Di bawah langit jingga yang meredup di ufuk Dadaepo, Jelly berdiri mematung. Angin laut membawa aroma garam dan sisa-sisa kenangan yang mulai menguning, persis seperti hamparan rumput alang-alang di hadapannya.
Dulu, di tempat yang sama, ada Rangga.
Rangga adalah senja itu sendiri—hangat, indah, namun singkat. Di atas dek kayu ini, satu tahun yang lalu, Rangga menggenggam tangan Jelly erat.
"Tahun depan, saat ilalang ini kembali memutih, aku akan berdiri di sini bukan sebagai kekasihmu, tapi sebagai seseorang yang akan menjagamu selamanya," ucapnya kala itu. Sebuah janji pernikahan yang mereka gantungkan tinggi-tinggi di antara awan-awan tipis Korea.
Jelly percaya. Baginya, kata-kata Rangga adalah sauh yang menahan kapal hidupnya agar tidak karam. Mereka merencanakan segalanya: rumah kecil dengan jendela besar, tawa anak-anak, dan masa tua yang tenang.
Namun, waktu punya caranya sendiri untuk menguji hati. Seiring bergantinya musim, jarak mulai terasa lebih lebar dari sekadar angka kilometer. Rangga yang dulu selalu ada di ujung telepon, perlahan menjadi asing. Kesibukan, ambisi, dan sosok-sosok baru di kota yang berbeda mulai mengaburkan wajah Jelly dalam ingatan Rangga.
Hingga suatu malam, sebuah pesan singkat menghancurkan segalanya. “Maaf, aku tidak bisa menepati janji itu. Aku menemukan jalan yang tidak menyertakanmu di dalamnya.”
Tidak ada penjelasan lebih jauh. Tidak ada permintaan maaf secara langsung. Hanya sebuah pengingkaran yang dingin terhadap janji yang dulu diucapkan dengan begitu hangat.
Hari ini, Jelly kembali. Dia memakai rok biru muda yang sama, warna favorit Rangga. Namun, bangku di sampingnya kosong. Langit yang dia tatap masih sama indahnya dengan tahun lalu, tapi rasa di dadanya telah hancur berkeping-keping.
Dia menyadari satu hal yang menyakitkan: langit tidak pernah ingkar pada janjinya untuk berubah warna setiap sore, namun manusia bisa dengan mudah membuang sumpah mereka seperti debu yang ditiup angin.
Jelly menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. Dia masih sendirian, menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik gunung. Kisah mereka telah selesai—bukan dengan pelaminan, melainkan dengan keheningan di tepi pantai yang menyimpan sejuta kata yang tak sempat terucap.