Pagi itu, aroma kopi tubruk dan minyak goreng panas selalu menjadi alarm alamiku. Di balik tirai kamar yang tipis, aku selalu bisa mendengar suara gemerisik plastik kresek dan sapaan ramah dari balik jendela warung. Itu adalah suara Nenek. Wanita yang tidak hanya memberiku tempat berteduh, tapi juga menjadi satu-satunya alasan mengapa aku merasa layak untuk dicintai di dunia ini.
Orang tua-ku? Mereka hanyalah nama di akta kelahiranku. Sejak aku berumur satu bulan, saat mereka memutuskan untuk menempuh jalan masing-masing dan membangun istana baru dengan orang lain, aku "dititipkan" pada Nenek. Dan Nenek, tanpa sedetik pun keraguan, mendekapku erat. Dia membuka warung kecil di depan rumah untuk menyambung hidup kami berdua.
Tahun-tahun berlalu, dan ingatanku tentang masa kecil selalu dipenuhi oleh bayangan punggung Nenek yang sedikit membungkuk. Dia sering begadang hingga larut malam demi menunggu pelanggan yang mungkin ingin membeli sebungkus rokok atau mie instan, lalu sebelum matahari benar-benar bangun, dia sudah kembali berdiri, menyusun dagangan dengan mata yang meski mengantuk, tetap memancarkan senyum termanisnya. Senyum yang seolah berkata bahwa lelah adalah sesuatu yang tidak eksis dalam kamusnya.
---
Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Kami duduk di lincak bambu depan warung saat suasana sedang sepi. Aku bersandar di bahunya yang ringkih, menghirup aroma minyak kayu putih yang selalu lekat di tubuhnya. Itu adalah saat-saat deep talk favorit kami.
"Nek," panggilku pelan. "Kalau nanti aku sudah sukses, sudah kerja bagus, aku cuma mau bahagiain Nenek. Aku mau beliin semua yang Nenek mau. Nenek nggak usah buka warung lagi, nggak usah begadang lagi. Nenek tinggal istirahat saja di kamar yang bagus."
Aku merasakan tubuh Nenek sedikit bergetar. Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengelus rambutku dengan tangan yang kasar akibat terlalu sering mencuci dan memasak.
"Duh, Gusti..." bisiknya lirih. Suaranya terdengar sedih. "Nenek nggak butuh apa-apa, Nak. Nenek cuma mau lihat kamu lancar urusannya, jadi orang baik. Doa Nenek selalu buat kamu, supaya kamu nggak perlu hidup susah seperti Nenek."
"Tapi aku mau balas budi, Nek," desakku dengan mata berkaca-kaca.
Nenek memelukku erat. "Bahagiamu itu sudah lebih dari cukup buat bayar semua lelah Nenek. Jangan bicara begitu lagi, ya? Nenek jadi sedih rasanya kalau kamu terbebani."
Aku tidak tahu bahwa doa-doa yang dia panjatkan di sepertiga malam adalah alasan mengapa langkahku selalu terasa ringan, sementara dia sendiri sedang memikul beban yang mulai merusak mesin di dalam tubuhnya.
---
Bulan kemarin, sore itu terasa sangat biasa. Langit berwarna kelabu, dan Nenek masih sempat menggoreng pisang untuk dagangan sore. Namun, tiba-tiba dia terduduk di kursi kayu, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari maraton.
"Bawa Nenek ke rumah sakit, Nak..." bisiknya dengan suara yang hampir hilang.
Jantungku rasanya mau copot. Nenek yang tidak pernah mengeluh, Nenek yang selalu bilang dia sehat, tiba-tiba memintaku membawanya ke rumah sakit. Padahal pagi tadi dia masih tersenyum lebar saat menyuapiku sarapan.
Sesampainya di rumah sakit, kenyataan pahit menghantamku tanpa ampun. Dokter bilang Nenek menderita gagal jantung dan ginjal. Semua itu karena kelelahan yang bertumpuk selama puluhan tahun, kurang tidur karena menjaga warung, dan mungkin karena dia terlalu sering memendam sakitnya agar aku tidak khawatir.
Aku hancur. Aku menangis di lorong rumah sakit yang dingin, menyalahkan diriku sendiri. Harusnya aku lebih peka. Harusnya aku melarangnya begadang. Harusnya aku yang bekerja lebih keras agar dia tidak perlu kecapean demi aku.
Dua hari di bangsal biasa, kondisi Nenek menurun drastis. Dia harus dipindahkan ke ruang ICU. Aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca, tubuhnya yang mungil kini dipenuhi kabel dan selang. Matanya tertutup rapat, tapi aku tahu dia sedang berjuang, mungkin demi aku, satu-satunya orang yang dia punya.
Tiga hari Nenek di ICU adalah tiga hari terpanjang dalam hidupku. Aku tidak pulang. Aku tidur di kursi tunggu, berdoa sampai suaraku habis, memohon pada Tuhan agar jangan dulu mengambil satu-satunya duniaku. Aku belum sempat membelikannya apa pun. Aku belum sukses. Aku belum membahagiakannya.
---
Subuh itu, suasana rumah sakit sangat sunyi. Hanya suara mesin monitor yang terdengar ritmis. Aku diizinkan masuk ke dalam ruang ICU karena kondisi Nenek yang kritis. Aku menggenggam tangannya yang dingin, membisikkan kata-kata sayang yang mungkin terlambat aku ucapkan sesering dulu.
Tepat saat adzan Subuh berkumandang dari masjid di kejauhan, aku melihatnya. Nenek membuka matanya sedikit, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ingin merekam wajahku untuk terakhir kalinya. Dia tidak bisa bicara, tapi sudut matanya mengeluarkan air mata.
Lalu, perlahan tapi pasti, dia menghembuskan napas terakhirnya tepat di depanku.
Garis di monitor itu menjadi datar. Suara pip yang panjang membelah kesunyian subuh itu.
"Nenek... Nenek bangun..." aku mengguncang tubuhnya pelan, lalu semakin keras. "Nenek, katanya mau lihat aku sukses? Nenek, bangun! Aku belum beli apa-apa buat Nenek!"
Petugas medis datang dan memintaku menjauh, tapi aku tidak peduli. Aku meraung, menangis kejer di samping ranjangnya. Dunia yang selama ini aku kenal mendadak runtuh. Pelabuhan tempatku pulang telah tutup untuk selamanya.
---
Sekarang, rumah ini terasa sangat luas dan sangat dingin. Warung itu kini tertutup rapat, debu mulai hinggap di rak-rak kacanya. Tidak ada lagi aroma kopi tubruk di pagi hari. Tidak ada lagi suara gemerisik plastik kresek.
Aku duduk di lincak bambu tempat kami biasa bercerita, tapi kali ini aku sendirian. Tidak ada lagi tempat untuk bercerita tentang betapa beratnya hariku. Tidak ada lagi yang mendoakanku dengan tulus sampai menangis.
Aku hidup sendirian di dunia yang kejam ini. Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya "rumah". Karena rumahku bukan bangunan ini, melainkan wanita tua yang kini sudah tenang di bawah gundukan tanah merah.
Nek, aku masih di sini. Masih berjuang untuk sukses seperti maumu. Tapi rasanya hampa, karena saat aku sampai di puncak nanti, bangku yang aku siapkan untukmu akan tetap kosong. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Nek. Aku rindu pulang ke pelukanmu.
---