Bau alkohol dan obat-obatan masih terasa mengganggu hidungku setiap kali aku menutup mata. Rumah sakit memang bukan tempat yang nyaman untuk berlama-lama, tapi setiap senyum dan tanggapan hangat dari perawat serta dokter membuat rasa tidak nyaman itu sedikit berkurang. Mereka benar-benar peduli, tidak hanya dengan kondisi tubuhku, tapi juga dengan perasaanku. Aku berterima kasih dari lubuk hati untuk semua perhatian yang mereka berikan selama aku dirawat.
Hari itu akhirnya tiba – aku bisa pulang ke rumah. Udara segar yang menyapa saat pintu mobil terbuka terasa begitu nikmat. Tapi tak lama setelah aku memasuki rumah dan duduk santai di sofa, deretan pintu bel diketuk berulang kali. Beberapa tetangga dan teman datang berkumpul, membawa semangkuk makanan hangat dan amplop berisi uang.
"Semoga cepat sembuh ya," ucap mereka sambil menaruh hadiah di mejaku. Wajah mereka menunjukkan keprihatinan yang tulus, tapi saat mereka mulai berbisik-bisik di sudut ruangan, suaranya meskipun pelan tetap terdengar jelas di telingaku.
"Apa kamu pikir dia benar-benar sakit? Atau hanya berpura-pura untuk dapat uang?"
Kalimat itu seperti jarum yang menusuk hatiku. Aku merasa dada sedikit sesak dan wajahku menjadi panas. Tapi aku segera mengangkat dagu. Aku tahu niat mereka yang memberika uang memang baik, meskipun ada yang memiliki prasangka salah.
Aku mengambil amplop itu dan menyimpannya dengan hati-hati. Daripada membiarkan omongan mereka membuatku merasa buruk, aku memutuskan untuk menggunakan uang itu dengan sebaik-baiknya – membeli obat-obatan yang diperlukan dan beberapa kebutuhan rumah tangga untuk keluarga.
Di malam hari, aku duduk di depan jendela sambil melihat langit yang mulai berubah warna. Aku menutup mata sejenak dan mengingat semua orang yang sungguh-sungguh merawatku. Kebaikan mereka adalah hal yang akan selalu kutanamkan di dalam hati, jauh lebih berharga daripada segala omongan yang tidak berdasar.