Ada seorang gadis yang sangat cantik, dia bukan hanya memiliki paras yang cantik namun juga kepintaran yang tidak tertandingi.
Banyak orang mengagumi nya, karena dia cantik dan pintar. Namun gadis itu sangat dingin, banyak pria yang menyukai dan menembak nya namun dia selalu menolak
Nama nya.. Aurora Xiela Aldebaran, dia anak kedua dari keluarga Aldebaran
Aurora berjalan santai di koridor dengan tas yang hanya tercantol di satu pundak nya
"Aurora.. selamat" ucap seorang siswa kemudian pergi dengan senyuman
"Dia gila, tiba-tiba tersenyum" ucap Aurora kemudian lanjut berjalan
Aurora melihat di mading tertutup siswa, Aurora mendekati Mading, siswa-siswi yang mengenal bau parfum Aurora langsung memberikan jalan untuk Aurora
Aurora melihat ke mading, "selamat Aurora, kau mendapatkan nilai tertinggi lagi bulan ini" ucap siswi
"Tnx" ucap Aurora kemudian berjalan pergi menuju kelas nya
Saat sampai di kelas dia melihat bangku nya penuh dengan berbagai coklat, susu strawberry, dan beberapa kotak cookies
Aurora berjalan ke bangku nya, "kalian yang kasih?" Tanya Amora dingin
Beberapa siswa/siswi mengangguk
"Tnx" ucap Aurora kemudian duduk, beberapa siswa/siswi itu sangat senang, terutama siswa, karena pertama kali nya Aurora menerima pemberian mereka
Aurora melihat cookies itu, "siapa yang kasih ini?" Tanya Aurora dingin
Seorang siswa berdiri, "a-apa kau tidak suka cookies? Aku bisa ganti" ucap siswa itu
"Tidak. Aku sangat menyukai nya. Dari mana kau tau aku menyukai bunga sakura?" Ucap Aurora terdengar dingin namun sedikit ramah
"Aku tidak sengaja melihat mu selalu menatap pohon sakura saat jalan-jalan ke taman bersama" ucap siswa itu
"Tnx. Aku Akan memakan nya" ucap Aurora masih dingin
Siswa itu tersenyum, "itu sudah milik mu, kau ingin apakan itu terserah mu" ucap siswa itu kemudian duduk lagi
Aurora duduk kemudian memakan cookies itu, wajah nya memang tetap datar namun mata nya terlihat sangat senang
Guru datang, "Aurora. Nanti ke ruangan saya" ucap sang guru
Aurora langsung menyembunyikan semua pemberian siswa/siswi kemudian mengangguk
Skip saja, setelah pelajaran selesai/pulang
Aurora mengetuk pintu kemudian masuk, "mengapa anda memanggil saya?" Ucap Aurora dingin
"Minggu depan akan ada kompetisi, saya memilih anda untuk mengikuti ini" ucap sang Guru
"Ya" ucap Aurora dingin
"Baik, silahkan pulang." Ucap sang guru
Aurora berjalan pergi, "untuk apa aku menang? Ayah dan ibu juga tidak akan melihat nya" ucap Aurora
Aurora naik bus untuk pulang, setelah sampai di depan rumah dia membayar bus itu kemudian masuk
"Kau sudah pulang? Bagaimana? Apakah masih sama?" Tanya sang ayah {Tn. Arlan}
"Masih peringkat tertinggi" ucap Aurora dingin
"Bagus lah" ucap sang ibu {ny. Askara}
"Belajar lebih banyak, jangan sampai kalah" ucap sang ibu
"Iya." Ucap Aurora dingin
"Minggu depan Aurora kompetisi. Kalian bisa datang?" Ucap Aurora dingin
"Tidak. Saya sibuk, Aryin {adik Aurora} bakal ikut lomba balet, saya harus datang" ucap sang ayah
"Saya tidak bisa, Asra {Abang Aurora} ikut lomba sepak bola, saya harus mendukung nya" ucap sang ibu
"Ya sudah, temani saja mereka, Aurora bisa sendiri" ucap Aurora dingin kemudian berjalan pergi ke kamar nya
Di kamar Aurora langsung mengunci pintu kamar nya dan menyalakan kedap suara dia melempar tas nya ke ranjang
"Aku capek.. aku capek belajar terus.." ucap Aurora duduk di lantai
"Aku cuman mau dapat pengakuan dari mereka.." ucap Aurora
"Aku cuman mau mereka anggap aku anak tanpa lihat nilai yang aku dapat.." ucap Aurora
Aurora akhir nya mandi setelah itu dia tertidur
Skip saja, satu Minggu berlalu, Aurora sudah siap dengan seragamnya yang rapi dan ikat rambut yang rapi dan sempurna
Aurora sangat suka tampil sempurna, entah itu kebiasaan atau dia paksakan
Aurora sampai di tempat kompetisi, setiap pertanyaan Aurora pasti bisa menjawab bahkan dia tidak menyisakan satu pun soal untuk lawannya, setelah selesai kompetisi
