Lobi hotel penuh oleh peserta dan guru pendamping. Semua mata tertuju pada layar besar di depan ruangan. Logo universitas masih terpampang, menunggu daftar pemenang muncul.
Alana berdiri di antara kerumunan. Jemarinya saling bertaut tanpa sadar.
Gavin di sampingnya terlihat santai. Kedua tangannya masuk ke saku jaket.
Nama peringkat sepuluh hingga empat muncul bergantian. Tepuk tangan sesekali terdengar.
Nama Alana belum muncul.
Layar berhenti sejenak.
Dua baris terakhir tampil.
Peringkat 1 — Alana Valeska (98,5)
Peringkat 2 — Gavin Adijaya (98,2)
Ruangan langsung riuh.
Alana tidak bergerak.
Matanya masih tertuju pada layar.
Beberapa detik kemudian dia menoleh.
Gavin sudah melihatnya lebih dulu.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Tangannya naik dan mengacak rambut Alana seperti biasa.
“Sesuai janji, Sang Seniman,” katanya pelan.
“Apa permintaan lo?”
Alana tidak menjawab.
Dia justru menarik lengan Gavin keluar dari kerumunan.
Mereka berhenti di taman hotel.
Lampu kecil menggantung di sepanjang jalur batu.
Udara malam terasa lebih tenang.
Alana membuka tasnya.
Sebuah gantungan kunci berbentuk bintang diletakkan di telapak tangan Gavin.
Kayunya sudah pudar.
Gavin menatap benda itu cukup lama.
Alana bersandar pada pagar taman.
“Pola ketukan meja tadi,” katanya.
Gavin mengangkat alis.
“Taman kota. Sepuluh tahun lalu.”
Beberapa detik tidak ada suara.
Angin lewat di antara pohon.
Gavin menutup telapak tangannya.
Bintang kayu itu menghilang dari pandangan.
“Lo baru inget sekarang?” gumamnya.
Alana mengangkat bahu kecil.
“Kenapa lo nggak pernah bilang?”
Gavin menghela nafas pelan.
“Biar lo tetep nganggep gue lawan.”
Dia berhenti sebentar.
“Bukan bocah yang lo kasihani.”
Alana tertawa kecil.
Kepalanya menunduk sesaat.
Lalu Gavin menariknya mendekat.
Pelukan itu singkat.
Namun Alana tidak bergerak.
Beberapa saat kemudian Gavin melepasnya.
Dia mengeluarkan kertas kecil dari sakunya.
Alana menerimanya.
Tulisan tangan Gavin terlihat rapi.
Peringkat satu milik lo.
Tapi lo tetep variabel tetap di hidup gue.
Alana membaca kalimat itu sekali lagi.
Dia mengambil pulpen dari saku jaket Gavin.
Satu kata ditulis di bawahnya.
DEAL
Gavin melihat tulisan itu.
Senyumnya berubah.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada tantangan.
Dia menggenggam tangan Alana.
Mereka berjalan kembali menuju lobi hotel.
Suara keramaian masih terdengar dari dalam gedung.
Namun langkah mereka melambat di jalur taman.
Alana melirik kertas kecil di tangan Gavin.
Tulisan itu sederhana.
Jawabannya juga.
“Berarti sekarang kita bukan rival lagi?” tanya Alana.
Gavin menatapnya sebentar.
“Bukan.”
Dia mengeratkan genggamannya.
“Sekarang kita satu tim.”
Alana tidak menjawab.
Tangannya tetap di sana.
Lampu taman memantulkan bayangan mereka di jalur batu.
Untuk pertama kalinya, mereka berjalan ke arah yang sama.
Tamat.