Jam dinding di kamarku berdetak pelan, menunjukkan pukul 23:47.
Malam itu terlalu sunyi.
Angin tidak terdengar. Kendaraan pun jarang lewat. Bahkan anjing tetangga yang biasanya ribut, malam itu diam. Seolah dunia benar-benar berhenti.
Aku duduk di kasur sambil memainkan ponsel, mencoba mengusir bosan.
Rumah terasa kosong.
Ibu belum pulang.
Dan entah kenapa… malam itu terasa berbeda.
Tiba-tiba—
getar.
Ponselku bergetar pelan di tangan.
Sebuah pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Aku mengerutkan kening. Jarang sekali ada nomor asing menghubungiku.
Dengan sedikit ragu, aku membuka pesan itu.
“Kamu sendirian di rumah?”
Aku menatap layar beberapa detik.
Aneh.
Tidak ada perkenalan. Tidak ada nama.
Hanya pertanyaan itu.
Aku berpikir mungkin ini salah kirim. Atau seseorang yang iseng.
Akhirnya aku membalas singkat.
“Ada apa?”
Tak butuh waktu lama, balasan langsung masuk.
“Jawab dulu.”
Alisku berkerut semakin dalam.
“Aku tanya dulu, ini siapa?”
Tidak ada balasan.
Aku menghela napas pelan, lalu menaruh ponsel di sampingku. Mungkin orang iseng.
Tapi beberapa detik kemudian—
getar.
Ponselku kembali bergetar.
Aku langsung mengambilnya.
“Jangan matiin lampu.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
Aku secara refleks menoleh ke arah lampu kamar yang menyala terang.
“Kenapa?” balasku cepat.
Beberapa detik berlalu.
“Dia suka datang kalau gelap.”
Tubuhku langsung merinding.
Aku tertawa kecil, mencoba menenangkan diri.
“Gak lucu ya,” ketikku.
Namun dalam hati, ada rasa tidak nyaman yang mulai muncul.
Aku berdiri dari kasur dan berjalan ke pintu kamar. Kubuka sedikit.
Ruang tamu gelap.
Sepi.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Aku menutup pintu kembali, mengunci dari dalam.
Saat aku kembali duduk di kasur—
getar.
Pesan baru masuk lagi.
“Jangan nengok ke belakang.”
Aku langsung membeku.
Tanganku yang memegang ponsel perlahan terasa dingin.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Aku mencoba menelan ludah.
“Kenapa?” balasku.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Lalu jawabannya datang.
“Kalau kamu nengok, dia bakal sadar kamu bisa lihat dia.”
Napas ku tercekat.
Aku langsung menatap lurus ke depan.
Tidak berani bergerak.
Tidak berani menoleh.
Ruangan tiba-tiba terasa lebih sempit.
Lebih gelap… meskipun lampu masih menyala.
“Apa maksudmu?” ketikku dengan jari gemetar.
Tidak ada balasan.
Hanya keheningan.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
getar.
“Dia udah di belakang kamu.”
Aku berhenti bernapas.
Seluruh tubuhku kaku.
Perlahan… sangat pelan… aku mulai merasakan sesuatu.
Hangat.
Seperti napas.
Tepat di tengkukku.
Air mataku langsung jatuh.
Ini gak mungkin.
Aku sendirian.
Aku yakin tadi aku sudah mengecek.
Aku ingin menoleh.
Tapi tubuhku menolak.
Ponselku kembali bergetar.
“Dia lagi senyum sekarang.”
Tanganku gemetar hebat.
Air mataku menetes tanpa henti.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku… tapi terasa berat.
Seperti ada sesuatu yang menahanku dari belakang.
“Apa maumu…” ketikku pelan.
Balasan datang hampir seketika.
“Aku cuma mau kamu lihat dia.”
Tiba-tiba—
Layar ponselku menyala terang.
Kamera depan aktif sendiri.
Aku langsung menatap layar.
Dan detik itu juga—
Darahku terasa berhenti mengalir.
Di layar itu…
Aku melihat diriku sendiri.
Duduk di kasur.
Memegang ponsel.
Persis seperti sekarang.
Tapi…
Wajah itu berbeda.
Matanya kosong.
Dan senyumnya—
Terlalu lebar.
Tidak manusiawi.
Aku tidak tersenyum.
Tapi dia… tersenyum.
Perlahan…
Sosok di layar itu mengangkat tangannya.
Dan melambaikan tangan ke arahku.
Padahal aku tidak bergerak sama sekali.
Aku menjatuhkan ponsel dengan teriakan kecil.
Napas ku tidak teratur.
“Ini gak mungkin… ini gak mungkin…”
Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel itu lagi.
Pesan baru muncul.
“Itu kamu.”
Aku menggeleng cepat.
“Bukan…”
“Versi yang udah mati.”
Dadaku terasa sesak.
Aku mencoba berdiri.
Aku ingin lari.
Tapi kakiku tidak bisa digerakkan.
Seolah ada sesuatu yang menahan dari belakang.
Lalu…
Aku merasakan sesuatu.
Sangat dekat.
Sangat nyata.
Sebuah tangan.
Dingin.
Menyentuh bahuku.
Air mataku jatuh deras.
Aku tidak berani menoleh.
Tidak berani bergerak.
Kemudian…
Sebuah bisikan terdengar tepat di telingaku.
Suara itu…
Adalah suaraku sendiri.
“…gantian ya.”
Lampu tiba-tiba mati.
Gelap total.
Sunyi.
Dan dalam kegelapan itu…
Aku akhirnya memberanikan diri menoleh.
—
Pagi harinya, ibu membuka pintu kamar.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Kasur rapi.
Tidak ada tanda-tanda kekacauan.
Hanya sebuah ponsel yang tergeletak di atas kasur.
Masih menyala.
Masih membuka chat terakhir.
Dan pesan terakhir yang terkirim adalah—
“Kamu sendirian di rumah?”
Seolah… cerita itu baru saja dimulai lagi.