Malam itu, suasana di rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Jarum jam dinding di ruang tengah berdetak dengan ritme yang seolah-olah menggedor kesunyian. Aku memilih tinggal sendiri karena rasa malas yang luar biasa untuk ikut ke acara keluarga. Adikku, orang tuaku, semuanya pergi. Aku merasa beruntung bisa menikmati "me time" dengan rebahan di kamar sambil menggulir layar ponsel.
Sekitar tengah malam, mereka belum juga kembali. Aku masih terjaga, diterangi cahaya biru dari layar HP yang menyilaukan mata. Di luar, hujan tidak turun, tapi angin berembus kencang, sesekali membuat ranting pohon mangga di samping rumah menggores dinding dengan suara srek... srek... yang monoton.
Tiba-tiba, pet!
Lampu padam. Kegelapan pekat langsung menyergap. Aku menghela napas panjang, merasa kesal karena kenyamananku terganggu. Namun, karena daya baterai HP masih penuh, aku bersikap bodo amat. Aku menyalakan fitur senter sebentar untuk mencari posisi bantal yang nyaman, lalu kembali asyik dengan dunia mayaku.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu depan memecah keheningan. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Apakah mereka sudah pulang? pikirku. Tapi aneh, biasanya mereka langsung membuka pintu dengan kunci cadangan atau memanggil namaku dengan keras. Ketukan ini terdengar sopan, namun sangat konsisten.
Aku bangkit, berjalan perlahan melewati ruang tamu yang gelap menuju pintu depan. Tanganku meraih gerendel, menariknya pelan, dan membuka pintu lebar-lebar.
Kosong.
Hanya ada hembusan angin malam yang dingin dan aroma tanah yang lembap. Tidak ada mobil di garasi, tidak ada bayangan siapa pun di halaman. Aku mengerutkan kening, menutup pintu kembali, dan menguncinya rapat-rapat. Mungkin hanya iseng tetangga atau sekadar halusinasiku.
Saat aku melangkah kembali ke dalam kamar, bulu kudukku meremang hebat. HP yang tadi aku letakkan di atas kasur dalam keadaan layar mati, kini menyala sendiri. Cahayanya berpendar-pendar di langit-langit kamar, seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang mengoperasikannya. Begitu aku mendekat, layar itu mati kembali.
Bersamaan dengan itu, jepret! Lampu rumah kembali menyala.
Aku mencoba mengatur napas. "Mungkin cuma korsleting," gumamku menenangkan diri. Aku berjalan ke dapur, tenggorokanku terasa kering. Aku mengambil gelas kaca, menuangkan air, dan meminumnya perlahan. Semuanya tampak normal. Cahaya lampu dapur yang terang sedikit mengikis rasa takutku.
Namun, teror yang sebenarnya baru saja dimulai saat aku kembali ke kamar untuk tidur.
Kamar itu dihuni oleh sebuah perabot tua yang sudah ada sejak aku kecil: sebuah lemari kayu jati besar. Lemari itu khas buatan pengrajin Jawa kuno, kayu hitamnya tampak kokoh namun menyimpan kesan mistis. Yang paling mencolok adalah cermin besar yang tertanam di pintunya, memanjang dari atas hingga ke bawah. Sialnya, posisi tempat tidurku tepat menghadap ke cermin itu.
Aku merebahkan diri, mematikan lampu kamar, dan mencoba memejamkan mata. Posisi tidurku miring, langsung berhadapan dengan pantulanku sendiri di cermin yang remang-remang terkena cahaya lampu jalan dari celah gorden.
Baru saja kesadaranku mulai melayang menuju lelap, sebuah dorongan aneh membuat mataku terbuka.
Di dalam cermin, di balik pantulan tubuhku yang membeku, berdiri seorang sosok wanita. Ia berdiri tegak, rambutnya panjang dan berantakan. Aku terkesiap, jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mengerjapkan mata dengan cepat, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya bayangan baju yang tergantung.
Saat aku berkedip untuk kedua kalinya, sosok itu hilang.
"Hanya halusinasi," bisikku pada diri sendiri. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku. Aku mencoba tenang, mengatur napas, dan kembali menutup mata. Aku sangat mengantuk, tapi tubuhku mendadak terasa berat.
