Denpasar sore ini rasanya seperti simulasi neraka yang sedang bocor. Panas, lembap, dan penuh dengan turis yang tidak tahu cara berkendara dengan benar.
Di tengah kekacauan itu, ada Andrea Fairish. Mahasiswa kedokteran Universitas Udayana yang sudah empat semester ini mencoba bertahan hidup di Bali.
Menjadi anak rantau dari Jakarta di usia 19 tahun ternyata tidak se-estetik yang digambarkan orang-orang di Instagram maupun TikTok.
Kuliah kedokteran yang Andrea jalani ternyata cukup brutal. Dan Andrea tahu, kalau ia tidak pintar-pintar menjaga kewarasan, dia bisa berakhir seperti teman-temannya yang tenggelam di beach club maupun dunia malam Bali yang cukup liar dan berbahaya.
Bedanya, Andrea punya kendali diri seperti rem pakem. Dia tahu kapan harus belajar sampai otaknya berasap, dan kapan harus mendinginkan kepala dengan tetap bersenang-senang dalam batas wajar.
Tekadnya mengambil kuliah kedokteran cuma satu. Lulus tepat waktu, mengejar beasiswa spesialisasi, dan jadi dokter anak. Titik.
Dan karena kiriman orang tuanya dari Jakarta seringkali hanya cukup untuk bayar kos dan makan sehari-hari, Andrea harus memutar otak dengan bekerja paruh waktu di sebuah kafe di bilangan Denpasar.
Andrea selama ini dikenal sebagai pelayan yang cekatan. Masa bodoh dengan bule-bule seumurannya yang sering mencoba mencuri perhatiannya saat Andrea sedang mencatat dan mengantar pesanan ke meja para pelanggan.
Baginya, mereka tak ayal hanya distraksi yang menghambat cash flow tabungan dan kinerja Andrea sebagai pelayan kafe.
Sampai suatu ketika, semua sistem pertahanannya pecah berantakan.
PRANG!
Satu tumpukan piring dan gelas yang Andrea hendak bawa pecah berserakan di lantai saat Andrea dengan tidak sengaja menghantam sebuah "tembok" bernapas yang mendadak saja muncul di ketika Andrea tengah berbalik badan untuk mengantarkan pesanan.
Seorang pria, dengan tinggi tubuh menjulang sekali, posturnya membuat Andrea jadi tampak seperti kurcaci ketika berhadapan dengannya.
"I'm so sorry, i didn't mean it," suara itu muncul saat ia ikut berjongkok didepan Andrea.
Berat, dengan aksen British yang sangat kental dan terdengar seksi.
Andrea tidak mendongak. Pikiran pertamanya bukan soal siapa pria sialan ini yang membuat kinerja nya jadi berantakan, tapi berapa nominal yang akan dipotong dari gajinya bulan ini.
Andrea langsung berlutut, mencoba membereskan pecahan kaca dihadapannya dengan gerakan panik.
"Aw! Shit," Andrea tanpa sadar mendesis tajam saat sebuah serpihan kaca menusuk jemarinya cukup dalam. Darah segar langsung merembes keluar tanpa ampun, membuat Andrea seketika meringis menahan perih.
Pria di hadapan Andrea ternyata menyaksikan itu, hingga membuatnya bereaksi lebih cepat menolong Andrea.
Sebelum Andrea bahkan sempat mengerjap, tangannya ditarik lembut oleh pria itu.
Tanpa aba-aba, pria didepan Andrea menarik ujung kaos putihnya sendiri—menyingkap sekilas perut yang terpahat sempurna dan atletis—dan menggunakan ujung kain itu untuk menekan luka di jari Andrea.
Andrea masih setengah terpaku, walaupun bibirnya mendesis pelan menahan serangan perih akibat tekanan jemari pria itu yang menekan jemari Andrea yang terluka.
Fokusnya mendadak jadi terbagi antara rasa perih, noda darah yang mulai mengotori kaos putih mahal pria itu, serta aroma maskulin yang menguar menusuk hidung Andrea.
