Lantai marmer di ruang tengah itu masih terasa dingin di telapak kaki Hanum, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di tangannya, sehelai kaus dalam milik Arlan, suaminya, masih menunggu untuk dilipat, menjadi bagian dari tumpukan pakaian yang seolah tidak pernah habis. Di sudut matanya, ia melihat tumpukan mainan balok kayu milik Elang yang berserakan di karpet, seperti reruntuhan kota kecil yang baru saja dilanda bencana. Sebuah kekacauan yang tak bersuara namun terasa begitu bising di kepalanya.
Hanum menghela napas panjang, sebuah kebiasaan yang semakin sering ia lakukan akhir-akhir ini. Sunyi malam ini terasa berat, jenis kesunyian yang justru membuat pikiran-pikirannya berkecamuk dengan liar. Ia baru saja meletakkan ponselnya, setelah sebelumnya sempat tergoda untuk membuka media sosial. Di berandanya, sebuah foto baru saja melintas: seorang teman lama, Maya, baru saja mengunggah foto pendakian ke Nepal. Wajah Maya terlihat lelah namun bersinar, rambutnya berantakan, dan di matanya terpancar kebebasan yang terasa begitu asing bagi Hanum saat ini. Di kolom komentar, teman-teman mereka bersorak, memuji keberanian Maya untuk hidup tanpa beban.
Hanum tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip dengan ringisan hati. Ia menunduk menatap daster batiknya yang sudah mulai pudar warnanya, dan di beberapa bagian masih tercium sisa-sisa aroma minyak goreng dari makan malam tadi. Ia bersyukur, sungguh. Ia mencintai Arlan dengan sepenuh hati. Arlan adalah laki-laki yang baik, sangat baik. Ia tidak pernah memukul, selalu pulang tepat waktu, dan jarang sekali mengeluh soal masakan. Elang pun tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan penuh tawa.
Tapi, ada satu sudut di hati Hanum yang rasanya seperti ruangan gelap yang terkunci rapat, seperti sebuah kotak sepatu yang disimpan di gudang paling belakang. Ruangan itu berisi Hanum versi sepuluh tahun lalu: perempuan yang mimpinya setinggi langit, yang tas ranselnya selalu siap untuk petualangan mendadak, dan yang jam tidurnya tidak ditentukan oleh jadwal menyusui atau kebutuhan orang lain. "Normal nggak sih, kalau aku kangen masa-masa dulu?" gumamnya lirih, meski Arlan sudah mendengkur halus di kamar. Pertanyaan itu menggantung di udara malam, tak terjawab, hanya bergema di dalam dirinya.
Setiap pagi, rutinitas itu dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar menyingsing. Pukul lima pagi, alarm biologis dalam bentuk tangisan Elang sudah memecah fajar, bahkan sebelum alarm di ponselnya sempat berbunyi. Hanum bangkit dengan gerakan otomatis, seperti sebuah mesin yang sudah diprogram untuk melakukan tugas-tugas spesifik. Dapur menjadi tempat pertama yang ia tuju. Di sana, ia menanak nasi, memotong sayur, dan menggoreng lauk pauk, semuanya dilakukan dengan kecepatan yang sudah terasah oleh waktu. Setelah itu, ia harus memastikan air hangat untuk Elang sudah siap di kamar mandi, dan handuk Arlan sudah tergantung di tempatnya.
