Lorong itu seharusnya hanya memiliki dua pintu.
Aku yakin.
Sejak pertama kali pindah ke kosan ini tiga bulan lalu, aku sudah hafal betul setiap sudutnya. Lorong sempit dengan cat putih kusam, lampu kuning redup yang sering berkedip, dan dua pintu di ujung: kamar nomor 12 di sebelah kiri, dan kamar mandi bersama di sebelah kanan.
Tidak pernah ada pintu ketiga.
Sampai malam itu.
Jam menunjukkan pukul 01:13 ketika aku terbangun karena haus. Tenggorokanku kering, dan udara terasa pengap. Kipas angin di kamarku mati, padahal tadi sebelum tidur masih menyala.
Dengan malas, aku bangkit dari kasur, meraba-raba dinding mencari saklar.
Lampu menyala.
Sepi.
Aku membuka pintu kamar dan melangkah ke lorong.
Udara di luar terasa lebih dingin dari biasanya. Terlalu dingin untuk ukuran malam biasa.
Langkahku pelan, sandal menyeret lantai.
Lalu aku berhenti.
Di ujung lorong—
Ada sesuatu yang berbeda.
Aku menyipitkan mata.
Tiga pintu.
Aku menghitung lagi.
Satu.
Dua.
Tiga.
“Hah?”
Aku berdiri diam beberapa detik, mencoba memahami apa yang kulihat.
Mungkin aku masih mengantuk.
Mungkin ini cuma ilusi karena lampu redup.
Aku menggosok mata, lalu melihat lagi.
Tetap tiga.
Pintu ketiga itu berada di tengah, di antara kamar 12 dan kamar mandi. Warnanya lebih gelap. Seolah tidak cocok dengan lorong itu.
Perasaan tidak enak langsung muncul.
Aku melangkah mendekat.
Semakin dekat, udara terasa semakin dingin.
Aku berhenti tepat di depannya.
Tidak ada nomor kamar.
Hanya gagang pintu berwarna hitam.
Dan dari balik pintu itu… terdengar suara.
Pelan.
“…tolong…”
Aku langsung mundur.
Jantungku berdetak kencang.
“Siapa?” tanyaku pelan.
Tidak ada jawaban.
Lalu—
“…tolong buka…”
Tanganku gemetar.
Aku ragu.
Tapi suara itu terdengar nyata.
Aku mendekat lagi.
Tepat saat tanganku hampir menyentuh gagang—
klik.
Pintu terbuka sedikit.
Gelap di dalamnya.
“Mas…”
Suara perempuan.
“Tolong… aku gak bisa keluar…”
Aku menelan ludah.
“Kenapa…?”
Beberapa detik hening.
Lalu—
“Karena kamu belum masuk.”
Aku membeku.
Pintu terbuka lebih lebar.
Dari dalam… muncul tangan.
Pucat.
Sangat pucat.
Jari-jarinya panjang.
Meraih ke arahku.
“Mas…”
“Kamu udah lama di sini…”
Aku mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Kamu gak inget?”
Aku diam.
“Tiga bulan lalu… kamu masuk ke sini.”
Tubuhku langsung dingin.
“Itu gak mungkin.”
“Kamu masuk… dan keluar lagi.”
Napas ku mulai tidak teratur.
Aku mencoba mengingat…
Tapi kosong.
Tidak ada apa-apa.
Seolah ingatanku hilang.
“Kamu lupa, kan?” bisiknya.
Aku mundur.
“Enggak…”
“Semua yang masuk ke sini bakal lupa.”
Aku menatap pintu itu.
Gelap.
Dalam.
“Sebenernya… kamu gak pernah keluar,” katanya pelan.
Aku membeku.
“Yang keluar… bukan kamu.”
Jantungku seperti berhenti.
Dari dalam gelap… muncul sosok.
Seorang perempuan.
Perlahan wajahnya terlihat—
Dan aku langsung terpaku.
Itu aku.
Wajah itu milikku.
Tapi lebih pucat.
Matanya kosong.
Senyumnya aneh.
“Kita tukeran,” katanya.
“Aku capek di luar.”
Dia tersenyum lebar.
“Sekarang gantian kamu.”
Aku berbalik dan berlari.
Masuk ke kamar.
Mengunci pintu.
Napas ku terengah-engah.
“Ini mimpi… ini pasti mimpi…”
Lalu—
ketuk.
Dari pintu.
“Mas…”
“Udah waktunya.”
Aku mundur.
Ponselku menyala sendiri.
Kamera depan aktif.
Dan di layar—
Aku melihat diriku.
Tapi dia berdiri.
Padahal aku duduk.
Dia mendekat ke kamera.
Lalu berbisik—
“Aku udah di luar.”
Lampu mati.
Gelap.
Dan suara pintu terbuka terdengar pelan.
---
Keesokan paginya, kamar itu kosong.
Tidak ada penghuni.
Tidak ada barang.
Seolah tidak pernah ada orang di sana.
Namun satu hal yang berubah—
Di ujung lorong…
Ada tiga pintu.
Dan pintu ketiga itu…
Sedikit terbuka.