Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di kantor kepolisian Lapor Pak, lampu-lampu masih menyala, namun suasana terasa berat. Komandan Andre Taulany berdiri di balik meja kerjanya, menatap berkas di tangannya dengan wajah serius.
“Surya, saya butuh kamu untuk tugas ini,” ucapnya pelan namun tegas.
Surya Insomnia, kepala divisi polantas, mengernyit. “Sendirian, Komandan?”
Andre mengangguk.
“Ini tugas rahasia. TKP kecelakaan di dekat hutan terlarang.”
Hutan terlarang.
Nama itu saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding.
Surya terdiam sejenak. Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Namun sebagai polisi, ia tidak punya banyak pilihan.
“Baik, Komandan.”
Kabut yang Menelan
Malam semakin larut saat Surya tiba di lokasi.
Sebuah mobil ringsek terparkir di pinggir jalan, tepat di batas hutan yang gelap dan seolah hidup. Tidak ada saksi. Tidak ada suara. Hanya angin yang berdesir pelan.
Surya mulai memeriksa mobil itu dengan senter di tangannya.
Namun… ia tidak sendirian.
Dari balik pepohonan, sesuatu mengintai.
Sosok besar. Gelap. Tidak berbentuk jelas.
Tanpa suara, kabut hitam mulai merayap keluar dari hutan, perlahan… lalu semakin tebal.
Surya belum menyadarinya.
Sampai—
Kabut itu mengelilinginya.
“Ini apa—?!”
Belum sempat ia bereaksi, tubuhnya terasa berat. Napasnya tercekat. Pandangannya menghitam.
Dan dalam sekejap—
Surya menghilang.
Kepanikan di Pagi Hari
Keesokan harinya, kantor Lapor Pak diliputi kecemasan.
Sudah berjam-jam, Surya tidak memberi kabar.
Andre memanggil semua anggota.
Andhika, Wendi, Hesti, Kiky—semua berdiri di ruangan dengan wajah tegang.
“Saya harus jujur,” kata Andre. “Surya sedang menjalankan tugas rahasia… dan sekarang dia hilang.”
Belum sempat suasana semakin mencekam—
Teriakan keras terdengar dari lobby.
“Aaaaah!!”
Semua berlari keluar.
Dan di sanalah mereka melihatnya.
Surya.
Namun… bukan Surya yang mereka kenal.
Wajahnya pucat. Matanya kosong. Tubuhnya lemas seperti mayat hidup.
“Surya…?” suara Wendi bergetar.
Andhika dan Wendi mendekat, meski rasa takut menahan langkah mereka.
Divisi polantas ikut berkumpul, wajah mereka penuh harap… sekaligus takut.
Tiba-tiba—
Surya kejang.
Tubuhnya jatuh, namun berhasil ditangkap oleh Andhika dan Wendi.
“Cepat! Panggil ambulans!” teriak Andre.
Antara Hidup dan Mati
Di RS Bhayangkara, waktu terasa berjalan lambat.
Surya dinyatakan koma.
Di ICU, tubuhnya terbaring kaku, dihubungkan dengan berbagai alat medis.
Andhika dan Wendi hanya bisa menunggu… dan berdoa.
Sementara itu, di dalam kesadarannya—
Surya terjebak.
Ia berada di tempat gelap, penuh kabut hitam.
Di depannya, sebuah sel gaib.
Dan di dalamnya—
jiwanya sendiri.
Dijaga oleh makhluk hitam besar yang diam, namun terasa mengancam.
Surya mencoba berteriak. Tidak ada suara.
Ia mencoba bergerak. Tidak bisa.
Lalu—
semuanya berubah.
Ia berada di tempat terang.
Di hadapannya, sebuah “layar” menampilkan dirinya di ICU… dan teman-temannya yang menangis.
Hatinya bergetar.
Tiba-tiba, cahaya muncul.
Hangat. Menenangkan.
Surya mendekat… dan perlahan masuk ke dalamnya.
Kesadaran yang Hilang
“Surya sadar!”
Kabar itu membuat Andhika dan Wendi langsung berlari ke ICU.
Namun saat mereka sampai—
senyum mereka perlahan menghilang.
Surya menatap mereka… kosong.
“Maaf… kalian siapa?”
Dunia seakan runtuh.
Dokter Adjis akhirnya menjelaskan,
“Dia mengalami amnesia pasca-koma. Dia tidak mengingat apa pun… bahkan dirinya sendiri.”
Andhika menunduk. Wendi menahan air mata.
Saat Andre datang, ia mencoba berbicara.
“Surya, ini saya… Komandan Andre.”
Namun hasilnya sama.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada ingatan.
Hanya tatapan asing.
Pertanyaan yang Tersisa
Satu per satu anggota datang.
Semua berharap.
Semua hancur.
Surya tidak mengenali siapa pun.
Seolah-olah… dirinya yang dulu ikut hilang bersama kabut hitam di hutan larangan.
Dan kini hanya tersisa tubuhnya.
Namun jiwanya?
Masih menjadi misteri.
Apakah Surya akan mendapatkan kembali ingatannya?
Atau… sebagian dirinya masih terjebak di dalam kabut hitam itu?