Waktu itu pukul tiga sore. Matahari sedang terik-teriknya, seolah berusaha membakar aspal jalanan. Aku pulang sekolah dengan tubuh super lelah, rasanya tulang-tulangku mau rontok. Seragam putih abu-abu masih melekat di badan, keringat membasahi punggung. Di rumah cuma ada Abang. Orang tua kami sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
Aku nggak langsung ganti baju atau bersih-bersih. Pikiranku cuma satu: kasur. Aku melempar tas sekolah sembarangan, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur. Hari itu, tubuhku rasanya lebih berat dari biasanya. Mungkin karena aku lagi dapet haid, perut bagian bawahku kram, bikin emosi jadi gampang tersulut dan badan rasanya nggak enak banget. Tanpa butuh waktu lama, aku pun jatuh tertidur, nyenyak banget.
Dalam lelapku, samar-samar aku mendengar suara Abang. Dia memanggil namaku, terdengar jauh, seperti dari balik tembok tebal. Dia bilang mau pergi main sama teman-temannya. Dia bilang sudah bangunin aku, sudah ngunci semua jendela, pintu depan, gorden sudah ditarik rapat, dan yang paling penting, semua lampu rumah sudah dinyalain, mulai dari lampu teras, ruang tamu, dapur, gudang, sampai lampu kamar mandi. Katanya dia pergi sekitar jam setengah enam sore.
Posisi tidurku di kamar itu menyamping, menghadap tembok. Pintuku nggak dikunci, itulah kenapa Abang bilang dia bisa masuk dan coba bangunin aku, tapi aku nggak bergeming. Aku terlalu tenggelam dalam mimpi.
Lalu, sesuatu membangunkanku.
Tepat saat adzan Maghrib berkumandang.
Suara muadzin dari masjid dekat rumah terdengar jelas, bergema di udara sore yang sunyi. Aku membuka mata perlahan. Mataku mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan dengan cahaya.
Tapi, tidak ada cahaya.
Semuanya... gelap. Gelap total. Gelap yang mengerikan.
Gelap yang seolah menyelimuti diriku, menindas dari segala arah. Aku terkesiap. Ini aneh. Ini sangat, sangat aneh.
Normalnya, bahkan jika lampu kamar mati, cahaya dari pentilasi jendela masih akan masuk, apalagi ini baru awal Maghrib. Harus ada warna jingga redup dari langit sore yang menembus celah-celah itu. Tapi kali ini, jendela, pentilasi, semuanya seperti tertutup rapat oleh kegelapan pekat. Gelap yang pekat dan menyesakkan.
Dan yang paling menakutkan, aku tidak bisa bergerak.
Sama sekali tidak bisa bergerak.
Badanku kaku, seolah tertancap di kasur. Jariku pun tidak bisa kugoyakkan. Otakku sadar penuh, aku bisa mendengar adzan, aku bisa melihat kegelapan, aku bisa merasakan detak jantungku yang mulai berpacu cepat, tapi tubuhku mengkhianatiku.
Ini pasti mimpi, pikirku. Ini pasti mimpi buruk. Ini fenomena tindihan atau 'sleep paralysis', aku sudah sering dengar, tapi baru kali ini mengalaminya. Aku mencoba meyakinkan diri sendiri, "Ini cuma mimpi, Kia. Tenang. Tarik napas. Ini bukan nyata."
Aku mencoba menutup mata lagi, berharap saat aku membukanya nanti, semuanya akan kembali normal. Kegelapan ini terlalu menekan, seolah ada sesuatu yang mengawasiku dari sudut kamar yang paling gelap.
Di tengah ketakutan itu, pendengaranku semakin tajam. Suara adzan Maghrib masih terdengar, namun ada suara lain yang menyusup di antaranya. Suara halus, tapi jelas.
Suara jendela... terbuka dan tertutup.
Kret... jeduk. Kret... jeduk.
Itu bukan suara jendela yang tertutup rapat. Itu suara jendela yang tidak terkunci, yang bergerak tertiup angin.
Suara itu terdengar jelas dari arah ruang tamu. Jantungku serasa copot. Kalau Abang bilang sudah mengunci semua, bagaimana bisa ada jendela yang terbuka?
Ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Aku ingin berteriak, tapi lidahku kelu. Aku ingin lari, tapi kakiku mati rasa.
