Malam itu, udara di komplek perumahan kami terasa lebih berat dari biasanya. Sebenarnya, hari itu dimulai dengan sangat normal, bahkan menyenangkan. Kami—aku dan gerombolan teman masa kecilku—menghabiskan siang dengan bermain masak-masakan di bawah pohon rindang, lalu beralih ke tren yang saat itu sedang booming banget: sepatu roda. Suara gesekan roda plastik di atas aspal kasar menjadi musik latar masa kecil kami yang penuh tawa.
Sekitar jam empat sore, kami mutusin buat bubar sebentar. "Mandi ya, entar habis Maghrib keluar lagi!" teriak salah satu temanku. Itu sudah jadi semacam hukum tidak tertulis di komplek kami. Mandi, wangi, lalu keluar lagi buat sekadar jajan atau duduk-duduk cerita.
Namun, sore itu ada yang berbeda. Langit selepas ashar tidak berwarna jingga hangat, melainkan abu-abu keunguan yang suram. Angin tidak berembus, membuat dedaunan tampak kaku, seolah-olah alam sedang menahan napas.
---
Setelah Maghrib, kami benar-benar keluar lagi. Kali ini kami membawa sepeda masing-masing. Kami keliling komplek, tertawa-tawa di bawah lampu jalan yang kuning temaram, mampir ke tukang jajanan, sampai akhirnya rasa bosan dan capek mulai menyerang.
"Eh, duduk di depan aula aja yuk," ajakku.
Aula itu adalah bangunan tua yang terletak agak di ujung blok. Posisinya cukup terpencil, dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun. Di sisi kirinya berderet pohon pisang yang daunnya sering robek-robek ditiup angin, lalu ada pohon nangka yang buahnya besar-besar, dan pohon cermai yang rimbun. Suasana di sana selalu beberapa derajat lebih dingin dibanding bagian komplek yang lain.
Kami semua masih duduk di atas sepeda masing-masing, membentuk lingkaran kecil di depan teras aula. Kami asyik mengobrol, menertawakan kejadian lucu saat bermain sepatu roda tadi siang. Tapi, di tengah keriuhan itu, aku mulai merasa tidak nyaman.
Ada sensasi seperti... ada yang sedang memperhatikan kami. Bukan dari arah jalan, bukan juga dari dalam aula yang gelap.
Pandanganku entah kenapa terus terlempar ke arah sebuah rumah kosong di samping aula. Di samping rumah itu, tumbuh pohon belimbing wuluh yang cabangnya menjuntai hampir menyentuh genteng. Awalnya aku nggak ambil pusing. Mungkin cuma bayangan daun, pikirku.
Tapi mataku seolah-olah ditarik paksa. Ada dorongan dari dalam hati yang berbisik, Lihat ke atas genteng itu. Lihat.
Aku mencoba membuang muka, fokus ke cerita temanku yang sedang seru-serunya. Tapi semakin aku mencoba abai, rasa dingin di tengkukku semakin menjalar ke punggung. Jantungku mulai berdegup dengan irama yang tidak beraturan. Penasaran itu mengalahkan rasa takutku.
Perlahan, aku mengangkat kepalaku. Menatap ke arah genteng rumah di bawah pohon belimbing wuluh itu.
Di sana. Di atas genteng yang gelap.
Duniaku serasa berhenti berputar. Oksigen di sekitarku seolah lenyap seketika.
Aku melihatnya. Sebuah sosok putih yang sangat kontras dengan kegelapan malam. Itu bukan bayangan pohon. Itu adalah sosok yang terbungkus kain kafan—pocong.
Posisinya tidak berdiri tegak seperti yang sering digambarkan di film-film. Sosok itu berdiri di atas genteng dengan posisi setengah menunduk, badannya condong ke arah kami yang sedang duduk di bawahnya. Seolah-olah dia sedang mengamati kami dengan sangat intens, seperti pemangsa yang mengintai mangsanya.
