Di atas permukaan air yang tenang dan biru pekat, sekuntum bunga Dara Vinca Periwinkle terbaring kaku. Kelopak putih keunguannya tampak pucat, seolah seluruh warnanya telah tersedot habis oleh dinginnya malam. Di sampingnya, beberapa helai daun berwarna merah darah—sisa-sisa keberadaan Tapak —masih menempel pada tangkai yang mulai rapuh.
Dara menatap bayangannya sendiri di permukaan air. Ia melihat dirinya yang cantik, namun sendirian. Keindahan itu terasa hampa tanpa kontras warna merah dari Tapak yang biasanya selalu menyangga punggungnya.
"Bagaimana jika tidak ada aku di dalamnya?" bisik Dara pada riak air yang tenang.
Ia membayangkan sebuah dunia di mana kelopaknya tidak pernah menyentuh permukaan air ini. Sebuah dunia di mana Tapak tidak perlu menjadi merah demi melindunginya dari pucatnya kesepian. Jika ia menghilang, apakah air ini akan tetap biru? Apakah Tapak akan tetap memiliki warna merah yang berani itu, atau ia pun akan ikut memudar menjadi abu-abu yang tak terlihat?
Dara memejamkan mata, membiarkan tubuhnya semakin tenggelam dalam refleksi yang kian menggelap. Ia sadar, keberadaannya bukan hanya tentang siapa dirinya, tapi tentang bayangan siapa yang ia lengkapi.
"Jika aku benar-benar pergi dari frame ini, apakah kamu akan tetap ingat bahwa kita pernah menjadi satu warna yang utuh?"
Malam itu, permukaan danau tampak seperti cermin raksasa yang dingin. Dara Vinca Periwinkle duduk di tepian, jemarinya yang pucat menyentuh air, menciptakan riak yang menghancurkan bayangannya sendiri. Di sampingnya, Tapak berdiri tegak, kemeja merah tuanya tampak kontras dengan kegelapan di sekitar mereka.
"Lihat air itu, Tapak," bisik Dara tanpa menoleh. "Bayanganku di sana terlihat begitu... asing."
Tapak berlutut di sampingnya, meletakkan tangannya di atas permukaan air, tepat di samping bayangan Dara. "Itu bukan asing, Dara. Itu hanya pantulan dari apa yang tidak ingin kau akui."
Dara memutar tubuhnya, menatap mata Tapak yang selalu tenang namun menyimpan badai. "Aku sering berpikir tentang kanvas hidup ini. Tentang warna biru yang luas dan dingin ini. Bagaimana jika tidak ada aku di dalamnya?"
Tapak terdiam sejenak. Ia mengambil sehelai daun merah yang gugur dan meletakkannya di atas air, di samping bayangan Dara yang pucat.
"Jika kau tidak ada di sana," suara Tapak merendah, seberat batu yang tenggelam, "maka merahku tidak akan punya arti. Aku hanya akan menjadi bercak warna yang tersesat di tengah samudera biru yang tak berujung. Kau adalah alasan mengapa warna-warnaku terasa hidup."
Dara tersenyum pahit, matanya mulai berkaca-kaca mengikuti riak air. "Tapi, apakah sebuah lukisan akan rusak hanya karena satu titik warna menghilang? Bukankah dunia akan tetap berputar, dan danau ini akan tetap biru meski aku tak lagi bernapas di tepinya?"
Tapak menggenggam jemari Dara, memaksa gadis itu menatap pantulan mereka berdua yang kini menyatu di permukaan air.
"Jika dunia kehilangan warnamu yang paling tenang, apakah ia masih pantas disebut tempat yang indah untuk ditinggali?"