Papan pengumuman di koridor utama dipenuhi siswa. Mereka berdesakan seperti sedang mencari sesuatu yang penting. Alana berdiri di barisan belakang sambil berjinjit. Matanya mencari daftar nilai simulasi olimpiade.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia membaca nama di baris pertama. Tinta hitam tebal langsung menarik perhatiannya.
Gavin Adijaya — 98.
Tepat di bawahnya ada namanya sendiri.
Alana Valeska — 96.
Alana menarik napas panjang.
Rasa kecewa tetap ada. Namun kali ini tidak terasa seberat biasanya. Dia tahu sudah memberikan usaha terbaik.
Alana berbalik dari papan pengumuman.
Dia hampir menabrak seseorang.
"Dua poin," kata Gavin.
Cowok itu berdiri tepat di depannya. Wajahnya tidak terlihat sedang merayakan kemenangan. Dia hanya menatap Alana dengan ekspresi tenang.
Alana memperbaiki letak kacamatanya.
"Selamat," katanya singkat.
"Lo menang."
Gavin tidak langsung menjawab.
Dia bersandar ke dinding koridor. Tatapannya masih tertuju pada Alana.
Beberapa siswa lewat di antara mereka.
Gavin membuka tasnya.
Dia mengeluarkan buku sketsa kecil yang masih baru.
Buku itu disodorkan ke arah Alana.
"Janji tetap janji, Sang Seniman."
Alana menatap buku itu cukup lama. Dia ingat tantangan di taman beberapa hari lalu. Menggambar Gavin tanpa tanduk setan.
Dia menggigit bibirnya sebentar.
"Gue nggak punya waktu sekarang," kata Alana.
Dia mencoba berjalan melewati Gavin.
Namun Gavin menahan lengannya.
Genggamannya tidak kuat, tapi cukup membuat Alana berhenti.
"Cuma sepuluh menit," kata Gavin.
"Ke atap sekolah."
Dia mulai berjalan menuju tangga darurat.
Alana akhirnya mengikuti.
Tangga besi itu membawa mereka ke area atap sekolah. Angin sore bertiup cukup kencang. Beberapa helai rambut Alana terlepas dari ikatannya.
Gavin duduk di pembatas beton.
Alana duduk di depannya.
Dia membuka halaman pertama buku sketsa itu.
Pensil mulai bergerak pelan di atas kertas. Garis-garis tipis membentuk wajah Gavin. Kali ini tanpa tanduk dan tanpa taring.
Hanya Gavin yang duduk menatap langit.
Alana berhenti sebentar.
Dia baru sadar sedang menggambar senyum tipis di bibir Gavin.
"Kenapa berhenti?" tanya Gavin.
Alana menggeleng pelan.
Dia kembali menambahkan detail pada bagian mata.
Beberapa menit kemudian gambar itu selesai.
Alana menandatangani pojok kertas kecil.
Buku itu diberikan kembali ke Gavin.
Gavin melihat gambar itu cukup lama.
Dia tidak mengatakan apa pun.
Alana mulai merasa gugup.
Dia menoleh ke arah pemandangan kota di bawah.
Langit sore mulai berubah jingga.
Gavin akhirnya menutup buku sketsa itu.
Dia memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Makasih, Alana."
Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Ini lebih bagus dari peringkat satu mana pun."
Alana tidak langsung menjawab.
Mereka berdiri di tepi atap sekolah.
Angin sore bertiup melewati mereka berdua.
Kompetisi panjang di antara mereka terasa seperti baru saja selesai.