Aku membiarkan diriku tenggelam kembali dalam rasa kantuk yang tiba-tiba datang lagi, lebih karena putus asa daripada rasa lelah. Aku berharap, sangat berharap, bahwa saat aku bangun nanti, semuanya akan terbukti hanya imajinasi liar seorang remaja yang sedang lelah.
---
Aku terbangun lagi.
Tepat pukul tujuh malam.
Kali ini, aku terbangun dengan sentakan. Badanku bisa bergerak, tapi rasa sakit langsung menyerang. Bahuku... lenganku... rasanya perih dan pegal luar biasa, seperti habis dipukuli.
Aku duduk di tempat tidur dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Aku menatap sekeliling.
Kegelapan masih ada. Tapi ini bukan gelap total yang aneh tadi. Ini gelap karena memang tidak ada lampu yang menyala.
Aku segera meraih HP yang kuletakkan di kasur. Cahaya layar HP terasa menyilaukan mata yang sudah terbiasa gelap. Pukul 19.01.
Pikiranku langsung teringat pada suara jendela yang tadi kudengar.
Aku menyeret tubuhku yang terasa sakit menuju sakelar lampu di kamar. Tanganku gemetar saat menekan tombolnya. Klik.
Lampu kamar menyala.
Aku langsung tersentak. Aku menatap tempat tidurku.
Di atas kasur busa yang biasa kutiduri, ada cetakan badan yang... sangat dalam. Lebih dalam dari biasanya. Dan anehnya, cetakan itu terlihat bukan seperti bekas tubuhku yang sedang tidur menyamping. Cetakan itu lebih lebar, lebih... berat. Seolah ada sesuatu yang besar dan berat yang baru saja berbaring di sana, menindih tempatku tidur.
Aku menelan ludah. Rasa sakit di bahu dan lenganku semakin terasa. Aku perlahan mengangkat lengan kaos sekolahku.
Di sana, di kulitku yang pucat, terlihat bekas cakar merah keunguan. Jelas sekali. Tiga garis merah yang mengukir kulitku, dan di sekitarnya warna kulitku mulai membiru. Itu bukan bekas gigitan nyamuk. Itu bekas cakar.
Cakar yang begitu dalam, seolah-olah sesuatu mencoba mencengkeramku dengan sangat erat.
Jantungku berdetak kencang, suaranya seperti genderang perang di dadaku. Ini bukan mimpi. Ini bukan mimpi.
Aku memberanikan diri melangkah keluar kamar. Kegelapan di ruang tamu dan dapur terasa lebih mengancam daripada kegelapan di kamarku tadi. Aku berjalan perlahan, tangan menyusuri dinding, mencari sakelar lampu.
Setiap sakelar lampu yang kutekan, tidak ada yang berfungsi. Lampu-lampu itu mati. Mati total.
Aku terus berjalan menuju ruang tamu. Suara jendela yang *kret... jeduk* tadi sore kembali terngiang.
Dan benar saja. Di ruang tamu, semua gorden terbuka lebar. Semua jendela tidak terkunci. Beberapa jendela bahkan terbuka setengah, membiarkan angin malam yang dingin masuk dengan bebas ke dalam rumah.
Pintu depan? Tidak terkunci.
Gudang? Pintunya sedikit terbuka, gelap gulita di dalamnya.
Kamar mandi? Pintunya juga terbuka, lampunya mati.
Semuanya berlawanan dengan apa yang Abang katakan.
Air mata ketakutan mulai mengalir di pipiku. Aku bergidik, badanku gemetar hebat. Rasa sakit di bahu dan lenganku semakin terasa. Perasaan bahwa aku tidak sendirian di rumah ini semakin menguat. Kegelapan itu seolah memiliki mata yang sedang mengamatiku dari setiap sudut.
Dengan tangan gemetar, aku meraih HP-ku lagi. Aku membutuhkan suara yang kukenal. Aku butuh kepastian.
Aku menelepon teman dekatku, Rina.
"Halo, Rina..." suaraku terdengar serak dan bergetar, aku tidak bisa menahan tangis.
"Kia? Kamu kenapa? Kok nangis?" Rina terdengar panik.
