Aula universitas terasa dingin dan sunyi. Ratusan peserta duduk di meja masing-masing dengan wajah tegang. Lembar soal masih tersegel di atas meja kayu. Semua orang menunggu aba-aba.
Alana meremas pulpennya pelan.
Di sampingnya, Gavin duduk tegak tanpa bicara. Wajahnya terlihat sangat fokus. Tidak ada senyum atau ejekan seperti biasanya.
"Waktu dimulai, sekarang."
Segel kertas langsung dibuka. Suara kertas berdesir memenuhi ruangan. Alana membaca soal pertama dengan cepat.
Angka-angka langsung memenuhi kepalanya.
Dia mulai menulis.
Gavin sudah lebih dulu bergerak. Tangannya menulis stabil seperti mesin yang tidak ragu. Alana menarik napas panjang sebelum kembali ke kertasnya.
Dua jam pertama berjalan tanpa terasa.
Alana sampai pada soal nomor tiga puluh. Soal itu jauh lebih rumit dari yang lain.
Dia menghitung sekali.
Lalu dua kali.
Jawabannya tetap tidak masuk akal.
Alana menghapus hitungannya.
Panik mulai muncul pelan.
Tangannya berhenti bergerak.
Di sampingnya Gavin sedikit menggeser posisi duduk.
Tangannya mengetuk meja pelan.
Tok. Tok. Tok.
Pola ketukan yang sangat familiar.
Alana menoleh sekilas.
Itu kode latihan mereka.
Tenang. Fokus. Lihat dari sudut lain.
Alana menutup matanya selama tiga detik. Dia menarik nafas perlahan. Lalu kembali melihat soal itu.
Kali ini dia mencoba cara berbeda.
Metode eliminasi.
Beberapa angka mulai cocok.
Satu per satu variabelnya jatuh ke tempat yang benar.
Alana akhirnya menemukan jawabannya.
Dia langsung menulis dengan lebih cepat.
Soal berikutnya terasa lebih ringan.
"Sepuluh menit terakhir."
Suara pengawas terdengar dari depan aula. Beberapa peserta mulai terlihat panik.
Alana mengecek ulang jawabannya.
Tidak ada yang terlewat.
Di sampingnya Gavin sudah meletakkan pulpen.
Dia bersandar santai di kursinya.
Alana ikut menutup lembar jawabannya.
Bel terakhir berbunyi nyaring.
Semua peserta berdiri hampir bersamaan.
Aula langsung dipenuhi suara langkah kaki.
Alana dan Gavin keluar menuju balkon kampus.
Udara sore terasa jauh lebih segar.
Mereka berdiri di pagar pembatas.
"Gimana soal nomor tiga puluh?" tanya Gavin.
Alana menoleh ke arahnya.
"Susah," jawabnya jujur.
"Tapi ketukan meja lo bantu gue mikir lagi."
Gavin tersenyum miring.
Dia mengambil tisu dari sakunya.
"Wajah lo penuh tinta, Sang Seniman."
Sebelum Alana sempat bereaksi, Gavin menyeka noda tinta di pipinya.
Sentuhannya pelan.
Alana langsung terdiam.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Angin sore bertiup melewati balkon.
Gavin akhirnya menjauh sedikit.
"Pengumuman jam tujuh malam," katanya.
"Siap jadi nomor satu?"
Alana tersenyum.
Senyum yang jauh lebih ringan dari biasanya.
"Kalau gue yang menang," katanya.
"Lo harus nurutin satu permintaan gue."
Gavin mengangguk tanpa ragu.
Alana berjalan menuju lobi hotel.
Langkahnya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.