"Nilai tertinggi jatuh kepada Aurora dari sekolah Diamond school. Beri tepuk tangan" ucap sang pembawa acara
"Aurora mari ke panggung, untuk menerima piala" ucap pembawa acara
Aurora berjalan dengan santai, dengan tatapan serius dan muka yang tidak menunjukkan dia sombong
"Dia sangat jenius. Aku mengagumi nya" ucap seorang siswa (lawan)
"Dia sangat elegan" ucap siswa (lawan¹)
"Sungguh aku menyukainya" ucap siswa (lawan²)
"Cih, dia hanya begitu saja kalian sangat mengagumi nya" ucap siswi (lawan¹)
"Benar, Seperti kalian tidak satu kelas dengan kami" ucap siswi (lawan)
Aurora mendengar namun menghiraukan nya, "nona Aurora. Apa motivasi yang dapat membuat anda selalu menang? Saya sungguh penasaran" Tanya pembawa acara
"Tentu saja karena keluarga saya" ucap Aurora dingin
"Mereka sangat menyukai anda ya?" Tanya pembawa acara
"Tidak, justru mereka mengabaikan saya. Kata mereka, saya masih belum cukup membanggakan" ucap Aurora dingin
Semua orang disana terkejut
Skip saja, saat sampai dirumah Aurora langsung mendapatkan hadiah yang benar-benar sudah terbiasa dia dapatkan
Plakk, suara tengah yang menampar pipi Aurora dengan keras
"AURORA!! SAYA MENYURUHMU BELAJAR KARENA SAYA PERDULI DENGANMU!" ucap sang ibu
"APAKAH KAU INGIN KELUARGA INI DICAP BURUK KAH!!" tanya sang ayah dengan nada tinggi
"Heh.. perduli dengan ku? kalian perduli dengan ku atau dengan nilai ku?" Ucap Aurora dingin tapi untuk pertama kalinya matanya berkaca-kaca
"Aurora!! Abang gak pernah ya ajarin kamu gini" ucap Asra
"Memang kapan kalian mengajariku?" Tanya Aurora
Semua nya terdiam, "kak Aurora.. kita bisa bicarakan baik-baik jangan main gini" ucap Aryin
"KU TANYA APAKAH KALIAN PERNAH MENGAJARIKU HAH!! KALIAN BAHKAN HANYA PEDULI DENGAN ABANG DAN ADIK SAJA!! SEDANGKAN AKU? KALIAN BAHKAN TIDAK PERNAH TANYA BAGAIMANA KONDISI KU, YANG KALIAN TANYA HANYA PERINGKAT, PERINGKAT DAN PERINGKAT!!" Ucap Aurora dingin kemudian masuk ke kamarnya
"Anak itu!!" ucap sang ayah
"Yah.. Aurora benar, kalian memang lebih perduli dengan kami" ucap Asra
"Benar. Kalian bahkan tidak tanya bagaimana kondisi kakak waktu kakak kecelakaan karena menyelamatkan aku.. justru kalian hanya menanyakan bagaimana kabar ku" ucap Aryin
"Kakak bahkan lumpuh sementara karena aku.. tapi kalian tetap hanya tanya bagaimana peringkatnya, bukan kondisinya" ucap Aryin dengan muka yang sedih
Kedua orang tua itu hanya bisa terdiam
"Kami mohon, perlakukan kakak sama seperti kami.. dia hanya ingin satu pelukan dari kalian" ucap Aryin
"Dia bahkan depresi karena hanya memikirkan pelajaran dan tidak mau berteman" ucap Asra
Kedua orang tua mereka bertiga hanya diam
"Kakak pernah bilang sama Aryin kalau dia cuman pengen kalian tanya kabar dan peluk dia sekali saja" ucap Aryin
Asra mengangguk seolah Aurora juga pernah mengatakan hal yang sama
"Asra mohon. Sembuhkan luka Aurora.. dia bahkan tidak mau berteman karena takut nanti mengangguk peringkat nya.." ucap Asra dengan air mata yang akhir nya turun dari mata nya
Kedua orang tua mereka langsung berlari ke kamar Aurora, saat ingin masuk ternyata tidak di kunci
Mereka berdua masuk dan bau darah sangat menyengat di sana, Asra melihat lantai, penuh dengan bercak-bercak merah
"AURORA!! APA YANG KAU LAKUKAN" ucap Asra marah
"Aku hanya menghukum diriku sendiri" ucap wanita yang sedang duduk di tepi jendela yang lebar dan tinggi itu
"Sayang.." ucap sang ibu
"Aku bukan anakmu. Kau sendiri yang bilang jika kau malu melahirkan ku" ucap Aurora dingin namun dia menunduk
"Sayang.. maafin ibu.." ucap sang ibu dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi
"Sayang.. maafkan ayah.. ayah tidak becus menjaga mu" ucap sang ayah
"Apa yang kau lakukan kak.. apa yang kau lakukan.." ucap Aryin dengan air mata yang turun ke pipinya
"Aku hanya menggoreskan serpihan kaca di setiap kalian mengatakan kecewa dengan ku" ucap Aurora dingin namun masih menunduk