Aku membeku. Seluruh badanku kaku, bahkan jemariku yang memegang stang sepeda gemetar hebat. Yang paling membuatku ingin berteriak tapi tak mampu adalah wajahnya.
Wajah itu tidak rata, tidak putih bersih. Wajahnya bener-bener gosong. Hitam legam seperti kayu yang habis dibakar, tapi masih menyisakan tekstur kulit yang melepuh dan hancur. Di tengah kegosongan itu, ada dua lubang mata yang gelap, namun aku bisa merasakan tatapan kosongnya mengunci tepat ke arahku.
"Eh... kamu liat deh di atas genteng itu," bisikku ke teman yang duduk paling dekat denganku. Suaraku hampir tidak keluar, serak dan gemetar.
Temanku menoleh sekilas tanpa benar-benar memperhatikan. "Apasi, orang nggak ada apa-apa," jawabnya santai.
Aku menelan ludah yang terasa seperti duri di tenggorokan. Aku melihat lagi ke atas. Sosok itu masih di sana. Kali ini, posisi menunduknya terlihat sedikit lebih rendah, seolah dia ingin lebih dekat dengan kami. Bau anyir samar tiba-tiba tercium, bercampur dengan aroma asam dari belimbing wuluh.
"SUMPAH! KALIAN NGGAK LIAT ITU DI ATAS GENTENG ADA APA?" teriakku refleks, rasa takutku sudah di ubun-ubun.
Seketika, lingkaran obrolan yang tadinya berisik itu hening total. Keheningan yang sangat menyakitkan telinga. Teman-temanku serentak mengikuti arah telunjukku yang gemetar hebat.
"Anjir... itu apaan..." Teman di sebelahku bergumam dengan nada yang sangat ketakutan. Wajahnya yang tadi ceria langsung pucat pasi.
Ternyata mereka juga melihatnya.
Begitu kesadaran kolektif itu muncul, sosok di atas genteng itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya sedikit. Sebuah gerakan patah-patah yang mengerikan.
Tanpa komando, tanpa babibu, kami semua meledak dalam kepanikan. "LARI!!!"
Kami bahkan tidak sempat memutar balik sepeda dengan benar. Beberapa dari kami, termasuk aku, menjatuhkan sepeda begitu saja di atas tanah. Masa bodoh dengan sepeda mahal atau omelan orang tua nanti. Yang ada di pikiran kami hanyalah menjauh dari aula itu.
Aku lari sekencang mungkin, air mata mulai mengalir deras membasahi pipiku. Aku menangis bukan karena jatuh, tapi karena rasa takut yang bener-bener luar biasa. Aku merasa sosok gosong itu sedang melompat-lompat di belakangku, mengikuti dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Setiap kali aku menoleh ke belakang, bayangan kain putih yang melayang di antara pohon pisang seolah-olah mengejarku.
Begitu sampai di depan pintu rumah, aku menggedornya seperti orang gila. Mama membukakan pintu dengan wajah bingung. Aku langsung menghambur ke pelukannya, menangis sejadi-jadinya sampai sesak napas.
"Ma... tadi di aula... ada poci, Ma... mukanya gosong..." ucapku terbata-bata di antara isak tangis.
Mama terdiam, memelukku erat, tapi aku bisa merasakan tangannya sedikit mendingin. Malam itu, komplek kami yang biasanya ramai oleh anak-anak yang bermain hingga larut, tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Semua teman-temanku sudah masuk ke rumah masing-masing, meninggalkan sepeda-sepeda kami tergeletak tak bertuan di depan aula yang gelap.
Hingga saat ini, aku tidak pernah lagi mau melewati jalan depan aula itu jika hari sudah beranjak gelap. Karena aku tahu, di bawah rimbunnya pohon belimbing wuluh dan di atas genteng tua itu, ada sesuatu yang gosong yang mungkin masih setia menunduk, menunggu anak-anak lain untuk diawasi.
---