Aku menceritakan semuanya. Mulai dari aku yang tidur dari jam tiga sore, Abang yang pergi dan bilang sudah mengunci semua, aku yang bangun saat adzan Maghrib dalam kegelapan total dan tidak bisa bergerak, suara jendela terbuka, cetakan aneh di kasur, sampai bekas cakar di lenganku.
Rina diam mendengarkan, lalu suaranya terdengar serius. "Kia, kamu... itu bukan mimpi biasa. Kamu ketindihan setan."
Aku sempat terdiam, mencerna kata-kata Rina. Ketindihan setan? Aku sering dengar fenomena itu, tapi selalu menganggapnya takhayul. Tapi, bukti di lenganku... cetakan di kasur... bagaimana penjelasannya?
"Tapi... Abang bilang dia sudah kunci semua, Rin. Dia bilang lampu hidup semua. Kenapa pas aku bangun semuanya mati dan terbuka?" tanyaku, masih mencari logika di tengah ketakutan.
"Kadang... mereka bisa melakukan itu, Kia. Mereka bisa memanipulasi apa yang kita lihat dan rasakan saat kita di ambang antara sadar dan tidak," Rina mencoba menjelaskan dengan nada yang hati-hati, tapi penjelasannya justru membuatku semakin takut. "Terlebih lagi, kamu lagi haid. Katanya... mereka suka aroma itu."
Penjelasan Rina membuat bulu kudukku berdiri semua. Aku teringat kram di perutku, rasa tidak enak badan yang aneh sore tadi. Semuanya terasa masuk akal sekarang, tapi logikaku menolak untuk menerimanya.
Aku harus memastikan ini. Aku harus menghubungi Abang.
Aku menutup telepon dengan Rina dan langsung mendial nomor Abang.
Panggilanku tidak langsung dijawab. Jantungku semakin berdebu.
Akhirnya, suara Abang terdengar. "Halo? Kenapa, Kia?" suaranya terdengar santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bang... kenapa lampu rumah mati semua? Jendela juga kenapa pada kebuka?" tanyaku, suaraku pecah, aku mulai menangis tersedu-sedu lagi. Ketakutan itu benar-benar menguasaiku.
Ada jeda di seberang sana. Abang terdengar bingung. "Loh, kan Abang sudah bilang, semua lampu Abang hidupin, sampai lampu kamar mandi sama gudang. Gorden sama jendela juga udah Abang tutup rapi semua. Nggak ada satu pun yang kebuka."
Mendengar itu, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Seluruh tubuhku lemas. Penjelasan Abang justru mengonfirmasi ketakutanku yang paling mengerikan.
"Bang, di kamar aku... ada cetakan di kasur, dalem banget, bukan bekas tidur aku. Dan lenganku... ada bekas cakar merah sama biru," aku mengucapkannya sambil menangis tersedu-sedu, gemetar setengah mati.
"Kia, kamu jangan bercanda. Mana mungkin?" Abang terdengar mulai panik juga.
"Aku serius, Bang! Aku takut banget! Buruan pulang, Bang!" teriakku putus asa.
Aku langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Abang. Aku tidak berani diam di dalam rumah lagi. Perasaan bahwa aku sedang diamati semakin menguat. Kegelapan di dalam rumah seolah-olah mulai bergerak.
Aku berlari menuju pintu depan, membukanya lebar-lebar, dan keluar dari rumah. Aku duduk di teras depan, di bawah cahaya lampu jalan yang redup, menunggu Abang pulang.
Malam itu, aku tidak berani masuk lagi ke kamarku. Aku tidur di sofa di ruang tamu dengan semua lampu menyala terang. Bekas cakar di lenganku semakin membiru, seolah-olah mengingatkanku bahwa apa yang kualami itu nyata.
Aku memang ketindihan.
Dan yang menindihku bukan sekadar mimpi.
Itu adalah sesuatu yang nyata, sesuatu yang muncul di ambang Maghrib, saat kegelapan paling pekat, dan saat aku paling rentan. Sesuatu yang meninggalkan jejak di tubuhku dan rasa takut yang akan selalu menghantuiku setiap kali adzan Maghrib berkumandang dan lampu di rumah mati.
Rasa dingin yang aneh, suara jendela yang terbuka, kegelapan total, dan bekas cakar itu... semuanya akan selalu mengingatkanku bahwa ada dunia lain yang mengawasi, yang bisa menyentuh kita, dan terkadang, yang menindih kita di antara sadar dan tiada.