Sore itu, langit Bandung berwarna abu-abu pekat, seolah ikut menanggung beban di pundak Dika. Di sebuah kafe kecil yang biasanya penuh tawa, Tino Tesla duduk berseberangan dengannya. Namun, tatapan pria itu bukan lagi milik Dika; tatapan itu dingin, kosong, dan asing.
"Dika, maaf. Aku nggak bisa lanjutin ini," ucap Tino datar, tanpa sedikit pun keraguan di nadanya.
Dika membeku, tangannya yang masih memegang kuas eyeliner di dalam tas—niatnya ingin tampil cantik untuk kencan ini—terasa gemetar. "Maksud kamu apa, Tin? Kita sudah bahas soal dekorasi pernikahan bulan depan. Orang tuaku sudah pesan gedung..."
Tino menghela napas panjang, seolah pembicaraan ini adalah beban yang melelahkan baginya. "Keluargaku sudah memilihkan orang lain. Dia... dia punya latar belakang yang lebih pas untuk karierku di Tesla Group. Kamu hebat, Dika. Kamu penata rias yang berbakat. Tapi dunia kita terlalu berbeda. Aku butuh seseorang yang bisa berdiri di sampingku di acara-acara besar perusahaan, bukan seseorang yang sibuk di belakang panggung merias orang lain."
Kalimat itu menghujam lebih dalam dari sekadar kata "putus". Tino tidak hanya mematahkan hatinya, tapi juga merendahkan profesi yang Dika cintai.
"Jadi, cinta kita cuma soal jabatan?" suara Dika tercekat.
"Ini soal realita, Dika. Maafkan aku." Tino berdiri, meletakkan kunci mobilnya, dan melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Dika tertunduk di meja itu. Air matanya jatuh, membasahi sketsa gaun pengantin yang diam-diam ia gambar di buku catatannya. Di saat itulah, Dika merasa dunianya berhenti berputar. Dia merasa kecil, merasa "hanya" seorang penata rias daerah yang tidak layak bersanding dengan "pria hebat" seperti Tino.
Penghinaan itulah yang membuatnya menutup diri dan pindah ke kontrakan kecil di pinggiran Bekasi, mencoba menghapus jejak Tino dari ingatannya.
Dunia Dika bertambah runtuh tepat saat Tino Tesla memilih untuk mengucapkan janji suci di depan altar—namun bukan dengan dirinya. Dinda Kartika, atau Dika, merasa seperti sisa riasan wajah yang luntur tersiram hujan: berantakan dan tak berbentuk.
Untuk bertahan hidup, Dika menenggelamkan diri dalam kuas-kuas make-up. Sebagai penata rias di daerah Bekasi, jemarinya sibuk memoles wajah pengantin lain setiap akhir pekan, sementara hatinya sendiri mati rasa. Namun, sekuat-kuatnya tembok yang ia bangun, sepi tetap merayap masuk saat malam tiba di kontrakannya yang sederhana.
Suatu malam, dalam keputusasaan yang kekanak-kanakan, Dika menghubungi Realita Puja (Lita), sahabat lamanya yang kini menjadi wartawan di kantor berita internasional di Jakarta.
"Lit, aku kesepian. Cariin aku kenalan, siapa aja. Yang sederhana aja, asal bisa diajak ngobrol," isak Dika di telepon.
Lita yang merasa iba namun juga ingin mengerjai sahabatnya itu menjawab, "Ada nih, namanya Adit. Dia cuma satpam di kantorku. Orangnya kaku tapi baik. Mau?"
Dika setuju. Baginya, seorang satpam terdengar jujur dan tidak mengintimidasi. Sejak saat itu, hari-hari Dika diwarnai pesan singkat dari pria bernama Adit. Adit tidak banyak bicara, tapi setiap kalimatnya menenangkan. Dia sering bertanya apakah Dika sudah makan atau bagaimana hasil riasannya hari ini.
Beberapa bulan berlalu, sebuah kejutan terjadi. Pemilik rumah kontrakan di sebelah rumah Dika—sebuah rumah besar yang lama kosong—akhirnya pulang. Saat Dika sedang menyapu teras dengan daster dan rambut dicepol asal, sebuah mobil mewah berhenti. Sosok pria tinggi turun, mengenakan kemeja rapi yang sangat mahal.
"Mbak Dika?" suara itu sangat familiar.
Dika mengerutkan kening. "Mas... Adit? Kok... satpam naik mobil begini?"
Pria itu tersenyum tipis, sedikit merasa bersalah. "Lita benar-benar keterlaluan ngerjain kita. Saya Aditya Wijayanto, Dika. Saya bukan satpam. Saya... yang punya kantor tempat Lita bekerja."
Dika mematung. Ternyata, "Satpam" yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah seorang CEO media internasional, atasan sahabatnya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, rumah besar di sebelah kontrakannya adalah rumah tua milik keluarga besar Adit yang baru saja selesai direnovasi untuk ditempati Adit secara pribadi agar lebih dekat dengan proyek barunya di pinggiran kota.
Adit mendekat, jarak mereka kini hanya terhalang pagar rendah. "Lita bilang kamu butuh teman yang sederhana. Jadi saya mencoba menjadi sesederhana mungkin di pesan singkat. Tapi soal perasaan saya... itu tidak sederhana, Dika."
Dika yang awalnya merasa tertipu, perlahan luluh melihat ketulusan di mata Adit. Adit tidak memandang Dika sebagai "hanya penata rias daerah", melainkan wanita tangguh yang mampu bangkit dari luka.
Tino Tesla hanyalah bab lama yang tintanya sudah kering. Di bawah langit Bekasi yang seringkali panas, Dika menemukan kesejukannya sendiri. Ternyata, cinta tidak perlu dicari jauh-jauh ke gedung pencakar langit Jakarta, karena takdir sudah menyiapkannya tepat di balik tembok tetangga sebelah.
Dika tidak lagi merias pengantin dengan hati yang iri, karena sebentar lagi, jemari Adit sendiri yang akan menyingkap cadar pengantinnya di pelaminan yang mereka bangun di halaman rumah besar itu.