Di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta Pusat yang seolah hendak menusuk langit, Veronica Liem—yang akrab disapa Vera—duduk terpaku di meja kerjanya. Jarinya ragu di atas layar ponsel. Di sana, deretan pesan untuk Romeo Tan atau yang lebih dikenal sebagai Romi masih setia dengan status centang abu-abu.
Romi adalah rekan setimnya di firma arsitektur ternama. Pria itu dingin namun jenius, tipe yang lebih suka bicara lewat sketsa daripada kata-kata. Sudah tiga bulan Vera terjebak dalam "ruang tunggu" digital ini. Pesannya—mulai dari urusan revisi maket hingga ajakan kopi sore—seringkali hanya berujung centang abu-abu, seolah Romi sengaja mematikan notifikasi untuk dunianya.
"Sampai kapan aku cuma jadi centang abu-abu di hidupmu, Romi?" bisiknya pelan, kalah oleh bising suara klakson dari arah Bundaran HI di luar jendela.
Perasaan tidak pasti makin mengganjal ketika Clara Alianna, rekan kerja dari divisi pemasaran, mulai sering muncul di sekitar meja Romi. Wanita itu selalu datang dengan senyum manis dan membawa kopi spesial yang diketahui sebagai favorit Romi. "Romi, aku sudah sesuaikan konsep promosi dengan desainmu lho. Mau kita diskusikan di kafe dekat sini sore ini?" ajak Clara sembari menyandingkan kursinya dengan Romi, membuat Vera yang sedang melihat dari kejauhan merasa tersisih.
Hari berikutnya, Vera bahkan sudah menyusun surat permintaan pindah tim ke kantor cabang Surabaya. Ia merasa tidak berdaya menghadapi kedekatan Clara dan kebisuan Romi yang semakin membuatnya meragukan diri. "Mungkin aku memang tidak cocok bekerja bareng dengan orang yang aku kagumi," gumamnya sambil menekan tombol cetak pada surat tersebut.
Suatu sore, sebuah proyek besar datang. Mereka harus mempresentasikan desain renovasi museum tua di jantung ibu kota dalam waktu 48 jam. Namun tantangan tambahan muncul—manajemen perusahaan memberikan target bahwa desain harus memadukan nilai sejarah dengan konsep masa depan, dan jika gagal, proyek akan dialihkan ke tim lain yang dipimpin langsung oleh Clara.
Selama dua hari itu, mereka terkunci di ruang rapat. Tidak ada ponsel, hanya ada tumpukan kertas kalkir dan aroma kopi yang menguat. Di sela-sela kesibukan, Vera melihat sisi lain Romi. Pria itu tidak sedingin layarnya. Ia teliti, ia menjaga agar Vera tetap makan, dan ia mendengarkan setiap ide Vera dengan binar mata yang tidak bisa bohong. Saat Vera mengungkapkan rasa khawatirnya tentang proyek dan keberadaan Clara, Romi hanya mengangguk perlahan. "Aku tahu kamu khawatir, Vera. Tapi percayalah, hanya ide kamu yang bisa menghidupkan museum itu."
Namun, tiap kali Vera melirik ponselnya yang tergeletak di sudut meja, ia diingatkan pada kebisuan Romi di dunia maya dan senyum Clara yang selalu menghampirinya.
Malam presentasi usai. Mereka berhasil. Saat hendak pulang, Vera memberanikan diri. "Romi, kenapa kamu hampir nggak pernah membalas pesanku sampai centang biru? Apa aku sebosan itu? Atau sudah ada orang lain yang lebih penting bagimu dari padaku?"
Romi terdiam di lobi kantor yang mulai sepi. Ia merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah ponsel tua yang layarnya retak parah.
"Vera, ponsel ini jatuh saat aku terburu-buru mengejar jadwal rapat bersamamu bulan lalu. Layarnya mati total, tapi aku nggak mau menggantinya karena ada rekaman suara mendiang ibuku di dalamnya yang belum sempat kupindahkan. Clara memang sering menghampiriku, tapi hanya untuk urusan kerja—aku sudah bilang padanya bahwa hatiku sudah ada di tempat lain."
Vera tertegun. "Lalu... selama ini?"
"Aku membaca semua pesanmu dari laptop kantor secara sekilas lewat notifikasi desktop, tapi aku nggak bisa membalasnya secara pribadi karena akun WhatsApp-ku terikat pada nomor di ponsel rusak ini. Aku ingin menjawabmu langsung, tapi aku terlalu gengsi untuk bilang kalau seorang arsitek sukses sepertiku terlalu ceroboh untuk merusak ponselnya sendiri."
Romi kemudian melangkah mendekat, memberikan sebuah kotak kecil yang selama ini ia simpan di laci meja. "Aku tahu centang biru itu penting bagimu sebagai tanda kepastian. Tapi karena aku belum bisa memberimu centang biru di aplikasi..."
Ia membuka kotak itu. Di dalamnya bukan cincin, melainkan sebuah ID Card baru untuk kantor cabang mereka di Paris yang baru saja disetujui. Di bawah foto Vera, tertulis jabatan: Lead Architect.
"Pergilah bersamaku ke Paris bulan depan. Di sana, aku janji tidak akan ada lagi centang abu-abu. Aku akan menjawabmu langsung di depan mata, setiap hari."
Ternyata, selama ini Romi bukan sengaja mengabaikan, melainkan diam-diam menyiapkan mutasi promosi agar mereka bisa memulai hidup baru di kota paling romantis, jauh dari hiruk pikuk Jakarta Pusat yang melelahkan dan juga untuk menjawab rasa cinta yang telah ia simpan lama untuk Vera.