Bus sekolah sudah terparkir di depan gerbang sejak pagi. Mesin menyala pelan, menunggu para peserta olimpiade naik. Beberapa guru berdiri di dekat pintu sambil mengecek daftar nama. Suasana terasa lebih tegang dari biasanya.
Alana berdiri di samping koper kecilnya. Kartu peserta tergantung di lehernya. Dia mengecek kartu itu untuk ketiga kalinya.
Matanya menyapu area parkiran.
Gavin belum terlihat.
Alana mencoba terlihat santai. Namun jarinya terus merapikan tali tas di bahunya. Dia tidak suka menunggu.
Langkah kaki akhirnya terdengar dari arah parkiran.
Gavin muncul sambil membawa satu tas ransel hitam. Dia berjalan santai seperti biasa. Kaos putih polos terlihat di balik jaket almamaternya.
Dia berhenti tepat di depan Alana.
Sentilan kecil mendarat di dahi Alana.
Alana langsung mengelus dahinya.
"Apaan sih," gumamnya kesal.
"Deg-degan?" tanya Gavin santai.
Dia bersandar ke badan bus.
Alana memutar bola matanya.
"Gue cuma takut lo yang bikin kita kalah," balas Alana.
Gavin terkekeh pelan.
Dia mengambil koper Alana tanpa izin.
Koper itu langsung dimasukkan ke bagasi bus.
Beberapa siswa yang lewat sempat melirik ke arah mereka.
Alana pura-pura tidak peduli.
Dia naik ke dalam bus lebih dulu.
Alana memilih kursi dekat jendela di bagian tengah. Bus perlahan mulai bergerak meninggalkan sekolah. Jalanan kota pagi itu sudah mulai ramai.
Alana menyandarkan kepalanya ke kaca.
Pemandangan kota lewat begitu saja.
Tak lama kursi di sebelahnya bergerak.
Seseorang duduk di sana.
Aroma mint langsung terasa.
Gavin memasang earphone di telinganya. Dia lalu menawarkan satu sisi kabel ke Alana. Gadis itu ragu sebentar sebelum menerimanya.
Musik lo-fi mulai mengalir pelan.
Kebisingan bus terasa lebih jauh.
Mereka duduk berdampingan tanpa bicara.
Perjalanan terasa lebih tenang.
Beberapa menit kemudian mata Alana mulai berat. Kepalanya perlahan jatuh ke bahu Gavin tanpa sadar.
Gavin tidak bergerak.
Dia hanya menyesuaikan posisi duduknya sedikit.
Agar Alana tetap nyaman.
Dua jam kemudian bus berhenti di depan hotel tempat peserta menginap. Guncangan kecil membuat Alana terbangun.
Dia langsung menarik kepalanya dari bahu Gavin.
Wajahnya memerah.
Gavin pura-pura sibuk merapikan earphone.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Alana cepat berdiri.
Dia mengambil tasnya.
Lalu turun dari bus lebih dulu.
Lobi hotel sudah dipenuhi peserta dari sekolah lain. Beberapa tampak serius berdiskusi. Ada juga yang terlihat sangat percaya diri.
Alana berdiri di pinggir ruangan.
Untuk pertama kalinya dia merasa sedikit gugup.
Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam jemarinya.
Hangat dan kuat.
Alana menoleh.
Gavin berdiri di sampingnya.
"Fokus ke gue," bisiknya pelan.
"Jangan lihat mereka."
Alana mengangguk kecil.
Mereka berjalan bersama menuju meja registrasi.
Namun tepat sebelum sampai, Alana melepaskan genggaman itu.