Pelukan malam yang dingin menyelimuti tubuhku saat aku menekuk pundak di depan gerbang rumah yang sudah begitu akrab. Sepuluh hari yang lalu, aku masih bisa datang dengan mobil mewah, membawa oleh-oleh bagi semua orang. Kini, aku hanya berdiri dengan tas ransel yang sudah lapuk, dompet yang hanya menyisakan sepuluh ribu rupiah, dan hati yang penuh dengan harapan yang hampir pudar.
"Ada orang!" suara kakak ku yang kumengerti dari jauh terdengar dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka lebar. Wajahnya yang biasanya penuh senyum kini hanya menunjukkan tatapan sinis. "Oh, kamu ya. Aku kira orang penting datang."
"Aku pulang, Kak," ucapku dengan suara yang hampir tak terdengar.
Ayahku muncul dari belakang kakakku. Matanya mengintip ke arah kaki ku, seolah mencari jejak kemewahan yang dulu selalu kumunculkan. "Uangmu habis semuanya?" tanyanya langsung tanpa sapaan hangat.
Aku mengangguk perlahan. "Aku sudah mengurus semua hutang. Sekarang aku mau mulai dari awal—sudah ada perusahaan yang mau menerima aku untuk wawancara minggu depan. Aku yakin bisa bekerja dengan baik dan—"
"Tidak usah bohong sendiri!" putus kakakku dengan nada menyindir. "Dulu kamu sombong karena punya uang, sekarang mau bilang bisa kerja seperti orang biasa? Kalau benar kamu bisa, kenapa bisnismu runtuh begitu saja?"
Rasa sakit seperti tusukan jarum menusuk hatiku. Aku ingat ketika aku sukses, ayah selalu membanggakan diriku di depan teman-temannya, dan kakak selalu datang meminta bantuan keuangan untuk keperluan yang tak pernah jelas. Kini, ketika aku berada di titik terendah, mereka hanya bisa melihat kekuranganku.
"Aku masih anakmu, Bapak," ucapku dengan suara bergetar, menahan air mata yang ingin keluar. "Aku bukan hanya uang yang kubawa. Aku butuh kamu berdua untuk mendukungku, bukan menyakiti hatiku seperti ini."
Ayah hanya menghela nafas panjang dan berbalik pergi tanpa berkata apa-apa. Kakakku menutup pintu dengan keras, menyisakan aku sendirian di depan gerbang yang kini terasa seperti tembok yang tak bisa kupenuhi.
Aku berjalan ke taman kecil di belakang rumah, tempat dimana dulu ayah sering ajakku bermain dan cerita tentang impiannya. Duduk di atas batu yang pernah kita jadikan tempat duduk bersama, air mata akhirnya menetes bebas. Aku tidak mengerti mengapa cinta mereka hanya ada ketika aku punya uang. Apakah mereka benar-benar pernah mencintaiku sebagai anak dan saudara, atau hanya mencintai apa yang bisa kuberi?
Suara langkah kaki pelan membuatku terkejut. Ibumu berdiri di belakangku, membawa secangkir teh hangat. "Minum dulu, sayang," katanya dengan nada lembut, memberikan cangkir padaku. "Ayah dan kakakmu... mereka terbiasa melihat kamu sukses dengan mudah. Mungkin mereka takut kamu tidak bisa bangkit lagi, jadi mereka memilih untuk bersikap dingin. Tapi kamu harus tahu, cinta aku padamu tidak pernah bergantung pada apa yang kamu miliki."
Aku meraih cangkir teh itu, rasa hangatnya meresap hingga ke dalam jiwaku. Meskipun dukungan dari sebagian keluarga masih jauh dari harapanku, setidaknya aku tahu bahwa ada seseorang yang mencintaiku tanpa syarat. Dan itu menjadi kekuatan baru bagiku untuk menghadapi hari esok, untuk membuktikan bahwa nilai diriku bukan terletak pada jumlah uang di dompetku, melainkan pada semangat yang ada di dalam diriku.