Aku masih di sini, di sudut yang sama. Namaku Erlina Taufik—panggil saja aku Na. Nama yang selalu terdengar seperti melodi saat Nanda Atmajaya mengucapkannya.
Aku menunggu Nan. Tapi ruang ini mulai terasa asing. Pelayan berlalu-lalang seolah aku hanyalah udara, dan cangkir kopi di depanku tak lagi mengeluarkan asap. Meja kayu yang dulu sudah hafal letak siku tanganku kini terasa dingin dan asing di bawah pandanganku.
Pikiranku terseret kembali ke malam itu—pertemuan terakhir kami di meja yang sama. Nan menggenggam tanganku, matanya menatapku lekat, seolah sedang menghafal setiap garis di wajahku.
"Na," bisiknya saat itu. "Kalau suatu saat nanti semuanya terasa tidak nyata, ingatlah satu hal: aku akan selalu pulang ke sudut kafe ini untuk mencarimu."
"Kenapa bicara begitu?" tanyaku sambil tertawa kecil, meski hatiku berdesir dengan rasa tidak nyaman yang tak bisa kutangkap.
Nan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya melepaskan genggamannya perlahan, lalu memberikan sebuah jam tangan kecil yang jarumnya tidak bergerak. "Simpan ini. Selama jarumnya tidak berputar, artinya waktu kita tidak akan pernah habis. Kita akan tetap di sini, nyata atau tidak."
Sekarang, di masa kini, pintu kafe berdenting. Nan masuk dengan jaket yang biasa ia pakai, wajahnya yang selalu kurindukan tetap sama—namun sorot matanya terasa jauh. Ia berjalan melewatiku begitu saja, seolah aku hanya bagian dari dekorasi ruangan, lalu duduk di kursi tepat di belakangku.
Nan mengeluarkan ponsel, tersenyum pada layar, dan berbisik pelan pada kekosongan, "Aku sudah sampai, Sayang."
Aku merogoh saku, mencari jam tangan pemberiannya. Jarumnya masih diam membeku di angka yang sama. Aku mencoba melihat tanganku sendiri di bawah lampu kafe—jari-jariku mulai terasa tipis, bahkan sedikit transparan.
"Nan, jamnya masih mati," bisikku parau. "Tapi kenapa kamu nggak bisa lihat aku?"
Nan hanya terdengar mendesis ringan, merapatkan jaketnya, lalu bergumam, "Tiba-tiba dingin ya di sini." Ia menoleh ke arah suaraku, tapi matanya hanya menatap kosong ke udara.
Saat aku melihat pantulan di cermin besar di dinding kafe, yang kulihat hanyalah kursi kosong dan secangkir kopi yang sudah berdebu selama bertahun-tahun. Aku mulai bertanya-tanya: apakah aku sedang menunggu kepulangannya, atau aku hanyalah gema dari janji yang ia lupakan?