Area pertambangan batu bara di Kalimantan Timur selalu identik dengan debu, deru mesin raksasa, dan teriknya matahari. Di sanalah Adreana Ramadhani, atau yang akrab disapa Eni, menghabiskan harinya sebagai staf administrasi kantor logistik. Eni adalah sosok wanita yang sabar, mungkin terlalu sabar, terutama jika menyangkut satu nama: Syah Rahman (Aman).
Aman adalah operator forklift handal di gudang utama. Perawakannya tegap, bicaranya manis, dan senyumnya selalu berhasil meluluhkan hati Eni. Namun, di balik itu, Aman punya penyakit lama yang sulit sembuh: ketidaksetiaan.
Badai pertama datang saat perusahaan menerima karyawan kontrak baru di bagian checker bernama Filla. Gadis itu muda dan ceria. Eni mulai curiga saat Aman sering pulang terlambat dengan alasan lembur di gudang, namun laporan kerjanya tidak menunjukkan adanya aktivitas ekstra.
Puncaknya, Eni memergoki Aman sedang asyik makan siang berduaan di belakang gudang dengan Filla, tangan mereka bertautan mesra. Hati Eni hancur. Malam itu, di depan barak karyawan, Aman berlutut.
"Eni, maafkan aku. Aku khilaf. Filla yang terus mendekatiku. Aku hanya mencintaimu," ucap Aman dengan mata berkaca-kaca.
Karena rasa sayang yang teramat dalam, Eni luluh. Ia memberikan kesempatan kedua, percaya bahwa Aman akan berubah.
Keadaan membaik selama beberapa bulan, sampai akhirnya Aman sering beralasan ingin mencari suasana baru dengan makan di luar area tambang. Eni tidak menaruh curiga, hingga suatu hari temannya mengirimkan foto Aman di sebuah gerai KFC di kota terdekat.
Aman tidak sendirian. Dia tampak sangat akrab dengan salah satu pelayan di sana bernama Rianti. Bukan sekadar pelanggan dan pelayan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Penyelidikan Eni berujung pada kenyataan pahit: Aman sudah menjalin hubungan gelap dengan Rianti selama berminggu-minggu.
"Lagi, Man? Kenapa harus Rianti?" tangis Eni pecah di kantor logistik.
Sekali lagi, Aman mengeluarkan jurus andalannya. Ia memutus kontak dengan Rianti di depan mata Eni, memohon ampun, dan bersumpah demi apa pun bahwa Eni adalah pelabuhan terakhirnya. Dan sekali lagi, karena "cinta adalah buta", Eni memaafkannya meskipun luka di hatinya sudah penuh jahitan.
Namun, manusia punya batas. Setelah pengkhianatan Rianti, hubungan mereka menjadi hambar. Rasa percaya Eni sudah terkikis habis. Ia mulai merasa lelah terus-menerus menjadi polisi bagi pasangannya sendiri. Akhirnya, Eni memutuskan untuk berhenti. Ia meminta mutasi ke kantor pusat di kota lain, memutus komunikasi dengan Aman, dan mencoba menata hidupnya kembali.
Dua tahun berlalu tanpa kabar. Eni tumbuh menjadi wanita yang lebih mandiri dan kuat, meski ia tidak pernah benar-benar membuka hati untuk pria lain. Luka dari Aman terlalu dalam untuk ditutup oleh orang baru.
Suatu hari, Eni harus kembali ke lokasi tambang lama untuk audit tahunan. Saat ia berjalan melewati gudang logistik, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya. Aman masih di sana, duduk di atas forklift-nya, namun penampilannya berbeda. Ia tampak lebih dewasa, lebih tenang, dan matanya terlihat kosong.
Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Aman turun dari mesinnya, berjalan perlahan menghampiri Eni. Tidak ada rayuan manis seperti dulu.
"Eni... kamu kembali?" suara Aman parau.
Aman bercerita bahwa sejak Eni pergi, hidupnya berantakan. Ia menyadari bahwa Filla, Rianti, dan wanita-wanita lainnya hanyalah pelarian sesaat yang tidak pernah memberikan ketenangan seperti yang diberikan Eni. Ia mengaku sudah berubah, sudah berhenti bermain api, dan fokus pada pekerjaannya sambil berharap suatu saat bisa meminta maaf dengan layak.
Sore itu, di bawah langit tambang yang mulai menguning, Aman menggenggam tangan Eni. "Aku tahu aku tidak pantas. Tapi dua tahun tanpamu memberitahuku satu hal: rumahku hanya kamu, En. Bisakah kita mulai dari awal? Bukan sebagai orang yang penuh rahasia, tapi sebagai dua orang yang belajar dari kesalahan?"
Eni menatap mata Aman. Ia melihat kejujuran yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Hatinya yang selama ini beku mulai mencair. Mungkin benar kata orang, cinta lama belum kelar karena memang ditakdirkan untuk diperbaiki.
"Jangan buat aku menyesal lagi, Aman," bisik Eni pelan.
Aman tersenyum lebar, kali ini tanpa rahasia. Mereka berjalan beriringan meninggalkan debu tambang, memulai babak baru dari kisah lama yang sempat patah.