Suroto sedang memeriksa kualitas air di kolam ikan lele miliknya yang terletak di tepi sungai. Ia telah mengelola kolam itu selama empat tahun sejak istrinya, Sri Hartati, meninggal karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Suroto harus bekerja sendiri untuk menyekolahkan dua anaknya dan merawat mertuanya yang sudah lanjut usia.
Suatu musim hujan, banjir datang dan menghanyutkan sebagian kolam ikan miliknya. Suroto merasa putus asa karena kehilangan sebagian besar hasil tangkapan yang akan dijual. Saat sedang membersihkan reruntuhan kolam, seorang wanita datang dengan membawa makanan dan menawarkan bantuan. Wanita itu bernama Yanti, seorang petani ikan udang dari desa sebelah yang juga menjadi janda setelah suaminya meninggal karena kecelakaan kerja di tambak udang.
Yanti mengajarkan Suroto teknik baru dalam membangun kolam yang lebih tahan banjir dan cara mengelola kualitas air agar ikan tumbuh lebih sehat. Ia juga membantu mencari pembeli baru untuk ikan lele Suroto, termasuk mengajaknya untuk bergabung dengan kelompok petani ikan lokal yang membuka pasar langsung untuk konsumen.
Suroto mulai merasa bahwa kehidupannya menjadi lebih mudah dengan kehadiran Yanti, tapi ia merasa ragu karena mertuanya masih sangat merindukan Sri Hartati dan mungkin tidak akan menerima orang baru dalam keluarga. Hingga suatu malam, mertuanya datang kepadanya dengan membawa bungkusan kain batik:
"Anakku, aku tahu kamu bekerja sangat keras. Sri Hartati adalah anakku yang terbaik, tapi dia pasti tidak ingin kamu menderita sendirian. Yanti adalah wanita yang baik hati dan pandai. Lihatlah bagaimana dia membantu kita semua. Jangan biarkan kesempatan untuk bahagia lagi lewat begitu saja."
Dengan dukungan mertuanya, Suroto bekerja sama dengan Yanti untuk mengembangkan usaha peternakan ikan mereka. Mereka membangun kolam baru yang dilengkapi dengan sistem drainase yang baik dan mulai membudidayakan jenis ikan lain selain lele. Anak-anak Suroto juga belajar membantu ayahnya dan sangat menyukai Yanti yang sering mengajak mereka bermain di sekitar kolam dan belajar tentang kehidupan akuatik.
Setelah beberapa bulan, mereka memutuskan untuk hidup bersama secara resmi. Mereka tidak mengadakan pernikahan besar, tapi hanya acara kecil bersama keluarga dan teman-teman petani ikan. Suroto merasa bersyukur telah menemukan orang yang bisa menjadi teman sejati dan membantu merawat keluarga besarnya, sambil tetap menghormati kenangan tentang Sri Hartati yang selalu ada di hati mereka.