Begitu aku hampir kehilangan kesadaran, dadaku terasa sesak. Oksigen seolah-olah ditarik paksa dari paru-paruku. Ada sesuatu yang menahan leherku, bukan seperti tangan yang mencekik, tapi seperti tekanan energi yang sangat besar. Aku tersentak bangun, megap-megap mencari udara.
Mataku menyapu seisi kamar. Di seberang kasur, di sudut gelap dekat lemari tua itu, ada sesuatu. Sebuah sosok hitam pekat, menyerupai bentuk manusia, tapi tanpa wajah. Seluruh tubuhnya seperti gumpalan asap hitam yang padat. Kepalaku mendadak pusing hebat, berdenyut-denyut seakan ada ribuan jarum yang menusuk sarafku. Karena takut yang luar biasa, aku langsung menutup mata rapat-rapat, meringkuk di balik selimut.
*Jangan buka mata, jangan buka mata,* perintah hatiku.
Tapi rasa penasaran dan rasa sakit di leherku memaksa mataku terbuka sekali lagi.
Kali ini, dia tidak di sudut ruangan.
Dia ada di atas lantai, tepat di samping tempat tidurku. Sosok wanita itu kembali. Rambutnya pendek sebahu, compang-camping. Wajahnya... hancur. Kulitnya mengelupas menunjukkan daging kemerahan di bawahnya, dan matanya melotot kosong ke arahku. Dia mengenakan baju putih kusam yang tidak terlalu panjang.
Dia tidak berjalan. Dia merayap.
Gerakannya patah-patah, suaranya seperti tulang yang bergeser. Dia merayap naik ke atas kasur, wajah hancurnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Bau anyir dan tanah kuburan tercium sangat menyengat. Aku membeku, lidahku kelu untuk berteriak.
Tepat saat wajahnya hampir menyentuhku, aku berkedip dalam kepanikan luar biasa.
Dan dia hilang lagi.
Tanpa pikir panjang, aku menyambar HP-ku. Aku tidak berani mematikan lampu, aku tidak berani menutup mata lagi. Aku duduk di pojok kasur, membelakangi cermin, dan terus bermain HP hingga fajar menyingsing. Jam lima pagi, saat suara ayam berkokok mulai terdengar, aku baru berani keluar kamar dengan tubuh yang lemas dan wajah pucat pasi.
Esoknya, aku menceritakan kejadian ini kepada Nenek. Keluarga kami memang kental dengan tradisi dan budaya Jawa. Nenek mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya tenang namun dalam.
"Itu buyutmu, Le," ucap Nenek pelan.
Aku langsung menggeleng. "Mana mungkin, Nek? Wajahnya hancur, dia mencekikku. Masa buyut sendiri seperti itu?"
Nenek hanya tersenyum tipis tanpa menjelaskan lebih lanjut, seolah ada rahasia yang belum waktunya aku tahu. Tak puas, aku bercerita kepada seorang teman yang juga mendalami sejarah dan mistisisme Jawa. Begitu aku menyebutkan soal posisi tidur dan lemari itu, dia langsung memotong pembicaraanku dengan nada marah.
"Kamu gila ya? Jangan pernah tidur menghadap cermin, apalagi kalau lemarinya kayu tua seperti itu!" bentaknya. "Cermin itu pintu, dan lemari kayu tua itu adalah 'rumah' bagi mereka yang sudah tidak ada. Kamu itu seperti mengundang mereka untuk masuk ke tubuhmu saat kamu tidur."
Sejak saat itu, aku meminta bantuan untuk menggeser lemari kayu jati itu. Aku tidak mau cerminnya menghadap ke arahku lagi. Rasa tidak percayaku pada ucapan Nenek mulai luntur ketika aku teringat detail lemari itu. Lemari itu bukan plastik murahan, itu kayu tua yang penuh ukiran, peninggalan turun-temurun.
Aku mulai percaya itu adalah buyutku. Bukan karena dia ingin menyakitiku, tapi mungkin karena ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau mungkin karena aku telah melanggar batasan antara dunia kita dan dunia mereka yang bersemayam dalam kayu tua itu. Ada alasan-alasan lain yang jauh lebih kelam yang membuatku akhirnya yakin... tapi biarlah itu menjadi rahasia yang kusimpan sendiri untuk saat ini.
---