Hujan tipis mengguyur Jakarta ketika Gianna Arunika menatap layar laptopnya untuk kesekian kali malam itu. Sudut matanya lelah, tapi pikirannya lebih lelah lagi.
Tiga tahun bersama Algra Darendra, sejak mereka sama-sama bergelut dengan mata kuliah Manajemen Bisnis di Fakultas Ekonomi terasa seperti bab panjang yang penuh coretan. Algra selalu tampak sempurna di depan orang lain, percaya diri, cerdas, karismatik. Namun Gianna mulai menyadari sesuatu yang berbeda dalam tatapan Algra akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang berat, seperti tangan yang menggenggam terlalu erat.
***
Malam itu, sebuah acara jamuan bisnis di rooftop hotel bintang lima di kawasan Sudirman mempertemukan sejumlah mitra perusahaan. Gianna hadir mewakili Divisi Pemasaran PT. Dirgantara Nusantara, perusahaan tempat ia bekerja. Langit-langit kaca itu memantulkan gemerlap lampu kota, indah sekaligus terasa asing.
Algra juga hadir di sana, mewakili perusahaan bisnisnya sendiri. Ia mendekati Gianna dengan senyum yang sudah hafal ia baca, menawarkan segelas minuman.
“Santai saja, Gi. Ini malam yang panjang.”
Gianna meminumnya pelan. Rasanya sedikit pahit di ujung lidah, tapi ia mengabaikannya.
Belum lama berselang, kepalanya mulai berdenyut. Kakinya terasa berat. Pandangannya kabur. Algra menggandeng lengannya dengan dalih mengantarnya beristirahat, ke sebuah ruangan sepi di lantai bawah.
Ketika Gianna tersadar sebagian, ia mendapati tangannya sudah tidak bebas. Algra ada di sisinya, dan niatnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
“Algra...“ suaranya gemetar, tapi ia memberontak sekuat sisa kesadarannya.
Pintu terbuka keras.
Seseorang masuk.
Aksa Dirgantara tidak pernah merencanakan malam itu. CEO termuda yang selama ini dikenal tenang dan terukur itu hanya kebetulan melewati koridor tersebut ketika mendengar suara yang tidak beres.
Ia tidak banyak bicara. Satu pukulan keras mengirim Algra mundur jauh. Suaranya dingin tapi tangannya cepat, melepas jas hitamnya dan menyelimutkan ke tubuh Gianna yang bergemetaran.
“Kamu aman sekarang,” katanya, hanya itu.
Ia menggendong Gianna keluar dari ruangan itu, memanggil sopirnya, dan mengantarkannya pulang ke apartemen Gianna di kawasan Menteng tanpa sepatah pun pertanyaan yang tidak perlu.
***
Hari-hari setelahnya, Gianna memilih diam. Ia ke kantor, mengerjakan tugasnya, dan pulang. Tapi Aksa, yang biasanya hanya terlihat dalam rapat formal, kini tiba-tiba menjadi sosok yang ada.
Bukan dengan cara yang memaksa. Ia menaruh secangkir teh hangat di meja Gianna suatu pagi tanpa berkata apa-apa. Mengajaknya makan siang di warung soto sederhana dekat kantor karena “lebih jujur rasanya daripada restoran fancy.” Ia bercerita soal betapa ia dulu salah jurusan dan hampir berhenti kuliah kedokteran di semester tiga, lalu tertawa pelan pada dirinya sendiri.
Gianna tidak langsung terbuka. Tapi perlahan, ia menemukan bahwa Aksa tidak pernah menuntutnya untuk menjadi apapun.
Sementara itu, Algra tidak menyerah. Ia mengirim pesan, menunggu di lobi kantor, bahkan sekali pernah mengikuti Gianna hingga parkiran. Aksa selalu ada—bukan secara kebetulan, Gianna menyadarinya kemudian. Ia diam-diam memastikan Gianna tidak pernah sendirian di tempat yang rawan.
“Kamu tidak harus kuat terus,” kata Aksa suatu sore di taman belakang kantor. “Boleh takut. Aku di sini.”
***
Pengakuan itu datang di malam yang biasa, di kantin kantor yang sudah sepi, di bawah cahaya neon yang berkedip-kedip.
“Aku suka kamu sejak lama,” kata Aksa, menatap cangkir kopinya lebih dulu sebelum akhirnya menatap Gianna. “Waktu kita masih satu kampus. Kamu tidak ingat aku, aku tahu. Tapi aku ingat kamu, yang selalu duduk di taman tengah sambil baca buku dengan muka serius tapi sesekali senyum sendiri.”
Gianna terdiam.
“Aku tidak minta kamu langsung percaya. Tapi aku ingin kamu tahu.”
Perjalanan itu tidak mudah. Gianna butuh waktu. Trauma itu nyata, dan kepercayaannya sudah pernah hancur. Lalu datang pula bayangan masa lalu Aksa, mantan kekasihnya yang tiba-tiba muncul kembali, membuat Gianna berpikir dua kali. Apakah aku hanya pelarian?
Namun Aksa tidak pergi. Ia menjelaskan, dengan sabar, tanpa drama. Ia memberi Gianna ruang untuk ragu, untuk mundur, untuk kembali tanpa tekanan.
Dan Gianna, untuk pertama kalinya, memilih untuk percaya bukan karena terpaksa, melainkan karena ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Hangat.
Seperti pulang.
***
Malam pertama mereka resmi bersama, Gianna duduk di sisi Aksa di balkon apartemennya, menatap langit Jakarta yang meski berpolusi, tetap menyimpan bintang-bintang kecil yang gigih bersinar.
“Aku kira rumah itu tempat yang kita bangun,” bisiknya.
Aksa meliriknya. “Dan sekarang?”
Gianna tersenyum, senyum yang kali ini tidak perlu disembunyikan.
“Ternyata rumah bisa berbentuk seseorang.”
Rumah tidak selalu berbentuk dinding dan atap. Kadang ia hadir dalam bentuk seseorang yang memilih untuk tetap ada, bukan karena sempurna, melainkan karena tulus. Ketika kita akhirnya menemukan seseorang yang membuat kita merasa aman menjadi diri sendiri, maka di situlah rumah yang sesungguhnya. Dan kepercayaan yang pernah hancur pun bisa dibangun kembali, perlahan, di tangan yang tepat.