Pekerjaan rumah tangga, bagi mereka yang hanya melihat hasilnya, seringkali dianggap sepele. "Cuma masak, cuma nyapu, cuma mandiin anak," adalah kalimat-kalimat yang seringkali ia dengar, baik secara langsung maupun tersirat. Tapi bagi Hanum, pekerjaan ini adalah rangkaian micro-tasks yang tidak pernah berhenti. 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak ada hari libur, tidak ada jam istirahat yang benar-benar bisa ia nikmati. Saat ia sedang menyapu lantai, Elang tiba-tiba merengek minta digendong. Maka, sapu di tangan kanan, anak di pinggul kiri. Gerakannya terlihat sinkron, namun di balik itu, punggungnya berteriak protes, menahan beban yang tak kasat mata. Belum lagi tuntutan tak tertulis untuk tetap tampil "segar". Arlan memang tidak pernah menuntut, namun pandangan orang di luar sana, atau sekadar pantulan di cermin, seringkali terasa seperti sebuah penghakiman yang diam-diam menjatuhkan kepercayaan dirinya.
"Kamu pucat banget, Num. Pakai lipstik dikitlah," kata ibunya suatu kali saat berkunjung, mencoba memberikan saran yang terdengar penuh perhatian. Hanum hanya tersenyum getir menanggapi ucapan itu. Lipstik terasa sia-sia kalau akhirnya akan terhapus oleh sisa bubur bayi di bahunya, atau oleh air mata Elang yang minta dipeluk.
Di suatu siang, saat Elang akhirnya tertidur pulas, Hanum secara tidak sengaja menemukan sebuah map plastik di bawah tumpukan kain setrikaan yang belum sempat ia kerjakan. Di dalamnya ada sertifikat kursus desain grafis dan sebuah proposal proyek majalah independen yang dulu ingin ia bangun bersama teman-teman kuliahnya. Dulu, Hanum adalah singa organisasi. Ia punya jaringan luas, teman-teman dari berbagai latar belakang, dan ambisi besar untuk menjadi seorang art director yang dikenal banyak orang. Sekarang? Lingkar pertemanannya mengerucut drastis, seperti sebuah lingkaran kecil yang semakin menyempit. Isinya hanya grup WhatsApp wali murid dan ibu-ibu komplek yang bahasannya tak jauh dari harga cabai di pasar atau resep MPASI yang paling ampuh.
Ia teringat bulan lalu saat mencoba ikut reuni kecil teman-teman kantor lamanya. Sepanjang acara, Hanum tidak benar-benar ada di sana. Pikirannya melayang-layang, dipenuhi oleh kekhawatiran tentang Elang dan Arlan di rumah. "Elang sudah makan belum ya?", "Arlan tahu nggak ya kalau popok Elang yang baru ada di laci bawah?", "Tadi Arlan bilang mau bikin kopi, dia tahu nggak gula habis?". Fisiknya duduk di kafe estetik itu, namun jiwanya tertinggal di rumah, menjaga ritme hidup orang-orang yang ia cintai. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang lebih awal, melakukan "teng-go" bahkan dari acara santai seperti itu, karena ia tahu tumpukan piring kotor di wastafel tidak akan mencuci dirinya sendiri.
Malam itu, Arlan pulang dengan membawa kabar gembira yang terpancar jelas dari wajahnya. "Sayang, aku dipromosikan jadi manajer regional! Bulan depan aku bakal sering ke luar kota buat perluas network," ucapnya dengan mata berbinar, penuh dengan semangat dan ambisi yang dulu juga pernah Hanum miliki. Hanum memeluknya, tulus ikut bahagia untuk pencapaian suaminya. Tapi di balik pelukan itu, ada rasa sesak yang merayap di dadanya, sebuah perasaan yang tidak bisa ia pungkiri. Arlan bisa mengejar karier, mencapai goals, dan memperbesar lingkaran pertemanannya. Arlan pulang kerja masih bisa mampir ngopi dengan rekan sejawat untuk sekadar melepas penat setelah seharian bekerja. Sedangkan Hanum? Penatnya tidak punya tempat untuk dilepas. Penatnya hanya berpindah dari dapur ke ruang TV, lalu ke tempat tidur, untuk kemudian diulang lagi esok pagi.
