"Di tengah kebisingan dunia yang selalu meminta kita jadi seseorang, terkadang yang kita butuhkan hanya sebuah sudut kecil di kafe, secangkir kopi, dan seseorang yang melihat kita apa adanya.
Tidak sebagai influencer dengan jutaan pengikut. Bukan sebagai pengusaha dengan kesuksesan besar. Hanya sebagai diri kita sendiri.
Namun waktu selalu terasa singkat, dan dunia selalu memanggil kembali. Sisa dari pertemuan itu hanya dua cangkir kopi dan aroma yang tertinggal—bersama janji bahwa tempat ini akan selalu menunggu."
Lampu kafe yang temaram menggantung rendah, menciptakan bayangan panjang di antara mereka. Dee, seorang influencer papan atas dengan jutaan pengikut, menyesap kopinya perlahan. Matanya menatap pantulan lampu di permukaan cairan hitam itu, sebuah kebiasaan saat ia merasa dunianya terlalu bising. Baginya, setiap sudut hidupnya adalah konten, namun saat ini, ia hanya ingin menjadi Dee yang biasa.
Di hadapannya, Daren, sang pengusaha muda yang namanya sering menghiasi tajuk utama berita ekonomi, melonggarkan dasinya. Ia baru saja menutup kesepakatan bernilai miliaran, tapi baginya, kemenangan terbesar hari ini adalah berhasil mencuri waktu dua jam untuk duduk di sini, di sudut kafe remang ini, bersama Dee.
"Kamu terlalu banyak bekerja, Ren," bisik Dee, jemarinya menyentuh pinggiran cangkir keramiknya yang kasar.
Daren tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya ia simpan untuk Dee.
"Dunia bisnis tidak mengenal kata berhenti, Dee. Tapi saat aku melihat unggahanmu pagi tadi... tentang kopi dan kesepian... aku tahu aku harus ada di sini."
Mereka berbicara tentang banyak hal. Bukan tentang engagement rate atau laporan kuartal perusahaan, melainkan tentang mimpi-mimpi yang terkubur di bawah tumpukan ambisi. Dee bercerita betapa lelahnya ia harus selalu terlihat bahagia di depan kamera, sementara Daren mengakui betapa sepinya puncak gedung pencakar langit tempatnya berkantor.
"Kadang aku merasa kita hanya dua orang asing yang berpura-pura memiliki segalanya," gumam Dee, matanya mulai berkaca-kaca.
Daren meraih tangan Dee di atas meja, menggenggamnya erat.
"Di meja ini, kita tidak perlu berpura-pura. Di sini, kita hanya Dee dan Daren."
Namun, waktu seolah menjadi musuh yang paling jahat. Ponsel Daren bergetar terus-menerus—panggilan mendesak dari investor luar negeri. Di saat yang sama, asisten Dee sudah mengirimkan pesan bahwa sesi pemotretan endorsement besar akan segera dimulai dan mobil sudah menunggu di depan.
"Aku harus pergi," ucap Daren berat, suaranya parau karena rasa enggan.
Dee mengangguk pelan, senyum getir menghiasi wajahnya yang cantik.
"Aku juga. Dunia sudah memanggil kita kembali."
Mereka berdiri bersamaan. Daren mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi Dee sejenak—sebuah kontak fisik yang terasa lebih nyata dari semua komentar pujian di media sosial Dee. Tanpa kata-kata lagi, Daren berbalik menuju pintu keluar, diikuti Dee beberapa langkah di belakang sebelum mereka berpisah ke arah yang berlawanan.
...
Kini, hanya tinggal dua cangkir kopi itu yang tersisa di atas meja kayu. Satu cangkir besar milik Daren yang masih setengah penuh, dan satu cangkir kecil milik Dee yang menyisakan ampas di dasarnya. Uapnya perlahan menghilang, menyatu dengan udara dingin ruangan yang kini terasa begitu hampa.
Meja itu menjadi saksi bisu sebuah pertemuan yang singkat namun menyesakkan dada. Kursi-kursi itu kini kosong, menyimpan hangat tubuh yang baru saja beranjak meninggalkan kenyataan demi tuntutan dunia.
Di ambang pintu, dalam hati yang paling dalam, sebuah bisikan doa bergema di antara mereka berdua yang kini menempuh jalan berbeda di tengah hiruk-pikuk kota:
"Pulanglah ke sini lagi. Saat dunia terlalu berisik, tempat ini—dan kopi ini—akan selalu menunggumu kembali."