Namaku Bima. Aku seorang pengacara perceraian, setiap hari berhadapan dengan kehancuran rumah tangga orang lain. Apartemenku adalah tempatku mencari ketenangan setelah seharian bergelut dengan kasus-kasus pelik. Di sebelah, tinggallah Elena, istri dari klien terbesarku, Pak Indra. Elena adalah seorang ibu rumah tangga yang anggun, namun sorot matanya selalu menyimpan kesedihan yang dalam. Suaminya, Pak Indra, seorang pengusaha yang sibuk, sering bepergian dan seringkali bertindak kasar jika merasa kesal.
Aku pertama kali bertemu Elena saat ia datang ke kantorku bersama suaminya, untuk mendiskusikan perceraian mereka yang kemudian diurungkan. Sejak saat itu, aku sering melihatnya di apartemen sebelah. Ia tampak selalu sendirian, merawat rumahnya yang mewah namun terasa dingin.
Suatu sore, saat aku baru saja pulang, aku melihat Elena sedang mencoba memperbaiki rak buku di teras apartemennya. Ia tampak kesulitan. Aku menghampirinya.
"Mbak Elena, butuh bantuan?" tanyaku.
Ia menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum. "Oh, Mas Bima. Iya nih, rak ini agak rewel."
Aku membantunya memperbaiki rak itu. Sambil bekerja, kami mengobrol. Elena bercerita tentang rasa kesepiannya, tentang suaminya yang seringkali hilang kendali, tentang mimpinya yang terabaikan. Aku mendengarkan, merasakan empati yang mendalam. Ia seperti wanita lain yang pernah kutemui di ruang sidangkan, mencari keadilan, mencari kedamaian.
Sejak saat itu, Elena mulai sering datang ke apartemenku. Awalnya hanya untuk sekadar mengobrol, lalu ia sering meminta saran hukum tentang masalah rumah tangganya. Aku tahu ini bukan posisiku, tapi aku tak bisa menolak. Aku melihatnya sebagai korban, dan aku sebagai penolongnya. Tapi perlahan, rasa empati itu berubah menjadi sesuatu yang lebih. Aku mulai merasakan getaran setiap kali ia menatapku, setiap kali tangannya tak sengaja menyentuh tanganku.
Aku tahu ini salah. Elena adalah istri klienku. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku. Di tengah kehancuran rumah tangga orang lain yang kusaksikan setiap hari, aku menemukan resonansi dengan Elena. Kami berdua terjebak dalam lorong waktu yang sama, terperangkap oleh keadaan, mencari pelarian.
Suatu malam, Pak Indra menelepon Elena, berteriak-teriak tentang bisnisnya yang gagal. Elena tampak terguncang. Ia datang ke apartemenku, menangis tersedu-sedu. Aku memeluknya, memberikan kehangatan yang tak bisa ia dapatkan dari suaminya. Di pelukan itu, kami berdua tahu, kami telah melampaui batas.
Kami tidak pernah menjalin hubungan fisik, tapi ikatan emosional kami semakin kuat. Kami saling berbagi cerita, saling menguatkan. Aku melihatnya sebagai wanita yang rapuh, yang butuh perlindungan. Dan ia, ia melihatku sebagai penyelamatnya.
Namun, kami berdua tahu, hubungan ini tidak akan pernah berakhir bahagia. Suatu hari, Elena datang ke apartemenku dengan wajah yang berbeda. Ia tampak lebih tegar. "Mas Bima," katanya, "aku sudah memutuskan. Aku akan pergi."
Hatiku mencelos. "Pergi? Ke mana?"
"Aku akan memulai hidup baru. Tanpa Pak Indra. Tanpa bayang-bayang masa lalu." Ia tersenyum tipis. "Terima kasih, Mas Bima. Kau telah memberiku keberanian."
Elena pergi, meninggalkan aku dengan rasa kehilangan yang mendalam. Aku tahu, ia harus pergi. Ia harus mencari jalannya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar. Elena telah membuka galeri seninya sendiri. Ia kini hidup mandiri, bahagia. Aku tidak pernah menghubunginya lagi. Aku tahu, itu adalah keputusan terbaik.
Aku kembali ke rutinitasku, menangani kasus-kasus perceraian, menyaksikan kehancuran rumah tangga orang. Tapi kini, aku membawa jejak Elena di hatiku. Jejak seorang wanita yang berjuang demi kebebasannya. Aku belajar bahwa terkadang, cinta sejati berarti melepaskan, membiarkan orang yang kita cintai menemukan jalannya sendiri, meskipun itu berarti kita harus tertinggal di lorong waktu, dengan jejak mereka yang membekas selamanya.