Cahaya biru dari layar laptop memantul redup di wajah Lando, satu-satunya sumber penerangan di kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu. Di luar, hujan rintik-rintik sisa sore tadi menyisakan udara dingin yang merayap masuk melalui celah jendela yang lapuk. Jari-jari Lando terpaku di atas papan ketik, sementara kursor di layar berkedip-kedip, seolah mengejek keheningan yang menyesakkan dadanya. Di tab peramban sebelah, laman media sosialnya terbuka, menampilkan senyum-senyum kemenangan teman-teman seangkatannya: foto di depan gedung kantor pencakar langit, unggahan sertifikat pelatihan di luar negeri, atau sekadar foto makan malam mewah dengan keterangan "Self-reward hasil kerja keras."
Lando menghela napas panjang, sebuah beban tak kasat mata terasa menindih pundaknya, membuatnya sulit untuk menegakkan punggung. "Sukses," bisiknya pelan, kata itu terasa asing dan pahit di lidahnya. Dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, sementara orang-orang lain sudah terbang jauh melintasi awan. Dia kembali menatap kursor yang berkedip. Sudah berbulan-bulan dia terjebak dalam siklus penolakan kerja yang menjemukan, surat-surat balasan otomatis yang sopan namun dingin, yang intinya selalu sama: "Terima kasih atas minat Anda, namun saat ini..."
Di tengah rasa putus asa yang mulai menggerogoti, bayangan Ibunya tiba-tiba melintas. Ibu, dengan daster usangnya yang selalu rapi, tersenyum lembut meski matanya memancarkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Lando teringat tangan Ibu yang kasar, yang selalu mengelus kepalanya setiap kali dia mengeluh tentang tugas kuliah atau saat dia menangis karena mainannya patah sewaktu kecil. Tangan itu pula yang tak pernah lelah bekerja, mencuci baju tetangga, berjualan kue, melakukan apa saja demi memastikan Lando bisa menyelesaikan sekolahnya dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik.
"Maafin Lando, Bu," gumamnya, setetes air mata jatuh ke punggung tangannya. Rasa bersalah menghunjam jantungnya. Alih-alih membahagiakan Ibu di hari tua, Lando merasa justru masih terus merepotkannya. Dia masih sering meminta kiriman uang untuk sekadar membayar uang kos atau membeli mi instan. Padahal, dia adalah anak sulung, yang seharusnya sudah bisa memikul beban keluarga.
Perasaan itu begitu menyiksa, hingga Lando merasa perlu mengeluarkannya, mengatakannya pada seseorang, pada sesuatu, meski hanya pada kekosongan dunia maya. Tanpa berpikir panjang, dia membuka aplikasi catatan dan mulai mengetik, kata-kata mengalir begitu saja dari hatinya yang paling dalam: "@gregor samsa:buat ibu, kakak tau ibu ga bakal lihat atau baca ini. maafin kakak yang bahkan masih repotin ibu ya. doakan aja anak mu ini bu, agar jalan yang kakak ambil seterjal apapun, bisa terlewat. nanti, kakak pastikan ibu bahagia, dari tangan kakak sendiri. dari hasil jerih payah kakak sendiri. semua jerih payah yang ibu keluarkan selama ini ga akan sia sia, kakak akan buat ibu bahagia. sabar ya bu."
Dia menamai catatannya dengan "@gregor samsa", sebuah referensi yang dia tahu hanya sedikit orang yang akan mengerti. Gregor Samsa, tokoh dalam cerita Franz Kafka yang bangun di suatu pagi dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa. Lando merasa seperti Gregor—beban bagi keluarganya, makhluk yang menjijikkan karena ketidakberdayaannya. Namun, tidak seperti Gregor yang akhirnya menyerah, di dalam hati Lando masih ada api yang menyala, meski kecil dan tertiup angin kencang. Janjinya pada Ibu adalah oksigen bagi api itu.
Lando menekan tombol simpan. Dia tahu Ibu tidak akan pernah membaca tulisan itu. Ibu tidak punya akun media sosial, bahkan untuk menggunakan aplikasi pesan instan saja dia masih sering bingung. Tapi bagi Lando, tulisan itu bukan untuk dipublikasikan. Itu adalah sebuah kontrak suci yang dia buat dengan dirinya sendiri, disaksikan oleh kegelapan malam dan hujan yang mulai mereda di luar.
Dia menutup laptopnya, lalu bangkit dari kursi kayu yang berderit. Dia berjalan menuju jendela dan membukanya sedikit. Udara malam yang segar menerpa wajahnya. Di kejauhan, lampu-lampu kota berpendar, seperti taburan bintang di bumi. Lando menatap langit, ke arah timur, ke tempat rumah Ibunya berada. "Sabar ya, Bu," bisiknya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Dia tahu, jalan di depannya masih sangat terjal, penuh dengan batu-batu tajam dan tikungan berbahaya. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia akan terus berjalan, merangkak jika perlu, hingga suatu hari nanti, dia bisa kembali ke rumah itu bukan sebagai "serangga" yang merepotkan, melainkan sebagai seorang putra yang berhasil mewujudkan janji yang tertulis di balik pintu kamarnya. Dia akan membilas setiap tetes keringat Ibu dengan kebahagiaan yang dia raih dari jerih payahnya sendiri. Lando menutup jendela, menghapus air mata di pipinya, dan kembali duduk di depan laptop. Masih ada banyak lamaran kerja yang harus dikirim. Pertarungan belum usai.