Asra memeluk Aurora, "Ra.. jangan menyakiti dirimu.." ucap Asra
"Kenapa kau peduli denganku? Aku hanya anak yang dilahirkan untuk menjaga nama keluarga kalian" ucap Aurora dingin
"Kita satu keluarga sayang" ucap sang ayah
"Sepertinya tuan salah berbicara" ucap Aurora
"T-tuan?" Ucap sang ayah kaget
"Aku hanya seseorang yang masuk ke keluarga kalian." Ucap Aurora
"Tidak, kau anak ku" ucap sang ibu
Ayah dan ibu memeluk Aurora, "maafkan ayah yang selalu menuntut mu untuk belajar" ucap sang ayah
"Maafkan ibu yang tidak mengerti perasaan mu" ucap sang ibu sambil menangis
Aurora mengangkat kepala nya menatap mereka bingung
"Dek.. kau bilang hanya luka kecil mengapa sampai pipi dan bibir mu berdarah" ucap Asra panik
"Ini hanya luka kecil" ucap Aurora singkat
Aryin tanpa berbicara langsung berlari pergi, setelah beberapa menit tiba-tiba dokter pribadi keluarga mereka datang
"Itu kakak saya, dok. Tolong periksa dia" ucap Aryin
Orang tua mereka melepas pelukan
"Apa yang kalian lakukan. Kalian ingin membunuh ku kah?" Tanya Aurora
"Saya ingin mengobati anda nona" ucap dokter itu sambil tersenyum
"Mengobati? Itu apa?" Tanya Aurora
Semua yang ada disana terkejut
"Anda tidak tahu arti mengobati?" Tanya dokter
Aurora menggeleng, dokter memeriksa Aurora, setelah memeriksa wajah sang dokter langsung pucat
"Kenapa?" Tanya sang ibu
"N-nona bukan hanya sekedar takut melainkan depresi tingkat tinggi, jantungnya berdetak tidak normal, tubuhnya dingin" ucap sang Dokter
"Dek.." ucap Asra tidak kuat menahan air matanya lagi
"Dek.. kau tau arti menangis?" Tanya Asra
Aurora menggeleng, "kak apa kau tau caranya tersenyum?" Tanya Aryin
"Tersenyum? Itu apa? Aku tidak mengenal kata itu, apakah itu kata baru?" Tanya Aurora
Bagaimana di sambar petir, mereka, yap keluarga Aurora hanya bisa menangis
"Kak.." ucap Aryin
"Aku hanya mengenal caranya berbicara, jadi aku menggunakan nada bicara kalian" ucap Aurora
Seketika lutut mereka lemas, kaki mereka benar-benar tidak bisa menahan tubuh mereka
Sang dokter juga ikut menangis, "kalian kenapa?" Tanya Aurora
"Ini yang dinamakan menangis, nona" ucap sang Dokter
"Apakah menangis digunakan saat-saat tertentu?" Tanya Aurora
"Nona. Saya ajari bagaimana caranya tersenyum dan menangis ya" ucap sang Dokter
"Apakah boleh?" Tanya Aurora
Sang dokter tersenyum kemudian mengangguk
Setelah beberapa bulan berlalu, dokter terus menjelaskan bagaimana caranya tersenyum, menangis, senang, kecewa, dan marah, terkejut dan berbagai eksperi lain nya
4 bulan berlalu, "sayang" ucap sang ibu
"Ibu" ucap Aurora masih dingin
"Kau tidak ingin tersenyum, kak?" Tanya Aryin
Aurora terdiam sejenak, semua keluarga nya menunduk
Tiba-tiba Aurora mengatakan, "tersenyum seperti ini kan?" Ucap nya
Semua nya langsung menatap Aurora, ternyata benar, di wajar Aurora terlihat senyum yang manis, sangat manis
Semua nya ikut tersenyum
Saat berangkat sekolah, Aurora menunjukkan sikap dinginnya lagi
"Hai kak Aurora" ucap seorang siswa sambil tersenyum
"Hai" ucap Aurora sambil tersenyum tipis
Siswa itu terkejut
Aurora terlihat sedikit bingung namun tetap melanjutkan jalannya
Sampai di kelas, banyak coklat, susu strawberry, dan cookies lagi
"Kalian yang kasih lagi?" Tanya Aurora dingin
Semua siswa/siswi mengangguk
"Alasan?" Tanya Aurora dingin
"Karena kamu memenangkan perlombaan" ucap semua kompak
"Terima kasih" ucap Aurora dengan senyum tipis yang muncul di wajahnya
Semua nya terkejut dengan senyum Aurora tapi mereka membalas dengan senyuman yang lebih lebar
Dan akhirnya Aurora mempunyai banyak teman, dia tetap peringkat pertama dan juara pertama, namun dia lebih bahagia karena dia bisa bermain dengan teman-teman nya, dia juga bisa merasakan kehangatan dan keharmonisan rumah yang sekarang menjadi sandaran nya
Dengan wajah yang lebih ceria di hari-hari yang ia lalui
_SELESAI_