Gado-Gado Manis
Setiap kali aroma kacang tanah yang diulek kasar menyebar di udara, kenangan tentang ibu langsung menghampiri hati. Gado-gado buatan dia selalu jadi yang paling dinantikan, terutama saat Lebaran tiba.
Waktu kecil, aku selalu berjejer di samping ibu yang sedang mengolah bumbu di atas tungku. Tangannya yang terlatih dengan gesit mencampurkan kacang yang sudah matang, gula merah yang dilelehkan, sedikit garam, dan air jeruk nipis yang segar. "Gado-gado ini buat anak-anakku yang paling manis!" ujarnya sambil menepuk pipiku yang masih montok. Rasa manis yang pas, gurihnya yang menggugah selera, dan kesegaran sayuran segar seperti kubis, tauge, dan kentang rebus—semuanya tak ada duanya.
Setiap Lebaran, meja makan rumah selalu dihiasi piring besar berisi gado-gado spesial. Keluarga berkumpul, bercanda sambil menyantap hidangan favorit itu. Suara tawa dan cerita mengalir bersama setiap suapan yang masuk ke mulut.
Sekarang, Lebaran datang dan pergi tanpa kehadiran ibu. Meja makan masih penuh hidangan, tapi rasanya tak sama lagi. Aku pernah mencoba membuat gado-gado dengan resep yang dia wariskan, bahkan mencari yang paling terkenal di Semarang. Namun, tak ada yang bisa menggantikan rasa gado-gado buatan ibu—rasa yang menyimpan cinta dan kenangan indah masa kecilku.
Kadang-kadang aku duduk di sudut dapur yang dulu jadi tempat ibu memasak, menutup mata, dan berharap bisa sekali lagi mendengar suaranya yang lembut dan merasakan gado-gado yang dia sajikan dengan penuh cinta.