Angin sore menerpa rambut Rara saat ia duduk di bangku taman sekolah, membiarkan matahari senja memeluk bahunya. Di tangannya, buku catatan berisi lirik lagu yang belum selesai ia tulis.
Sejak kelas satu SMA, Rara selalu menyukai waktu-waktu seperti ini—sekolah yang mulai sepi, suara burung berkicau, dan ketenangan yang jarang ia dapatkan di tengah hiruk pikuk pelajaran.
Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi halaman bukunya. Rara mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata cokelat hangat milik Arka, ketua klub fotografi yang terkenal pendiam tapi selalu membuat hati Rara berdebar kencang setiap kali berpapasan di koridor.
"Maaf ganggu," suara Arka lembut, sedikit serak khas remaja yang sedang puber.
"Cuma mau ambil kamera yang ketinggalan tadi pagi."
Rara menggeleng cepat, menyembunyikan gugupnya. "Enggak kok. Silakan."
Arka tersenyum kecil, lalu berjalan menuju bangku di seberang sana. Rara mencoba kembali fokus pada bukunya, tapi matanya terus mencuri pandang ke arah Arka yang sedang memeriksa lensa kameranya. Ada sesuatu tentang cara Arka memegang kameranya—sangat lembut, seolah itu benda paling berharga di dunia—yang membuat Rara semakin kagum.
"Liriknya bagus," suara Arka tiba-tiba terdengar lagi. Rara tersentak, baru sadar buku catatannya terbuka lebar.
"Eh... itu cuma iseng aja," Rara memerah, buru-buru menutup bukunya.
Arka tertawa pelan, lalu duduk di bangku yang sama dengan Rara, tapi menjaga jarak sopan.
"Jangan ditutup dong. Aku suka lagu-lagu yang ditulis sendiri. Lebih punya jiwa gitu."
Rara menatap Arka ragu-ragu, lalu perlahan membuka kembali bukunya. "Kamu suka musik juga?"
"Suka. Tapi aku lebih jago nangkap gambar daripada nyanyi atau main alat musik," Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kadang aku suka foto pemandangan, tapi belakangan ini aku suka foto orang-orang yang lagi melakukan hal yang mereka suka. Kelihatan bersih dan tulus."
Rara terdiam. Ia merasa kata-kata Arka menyentuh sesuatu di dalam hatinya. Selama ini, ia selalu merasa tulisannya biasa saja, tapi mendengar pujian dari orang yang ia kagumi, rasanya seperti mendapatkan hadiah terindah.
"Minggu depan ada pementasan seni sekolah, kan?" tanya Arka tiba-tiba. "Kamu mau tampilkan lagumu?"
Rara menggeleng cepat. "Enggak, enggak! Aku malu."
Arka menatapnya tajam, tapi tatapannya penuh dukungan. "Kenapa malu? Liriknya bagus, Ra. Kalau kamu mau, aku bisa foto kamu pas tampil nanti. Atau... aku bisa nemenin kamu latihan dulu kalau kamu mau."
Mata Rara membelalak. "Serius?"
"Serius," Arka mengangguk, senyumnya semakin lebar. "Asal kamu janji bakal berani tampil."
Rara menatap Arka, lalu perlahan tersenyum. Rasa takutnya perlahan hilang, digantikan oleh rasa percaya diri yang baru tumbuh. "Oke. Aku janji."
Sore itu, di halaman sekolah yang mulai remang-remang, jejak sepatu mereka tertinggal di atas rumput basah, bersanding dengan janji kecil yang baru terjalin. Rara tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi satu hal yang pasti—mulai hari ini, sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar, tapi juga tempat di mana hatinya mulai menemukan irama sendiri.