yang kaku, tidak mati namun tak hidup. Aku bukan lelah merawatmu seperti itu, tak pernah, malah tumbuh perasaan terasingkan yang justru menggelora. Menunggu kapan Kau akan kembali-" Sekejap selimutku terlepas dan tangannya mendekap erat tengkuk dan punggungku yang basah. Berharap Ia tidak merasa tidak nyaman dengan keringat yang mengucur.
Dalam dekapannya, aroma pinus tercium samar. Ah.. Ya Aku ingat terakhir kali kembali lagi ke tubuh ini, Aku hampir menghunusnya dengan pedang. Dimana Aku pada ingatan perjalanan sebelum itu sebagai pembunuh bayaran dan seprai ini beraroma pinus hutan.
"Maafkan Aku Pero! " Tetes air mata mengalir perlahan. "Selama ini membuatmu khawatir, membebanimu dengan merawat tubuh yang tidak memiliki tubuh sesungguhnya. " Kali ini Aku yang tidak ingin beranjak kemanapun lagi, meremas punggung pakaian, meski Aku tahu takdir tubuh ini tidak akan pernah bisa berhenti di satu kehidupan. Harapan agar bisa selalu bersama Pero, suamiku di kehidupan ini, tetap ku agungkan.
"Jangan biarkan Aku pergi lagi Pero, kurung Aku untuk tetap disini bersamamu! " Isakan tangis Kami, berpadu melepas rindu karena direnggut takdir yang tanpa belas kasih menghantam Kami. Akhirnya kepingan puzzle ingatan kembali. Seolah baru beberapa minggu yang lalu Kami berada di altar pernikahan.
Pero menggenggam erat jemariku di altar, kemudian berpaut mesra dalam dansa keharmonisan satu nafas. Matanya tak berpaling dariku meskipun wajahnya memerah hingga jelas sampai ke telinga. Matanya selalu indah kukagumi, bahwa mata biru kelereng itu hidup dan berpendar dari cahaya disekitarnya, begitu memesonaku lalu dengan begitu kucuri kecupan pertama.
Satu detik, dua detik, dan tiga detik. Kami beradu pandang dalam satu ritme nafas yang tidak beraturan. Kecupan kedua, kali ini Pero menjadi tidak sabaran sampai menekanku ke bantal menambah reaksi ku untuk menekan kepalanya padaku.
Api lentera bergoyang sangat lembut seolah tak ingin mengganggu balas rindu Kami di hari ini.
Kalau saja bisa, Aku ingin memiliki mantra dimana Aku bisa membuat waktu berhenti untuk kali ini. Tidak ingin Aku pergi dari dari waktu ini, dari tubuh ini.