"Ternyata kamu kalau dilihat sedekat ini, benar-benar manis dan memesona sekali, ya. Kupikir hanya ketika kalau dilihat dari jauh saja saat kamu begitu larut didalam kelas."
Kalimat dalam bahasa Inggris beraksen British kental itu diucapkan dengan intonasi sangat tenang, tapi efeknya seperti tamparan pelan yang mendarat tepat wajah Andrea.
Kalimat itu seolah memutus sirkuit rasa perih di otak Andrea.
Andrea akhirnya memberanikan diri untuk menoleh. Dalam satu detik yang terasa seperti keajaiban, semua hiruk-pikuk kafe dan wajah pelanggan lain seakan memudar menjadi latar yang buram.
Pria itu tersenyum, sedikit memamerkan gummy smile nya yang entah bagaimana membuatnya terlihat sangat tampan sekaligus berbahaya di saat yang sama. Rambut cokelat terangnya sedikit berantakan tertiup angin Denpasar yang sedang kencang.
"Wha... what do you mean? Have we ever met before?" Andrea akhirnya bisa menyuarakan kebingungannya sejak tadi, meski terdengar agak payah.
Pria itu terkekeh pelan. "Kalau aku memberitahumu sesuatu, kamu mau janji kalau setelah mendengar ini, kamu tidak akan langsung kabur?"
Andrea hanya bisa mengerjapkan mata, masih bingung dengan situasi tanpa arah nan absurd ini.
Namun demi sebongkah penjelasan ditengah kecanggungan yang mulai membuat Andrea jadi kikuk, ia mengangguk pelan.
Pria didepan Andrea tersenyum lagi. Luar biasa tampan.
"Aku adalah salah satu dosen di fakultas kedokteran Udayana yang sudah memperhatikanmu selama beberapa pertemuan ini. Mungkin kamu tidak sadar, karena kamu belum mengambil kelasku secara resmi. Tapi aku sering melihatmu beberapa kali pada sesi praktikum di kelas Gross Anatomy dengan Professor Wellington. Aku ingat caramu bertanya soal Cardiovascular System minggu lalu." Pria itu menjeda kalimatnya, lalu menambahkan, "Dan aku juga sudah beberapa kali ke sini, karena tahu kamu bekerja di kafe ini."
Andrea membeku. Ia masih dalam posisi berjongkok di lantai, mengabaikan tatapan bingung pelanggan yang lalu-lalang. Andrea jauh lebih bingung. Pikirannya kini dihadapkan pada dua pilihan sulit: mengorek lebih dalam tentang siapa sebenarnya pria British ini yang seolah sudah mengenal dunianya lebih dulu, atau kembali ke realitas sebagai pelayan yang baru saja memecahkan inventaris kafe.
Andrea tahu ia harus menekan rasa penasarannya kuat-kuat. Ia tidak mau kena semprot bosnya jika terus-terusan diam dalam kekacauan ini. Dengan gerakan cepat, Andrea mencoba menarik jemarinya dari genggaman pria itu agar ia bisa kembali membereskan serpihan piring.
"Maaf, Tuan, tapi saya harus—"
"Henry," katanya menyebutkan nama dengan sukarela tanpa Andrea tanya, "Henry Scott. Panggil aku Henry saja kalau kita sedang tidak di lingkungan kampus."
Andrea tertegun. Ada desir aneh yang menghangatkan dadanya mendengar cara pria bernama Henry Scott itu berbicara. Sebuah perasaan anomali yang nyaris membuat bibir Andrea menyunggingkan senyum.
Nyaris, karena kesadaran lainnya seakan bergerak lebih cepat menarik Andrea menapak bumi untuk kesekian kali.
"Dan kamu, Andrea Fairish," Henry melanjutkan dengan senyuman yang sangat menawan, "Aku yakin kita akan sering bertemu lagi nanti. Dan ketika saat itu tiba, kamu akan tahu, kalau nama ku itu nantinya akan jadi bagian penting untuk mendampingi hidup kamu di masa depan."