Senja di Jakarta selalu punya warna yang sama: jingga yang lelah. Di sudut perpustakaan kota yang sepi, Aris masih setia dengan rutinitasnya. Menunggu. Bukan menunggu hujan reda, tapi menunggu punggung yang selalu menghilang di balik rak buku nomor 09.
Namanya Clara. Gadis dengan kuncir kuda berantakan dan aroma buku tua yang selalu melekat di bajunya. Bagi Aris, Clara bukan sekadar teman sekelas sepuluh tahun lalu; dia adalah cinta pertama yang tidak pernah benar-benar selesai.
"Masih suka baca sastra Rusia?" sebuah suara membuyarkan lamunan Aris.
Aris menoleh. Jantungnya berdegup, jenis debaran yang sama seperti saat ia memberikan cokelat yang meleleh di tas sekolah Clara dulu. Clara berdiri di sana, tersenyum tipis.
"Beberapa hal memang susah berubah, Ra," jawab Aris canggung.
Mereka duduk bersisian di meja kayu panjang. Tidak ada ledakan kembang api, hanya suara lembaran kertas yang dibalik. Namun bagi Aris, keheningan ini lebih berisik dari apapun. Ia ingat bagaimana dulu ia hanya berani memandangi Clara dari jauh, menggambar sketsa wajah gadis itu di bagian belakang buku catatannya.
"Kenapa dulu kamu nggak pernah bilang?" tanya Clara tiba-tiba, matanya masih menatap deretan kata di bukunya.
Aris tertegun. "Bilang apa?"
"Kalau aku adalah alasan kamu mendadak jadi rajin ke perpustakaan sepuluh tahun lalu." Clara menutup bukunya, lalu menatap Aris lekat-lekat. "Aku tahu, Ris. Aku tahu setiap kali kamu pura-pura cari buku, padahal cuma mau duduk di depanku."
Aris tertawa kecil, rasa malunya yang dulu kini terasa lucu. "Aku cuma takut. Takut kalau aku bilang, dunia yang tenang ini bakal hancur. Aku nggak mau kehilangan satu-satunya tempat di mana aku bisa melihatmu setiap hari."
Clara terdiam sejenak, lalu merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan usang yang sampulnya sudah mengelupas. Ia membukanya di halaman terakhir dan menggesernya ke arah Aris.
Di sana, ada sebuah sketsa wajah Aris yang sedang tertidur di atas meja perpustakaan. Di bawahnya tertulis sebuah tanggal dari masa SMA mereka, dan satu kalimat singkat:
"Kamu adalah cinta pertamaku yang paling rahasia."
Aris terpaku. Ternyata selama ini, mereka hanya dua orang yang saling mengamati dari balik rak buku yang sama, terjebak dalam rasa yang tak berani diucap, menunggu waktu yang tepat yang tak kunjung datang.
"Jadi... kita terlambat sepuluh tahun?" bisik Aris.
Clara menggeleng, lalu menggenggam tangan Aris di atas meja. "Enggak. Kita cuma butuh sepuluh tahun untuk akhirnya berani membuka halaman yang sama."