Suara adzan Subuh terdengar jelas di pagi yang sejuk. Rafi membuka mata perlahan, mengingat bahwa hari ini adalah hari raya Idul Fitri. Tangannya secara refleks menyentuh bantal sebelahnya—tempat yang biasanya ditempati adiknya saat Lebaran tiba.
Ia bangun, melakukan ablusi dengan hati-hati, lalu melaksanakan shalat Id bersama sedikitnya jamaah di masjid desa. Suasana yang biasanya ramai dengan suara salam dan tawa kini terasa lebih tenang dari biasanya.
Setelah shalat, Rafi bersama ayahnya berjalan menuju makam keluarga. Langkah kaki mereka menginjak tanah yang sedikit lembap akibat embun pagi. Di sana, mereka membaca doa dan mengingat kenangan bersama orang tersayang. Tanpa banyak omongan, mereka berbalik pulang.
Di rumah, meja makan sudah diatur dengan berbagai hidangan khas Lebaran—rendang, opor ayam, ketupat, dan serundeng yang harum. Tapi meja yang biasanya penuh dengan wajah keluarga tampak luas dan sepi. Hanya Rafi, ayah, dan ibunya yang duduk di sana. Makan malam terasa sunyi meskipun makanan masih sama lezatnya seperti tahun-tahun sebelumnya.
Setelah makan, rasa kantuk menghampiri. Rafi berbaring di sofa ruang tamu, melihat foto keluarga yang terpajang di dinding—kenangan saat Lebaran masih penuh dengan kedatangan kerabat dari berbagai kota. Anak-anak bermain riang di halaman, sementara orang dewasa berbincang santai sambil menikmati kue kering.
"Semoga tahun depan berbeda," bisik Rafi pelan sambil menutup mata. Doa itu terucap dalam hati, penuh harapan akan momen Lebaran yang kembali meriah dan penuh makna.