Ia merasa jahat karena berpikiran seperti ini. Bukankah ini yang banyak wanita inginkan? Suami mapan dan anak sehat? Ia merasa tidak tahu diri karena merasa tidak puas dengan apa yang sudah ia miliki. Padahal, ia tahu persis rasanya jika punya suami yang "nggak bener". Ia punya seorang teman yang suaminya pengangguran dan kasar. Hanum tahu dia beruntung. "Tapi bersyukur dan merasa kehilangan diri sendiri itu bisa terjadi di saat yang sama, kan?" batinnya, mencoba mencari pembenaran atas perasaannya sendiri.
Tahun demi tahun berlalu seperti putaran film yang dipercepat, dan Hanum melihat Elang tumbuh, mulai sekolah, dan akhirnya punya dunianya sendiri. Saat itulah, kesibukan fisik Hanum mulai berkurang. Ia punya lebih banyak waktu luang, waktu yang dulu sangat ia dambakan. Ia kembali membuka map plastik itu, yang kertasnya sudah mulai menguning dan rapuh. Perangkat lunak desain yang dulu ia kuasai kini sudah berganti versi berkali-kali. Dunianya sudah terlalu jauh melesat di depan, sementara ia diam mematung di dapur selama satu dekade, memastikan semua kebutuhan keluarganya terpenuhi. Cita-citanya tidak hanya dikesampingkan, tapi sudah terkubur dalam-dalam, bukan karena dilarang, melainkan karena energi dan fokusnya sudah habis terkuras untuk memastikan fondasi hidup anak dan suaminya kokoh. Ia adalah tiang yang tak terlihat; jika ia bergeser sedikit saja untuk mengejar kepentingannya sendiri, ia takut seluruh bangunan rumah tangganya akan goyah.
Ia kini menatap cermin, dan melihat bayangan seorang perempuan yang tidak lagi muda. Guratan halus di sudut mata menceritakan setiap malam tanpa tidur dan setiap tawa yang ia berikan untuk menghibur Elang yang menangis. Suatu sore, Hanum duduk di teras, menyesap teh hangat sendirian. Elang sedang les basket, Arlan masih di kantor. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah itu sunyi dengan cara yang damai. Ia tidak menyesali pilihannya. Ia mencintai Arlan, ia memuja Elang. Tapi ia juga memaafkan dirinya sendiri karena pernah—dan sering—merindukan masa gadisnya. Masa di mana ia hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Masa di mana "bebas" bukan sekadar kata, melainkan oksigen yang ia hirup setiap hari.
Mungkin bagi sebagian orang, hidupnya terlihat sempurna. Dan memang, dalam banyak standar, hidupnya sangat baik. Namun, ia menyadari bahwa menjadi seorang Ibu Rumah Tangga (terutama yang juga bekerja) tanpa bantuan asisten atau pengasuh adalah bentuk pengabdian total yang seringkali menuntut bayaran berupa identitas diri yang perlahan menghilang. Ia tersenyum saat Arlan pulang dan mengecup keningnya, sebuah ciuman hangat yang menandakan berakhirnya hari yang panjang. "Lapi mikirin apa, Sayang?" tanya Arlan lembut. Hanum terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada ringan yang menyimpan kedalaman, "Cuma lagi kangen sama Hanum yang dulu, Lan. Tapi nggak apa-apa, Hanum yang sekarang juga sudah melakukan pekerjaan yang hebat." Sebab pada akhirnya, menjadi seorang istri dan ibu bukan berarti berhenti menjadi manusia yang punya keinginan. Dan merindukan masa lalu bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap kebahagiaan masa kini. Itu hanyalah pengakuan jujur bahwa di balik setiap rumah yang hangat, ada seorang perempuan yang belajar untuk merelakan mimpinya demi menjadi rumah bagi mimpi orang lain. Dan dalam keikhlasan itu, ia menemukan bentuk cinta yang paling murni, sebuah kekuatan yang memungkinkannya untuk terus berjalan, meski terkadang ia harus berjalan di atas reruntuhan mimpinya sendiri.