Suara dentuman bola padel yang menghantam dinding kaca bergema di seluruh lapangan indoor sore itu. Reva Angeline, dengan kuncir kuda yang bergoyang mengikuti gerakannya yang lincah, baru saja melakukan smash keras yang tak terjangkau lawannya. Keringat bercucuran di pelipisnya, tapi matanya memancarkan kepuasan yang dingin.
Bagi orang lain, padel adalah hobi. Bagi Reva, padel adalah pelarian.
Dua tahun lalu, dunianya hancur saat Anando Sevatanto—Nando—memutuskan hubungan mereka begitu saja demi perempuan lain yang dianggapnya lebih "sefrekuensi". Patah hati itu mengubah Reva. Ia melampiaskan seluruh amarah dan kecewa pada raket dan bola. Kini, ia dikenal sebagai "Ratu Padel" karena kemampuannya yang di atas rata-rata, meski hatinya tetap ia gembok rapat-rapat.
Reva duduk di bangku tepi lapangan, meneguk air mineral saat ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi Instagram muncul.
@jourdy.prayoga: "Teknik backhand yang bagus. Tapi sepertinya ada sedikit kemarahan di tiap pukulannya?"
Reva mengernyit. Jourdy Prayoga? Didy? Atlet basket timnas yang baru saja dikontrak klub liga Eropa itu? Seluruh Indonesia tahu siapa Didy. Dia tampan, berprestasi, namun dikenal sangat dingin dan tertutup sejak ditinggal nikah oleh kekasih masa lalunya.
Reva hanya membalas singkat, "Tahu apa atlet basket soal padel?"
Siapa sangka, balasan itu menjadi awal dari percakapan panjang. Didy, yang biasanya enggan berurusan dengan wanita, merasa ada magnet aneh pada Reva. Mungkin karena mereka berbagi luka yang sama: luka ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya.
Pertemuan pertama mereka terjadi di lapangan padel langganan Reva. Didy muncul dengan jaket hoodie hitam, mencoba menyembunyikan identitasnya.
"Aku ingin belajar padel. Katanya pelatih terbaik di sini adalah kamu," ucap Didy datar, namun matanya menatap Reva dalam.
Awalnya, Didy sangat kaku. Sikap dinginnya sering membuat suasana canggung. Namun, Reva melihat sisi lain. Saat Didy gagal memukul bola, dia tidak marah, melainkan tertawa kecil pada dirinya sendiri—sebuah tawa yang terdengar sangat kesepian.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin main padel, Didy?" tanya Reva suatu sore saat mereka beristirahat di pinggir lapangan.
Didy terdiam lama, menatap bola di tangannya. "Bosan lari di lapangan basket. Aku butuh sesuatu yang memaksa aku tetap fokus agar tidak memikirkan masa lalu. Ternyata, kamu melakukan hal yang sama, kan?"
Reva tertegun. Untuk pertama kalinya, ada orang yang bisa membaca alasan di balik obsesinya pada olahraga ini. Sejak hari itu, tembok di antara mereka perlahan runtuh. Didy mulai sering mengirimkan pesan penyemangat sebelum Reva bertanding, dan Reva menjadi orang pertama yang menelepon Didy setelah laga basket internasionalnya berakhir.
Ujian datang saat Nando tiba-tiba muncul kembali. Di sebuah turnamen padel bergengsi, Nando datang membawa buket bunga besar, mencoba memohon maaf dan mengajak Reva kembali.
"Reva, aku salah. Aku sadar tidak ada yang sehebat kamu," ucap Nando di depan banyak orang.
Reva membeku. Luka lama itu berdenyut kembali. Namun, sebuah tangan kokoh mendarat di bahunya. Didy berdiri di sana, menatap Nando dengan tatapan tajam yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawan di lapangan basket.
"Dia bukan lagi seseorang yang bisa kamu beli dengan bunga, Nando," suara Didy berat dan tenang. "Dia sudah menemukan pasangan yang tahu cara menjaga, bukan cara meninggalkan."
Reva menatap Didy, lalu menatap Nando. Ia menyadari satu hal: Nando adalah masa lalu yang membuatnya terluka, tapi Didy adalah masa kini yang membantunya sembuh.
"Pergi, Nan. Aku sudah punya tujuan baru," ucap Reva mantap.
Satu tahun kemudian, di sebuah lapangan basket megah di Spanyol setelah pertandingan besar, Didy menarik Reva ke tengah lapangan yang sudah sepi dari penonton.
"Reva, dulu aku pikir hidupku hanya soal mencetak angka di ring. Tapi sejak bertemu kamu, aku sadar poin terpenting dalam hidupku adalah memilikimu di sampingku," Didy berlutut, mengeluarkan sebuah kotak cincin kecil. "Mau jadi rekan satu timku selamanya?"
Reva menangis bahagia. Ia memeluk Didy erat, mengiyakan lamaran itu di bawah lampu stadion yang terang. Si Ratu Padel dan Sang Bintang Basket akhirnya menemukan kemenangan yang sesungguhnya: sebuah cinta yang lahir dari luka, namun tumbuh menjadi kebahagiaan yang sempurna.