Alarm berbunyi pukul 06.00 pagi. Aku membuka mata dengan malas.
Hari Senin lagi.
Aku bersiap ke sekolah seperti biasa. Di kelas, teman-temanku ribut seperti biasa. Guru matematika memberi tugas seperti biasa. Dan seperti biasa… aku bertengkar dengan sahabatku.
“Kenapa sih kamu selalu egois!” teriak Lila kesal.
Aku membalas dengan nada tinggi. “Kalau tidak suka, ya sudah! Kita tidak perlu berteman lagi!”
Dia menatapku lama, lalu pergi.
Aku tidak mengejarnya.
Aku terlalu marah saat itu.
Malamnya aku tidur tanpa memikirkan apa pun.
Tapi ketika aku bangun… Alarm berbunyi lagi.
06.00 pagi.
Aku mengerutkan kening.
Seragam sekolahku masih tergantung di kursi. Ponselku menunjukkan tanggal yang sama.
Senin.
Aku pergi ke sekolah dengan perasaan aneh. Dan semuanya terjadi lagi. Teman-temanku berbicara hal yang sama. Guru matematika memberi tugas yang sama.
Dan siang itu,
Aku kembali bertengkar dengan Lila. Kata-kata yang sama.
Ekspresi yang sama.
Seperti rekaman yang diputar ulang.
Hari itu berulang.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Awalnya aku panik.
Lalu aku mencoba hal-hal aneh.
Tidak masuk sekolah. Mengubah rute pulang.Makan di kantin berbeda.
Tapi tetap saja…
Setiap kali aku tidur, aku bangun di hari yang sama.
Senin.
Pada pengulangan ke-12, aku mulai memperhatikan sesuatu.
Setiap kali hari berakhir… Aku selalu melihat Lila berjalan sendirian di lorong sekolah.
Wajahnya sedih.
Dan setiap kali itu juga… Kami tetap bertengkar.
Di pengulangan berikutnya, aku memutuskan melakukan sesuatu yang berbeda. Saat Lila mulai marah, aku tidak membalas.
Aku menarik napas.
“Maaf.”
Dia terdiam.
“Aku terlalu egois.”
Matanya membesar sedikit.
“Kenapa kamu tiba-tiba—”
“Aku tidak mau kehilangan kamu.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu dia tersenyum kesemu “Ya sudah… aku juga minta maaf.”
Kami tertawa canggung. Seolah semua masalah itu sebenarnya tidak terlalu besar.
Malam itu aku tidur seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya…
Aku bangun dengan alarm pukul 06.00.
Tapi tanggalnya berubah.
Selasa.
Aku langsung terduduk.
Hari itu akhirnya bergerak.
Aku tertawa kecil.
Ternyata hari itu tidak berulang karena takdir aneh. Hari itu berulang karena aku belum memperbaiki kesalahan yang paling penting.
Kadang hidup memberi kita kesempatan kedua. Bukan untuk mengubah semuanya... Tapi hanya untuk mengatakan satu kata yang seharusnya kita ucapkan sejak awal.
Maaf.