Angin laut Karangantu sore itu terasa lebih lengket di kulit, membawa aroma garam yang bercampur amis ikan dari pelabuhan. Di teras rumahnya yang bercat hijau pudar, Indri duduk menyilangkan kaki sembari memainkan ponsel pintarnya. Bibirnya yang dipulas gincu merah menyala tampak bergerak-gerak kecil, tersenyum menatap layar. Di dalam rumah, Maman, suaminya, baru saja bangun tidur untuk bersiap berangkat shift malam ke pabrik kimia di Cilegon.
"Ngaso bae, Nde? Belum masak buat buka puasa?" tanya Maman sambil mengucek mata.
Indri mendengus, matanya tak lepas dari ponsel. "Beli bae di depan, Kang. Lagi rudet kepala saya, jangan ditanya-tanya terus. Aje keder, nanti juga ada makanan."
Maman hanya mengelus dada. Sabarnya memang seluas Selat Sunda. Ia tahu istrinya adalah kembang desa yang dipuja banyak lelaki di Serang, tapi ia tak pernah menyangka bahwa kecantikan itu menjadi bumerang bagi rumah tangganya. Bisik-bisik tetangga sudah sampai ke telinganya, tentang Indri yang sering terlihat dibonceng lelaki necis saat Maman sedang memeras keringat di depan mesin pabrik. Wong gemblung, pikir orang-orang, punya suami rajin tapi malah "jajan" di luar.
Puncaknya terjadi seminggu kemudian. Saat itu hujan rintik-rintik mengguyur kampung. Maman yang katanya lembur, tiba-tiba pulang lebih awal karena mesin pabrik rusak. Alangkah luluh lantak hatinya saat mendapati pintu belakang rumah terbuka dan suara tawa lelaki asing terdengar dari kamar utamanya. Warga yang sudah lama mengincar perilaku Indri langsung mengepung. "Metu! Metu sira, Indri! Dasar wadon mbeling!" teriak ketua RT dari luar jendela.
Indri diseret ke tengah lapangan pos ronda. Di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, ia dimaki habis-habisan. Namun, Indri bukan tipe wanita yang mudah tunduk. Dengan wajah garang, ia menantang semua orang. "Fitnah! Siapa yang lihat? Mana buktinya? Cuma gara-gara ada tamu sepupu saya, kalian bilang selingkuh? Aje memada, ya!" teriaknya histeris.
"Kalau memang bener kamu suci, berani sumpah pocong?" tantang seorang warga yang paling geram.
"Berani! Besok kita ke masjid. Kalau saya bohong, biarlah saya mati apes, mati nggak diterima bumi!" sahut Indri tanpa keraguan sedikit pun. Maman hanya bisa menangis sesenggukan di pojokan, tak menyangka istrinya seberani itu mempermainkan nama Tuhan.
Keesokan harinya, suasana masjid menjadi mencekam. Indri dibaringkan, dibungkus kain kafan putih, dan diikat tali pocong di kepala, dada, dan kakinya. Aroma kapur barus menyeruak tajam. Di hadapan Kiai dan ratusan mata warga, Indri mengucapkan sumpah keramat itu. Langit yang tadinya terik mendadak berubah gelap gulita, petir menyambar di kejauhan, tapi Indri tetap teguh dengan kebohongannya. Setelah ikatan dilepas, ia berdiri dengan angkuh. "Tuh, lihat! Saya nggak mati kan? Berarti saya benar!"
Namun, "pengadilan langit" tidak selalu datang secepat kilat. Tuhan memberikan waktu bagi hambanya untuk bertobat, tapi Indri malah merasa menang. Seminggu setelah sumpah itu, ia kembali ke tabiat lamanya. Malah lebih nekat. Ia merasa sumpah pocong itu hanya gertakan belaka.
Sore itu, saat ia memacu motor matiknya menuju kawasan Anyer untuk menemui selingkuhan barunya, petaka itu datang. Di sebuah tikungan tajam yang dikenal angker, sebuah truk pengangkut pasir mengalami rem blong dari arah berlawanan. Indri yang sedang asyik membalas pesan singkat tak sempat menghindar. Braakk! Tubuhnya terpental, masuk ke bawah kolong truk.
Kejadiannya begitu mengerikan. Tubuh Indri terhimpit besi tua, namun anehnya, ia tidak langsung meninggal. Selama tiga hari ia sekarat dengan luka yang mengeluarkan bau busuk luar biasa, persis bau mayat yang sudah seminggu. Perawat di rumah sakit sampai harus memakai masker tiga lapis. "Panas... tolong lepasin ikatannya... kenceng pisan ini leher saya..." rintih Indri dengan suara parau yang menyeramkan sebelum akhirnya ia mengembuskan napas terakhir dengan mata melotot ke atas.
Kematiannya menjadi awal kutukan bagi kampung tersebut. Saat pemakaman, jenazah Indri seolah-olah ditolak bumi. Berkali-kali liang lahat digali, berkali-kali pula air hitam berbau bangkai merembes naik menutupi lubang. Saat akhirnya bisa dikuburkan, tanah pemakaman itu terus-menerus ambles.
Sejak malam pertama, teror dimulai. Suara kain yang bergesekan dengan tanah terdengar berkeliling di gang-gang kampung. Srek... srek... srek... "Tolong... bukain ikatannya... tulung kite..." Suara itu persis suara Indri, tapi terdengar seperti muncul dari dalam tanah. Beberapa warga melihat penampakan pocong dengan wajah hancur dan kain kafan yang penuh noda lumpur hitam berdiri di depan jendela rumah mereka.
Ketakutan menyebar seperti wabah. Satu per satu warga mulai merasa tidak tenang. Anak-anak kecil mendadak sakit panas berjamaah setiap kali mendengar suara rintihan di malam hari. "Sudah nggak bener ini kampung. Rohnya penasaran gara-gara sumpah palsu," bisik mereka ketakutan.
Hanya dalam waktu sebulan, Kampung Sukamaju yang tadinya ramai berubah menjadi sunyi senyap. Warga memilih untuk pindah serempak, meninggalkan rumah-rumah mereka yang masih bagus. Mereka ketakutan karena setiap malam, pocong Indri akan mendatangi rumah orang-orang yang dulu menghujatnya, meminta maaf dengan cara yang paling mengerikan.
Kini, daerah di sudut Serang itu menjadi hutan beton yang angker. Rumah-rumah kosong ditutupi akar pohon dan semak belukar. Tak ada yang berani melintas di sana setelah ashar. Jika kau nekat lewat, jangan heran jika kau mencium bau kapur barus yang menusuk dan mendengar suara bisikan dingin di telingamu: "Aje lari... temenin kite di sini..."