Di bawah langit jingga yang mulai meredup, Kurnia Kulina Frea—atau yang lebih akrab dipanggil Kuku—berdiri terpaku di balkon tua rumahnya. Di tangannya, seikat bunga asoka yang ia petik dari halaman belakang tampak bercahaya terkena sisa-sisa matahari. Baginya, bunga itu adalah simbol kesetiaan yang tak pernah luruh, sama seperti perasaannya pada satu nama: Lion Darmawan.
Kuku dan Lion adalah dua kutub yang dipertemukan oleh takdir yang aneh. Kuku adalah gadis pendiam yang lebih suka berbicara lewat tulisan, sementara Lion adalah sosok yang bebas, laksana angin yang sulit ditebak arahnya. Namun, di antara mereka ada sebuah janji tak tertulis yang selalu dirayakan setiap kali senja tiba.
"Lion, kau tahu kenapa aku menyukai senja?" tanya Kuku suatu ketika, saat mereka duduk di tepi dermaga kecil.
Lion hanya menoleh, membiarkan rambutnya berantakan tertiup angin laut. "Karena warnanya bagus?"
Kuku menggeleng pelan. "Karena senja membuktikan bahwa sesuatu yang berakhir pun bisa terlihat indah. Dan karena setelah senja, aku tahu kau akan selalu pulang ke arahku."
Namun, hidup tak selamanya berjalan seirama dengan detak jantung. Suatu hari, Lion harus pergi mengikuti ambisinya, menyeberangi samudera untuk mengejar mimpi yang tak bisa ia temukan di kota kecil mereka. Ia pergi tepat saat matahari sedang merah-merahnya.
Tahun-tahun berlalu. Nama "Kuku" mungkin sudah jarang terdengar di telinga orang lain, namun di dalam hati gadis itu, nama "Lion Darmawan" adalah mantra yang ia rapalkan setiap hari. Ia tetap menjadi Kuku yang sama—gadis yang menyimpan cinta sedalam palung laut, yang tak pernah membiarkan orang lain menggantikan posisi Lion di hatinya.
Setiap sore, tanpa absen, Kuku akan duduk di kursi kayu yang sama, ditemani "bunga senja" favoritnya. Ia tidak merasa kesepian, karena baginya, kenangan tentang Lion adalah teman bicara yang paling setia. Ia percaya bahwa cinta sejati tidak butuh kehadiran fisik setiap saat; cinta sejati adalah tentang bagaimana kita menjaga sebuah nama tetap hidup di tengah ketiadaan.
"Aku dan bunga senja ini selalu menantimu, Lion," bisiknya pada angin.
Dan di belahan bumi yang lain, di tengah hiruk-pikuk kota yang asing, seorang pria bernama Lion berhenti sejenak saat melihat langit berubah jingga. Ia menyentuh saku kemejanya, tempat ia menyimpan sebuah foto usang seorang gadis yang tersenyum malu-malu.
Ia tahu, sejauh apa pun ia berlari, ada satu tempat yang selalu menjadi muaranya. Sebuah tempat di mana Kuku dan bunga senja tak pernah lelah menunggu kepulangannya.