Teras rumah itu selalu beraroma kayu manis dan bawang goreng. Bagi teman-temanku, rumah di ujung gang itu bukan sekadar bangunan beton, melainkan pelabuhan. Di sana, ada seorang wanita dengan celemek motif bunga yang selalu menyambut dengan kalimat, "Sudah makan, Nak?" seolah itu adalah mantra pembuka gerbang kebahagiaan.
Mama. Sosoknya adalah definisi dari kelembutan yang tidak bertepi. Sejak aku SD, SMP, hingga kini aku duduk di bangku kuliah, Mama tidak pernah berubah. Ia adalah tipe ibu yang "siap menjadi ibu" bagi siapa saja yang melangkah masuk ke ruang tamu kami.
Jika ada tugas kelompok, aku tidak perlu repot mencari sukarelawan untuk menjadi tuan rumah. Teman-temanku akan dengan senang hati berteriak, "Di rumah Abang saja!"
Alasannya sederhana: Standar pelayanan Mama setara dengan hotel bintang lima plus kehangatan rumah yang tidak bisa dibeli. Jika mereka datang dari pagi, Mama akan memastikan jadwal makan mereka teratur layaknya asrama. Sarapan pukul delapan, makan siang tepat pukul dua belas, dan makan malam jika tugas belum usai.
Tak hanya itu, ada ritual yang mereka sebut sebagai "Snack Time with Mama". Di sela-sela kami bergelut dengan tumpukan jurnal atau coding yang rumit, Mama akan muncul membawa nampan. Isinya bisa bermacam-macam; kadang potongan buah segar yang disusun rapi, puding cokelat dengan vla yang masih hangat, atau kreasi terbaru Mama seperti bakwan jagung keju atau dimsum ayam buatannya sendiri.
"Coba dicicipi, Nak. Kurang garam tidak? Atau teksturnya terlalu lembek?" tanya Mama lembut sambil menunggu testimoni jujur dari teman-temanku.
Bagi teman-temanku, itu adalah surga. Tapi bagiku, itu adalah standar yang kemudian membuatku "cacat" secara sosial saat harus berada di rumah orang lain.
---
Sore itu, mendung menggantung rendah di langit. Untuk pertama kalinya dalam satu semester, kerja kelompok diputuskan diadakan di rumah Rendy. Aku tidak enak hati untuk menolak terus-menerus. Aku tidak ingin dianggap egois karena selalu ingin menjadi pusat perhatian di rumahku sendiri.
Rendy adalah teman yang baik, tapi ibunya adalah tipe yang berbeda. Beliau wanita karier yang sibuk, yang melihat tamu sebagai tanggung jawab yang harus segera selesai.
Pukul satu siang, perutku mulai berbunyi. Teman-temanku yang lain, yang mungkin sudah terbiasa dengan budaya "jajan di luar", mulai membuka aplikasi pesan antar atau sekadar makan biskuit yang dibawa masing-masing. Namun aku? Aku punya penyakit yang sulit disembuhkan: aku tidak bisa makan sembarangan.
Aku terbiasa dengan kebersihan dapur Mama. Aku terbiasa dengan rasa cinta yang diaduk dalam setiap bumbu. Bagiku, makan di luar terasa asing dan berisiko bagi perutku yang sensitif. Jadi, aku memilih diam. Menahan lapar yang melilit.
Puncaknya adalah saat jarum jam menunjukkan pukul dua. Ibu Rendy keluar dari kamarnya, menatap kami dengan senyum yang dipaksakan.
"Rendy, makan siang dulu sana di dalam. Teman-temannya disuruh pulang dulu ya, atau suruh cari makan di luar dulu. Nanti jam empat baru lanjut lagi ya, Rendy mau istirahat sebentar," ucapnya datar.
Kalimat itu menghantamku. Di rumahku, jika teman-temanku lapar, Mama justru akan sibuk di dapur menambah porsi nasi. Di sini, kehadiran kami dianggap sebagai interupsi bagi jam makan pemilik rumah. Kami "diusir" secara halus.
Teman-temanku yang lain langsung pamit menuju warung kopi di depan gang. "Yuk, Bang, makan mie instan di depan," ajak mereka.
Aku menggeleng. "Kalian duluan saja, aku mau pulang sebentar, ada yang ketinggalan," dustaku.
Aku pulang dengan perut kosong yang terasa perih. Sepanjang jalan, aku membayangkan betapa berbedanya dunia di luar sana.
---
Begitu aku membuka pintu rumah, aroma sup ayam dan sambal terasi langsung menyergap indra penciumanku. Di meja makan, Mama sedang merapikan tudung saji. Ia menoleh, matanya yang teduh langsung menangkap gurat pucat di wajahku.
"Loh, katanya sampai malam di rumah Rendy?" tanya Mama heran.
Aku tidak menjawab. Aku langsung duduk di kursi meja makan, menyendok nasi dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya, lalu menyiramnya dengan kuah sup yang masih mengepul. Aku makan dengan kalap, seolah-olah aku baru saja tersesat di padang pasir selama berhari-hari.
Mama duduk di hadapanku, memperhatikanku dalam diam. Tangannya yang mulai sedikit keriput mengelus pundakku perlahan.
"Pelan-pelan, Abang... nanti tersedak," bisiknya khawatir. "Disana tidak dikasih makan, Nak? Sampai seperti itu makannya."
Aku menelan suapan terakhir dengan susah payah, lalu meneguk segelas air putih sampai tandas. Aku menghela napas panjang, mencoba menetralkan rasa perih di lambungku.
"Iya, Ma. Tadi disuruh pulang dulu sama Mamanya Rendy karena Rendy mau makan dulu. Yang lain pada cari makan di luar, tapi Abang malas jajan," jawabku jujur, nada suaraku terdengar sedikit getir.
Mama terdiam sejenak. Ada gurat kesedihan yang melintas di matanya, jenis kesedihan yang hanya dimiliki oleh seorang ibu ketika tahu anaknya merasa tidak diinginkan di tempat lain.
"Kenapa tidak ikut beli saja, Nak? Biar perutmu tidak kosong," tanya Mama lagi, suaranya kini bergetar halus.
Aku menatap mata Mama, tulus. "Ya tidak apa-apa, Ma. Abang mau makan masakan Mama saja. Lebih enak, lebih bersih, dan rasanya beda. Masakan Mama itu... bikin tenang."
Mendengar itu, Mama tidak tersenyum bangga. Ia justru menunduk, tangannya memegang jemariku di atas meja.
"Nak," panggilnya lirih. "Kalau ada kerja kelompok lagi, atau mau main-main sama kawan-kawan Abang, di rumah kita saja ya? Biar Abang tidak kelaparan seperti itu."
"Tapi Ma, nanti Mama capek masak buat orang banyak terus," potongku.
Mama menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah. "Mama sedih, Bang. Mama sedih kalau tahu Abang harus menahan-nahan lapar seperti itu hanya karena sungkan atau karena keadaan di sana. Di rumah ini, Mama tidak pernah membiarkan Abang merasa kekurangan sedikit pun, apalagi sampai kelaparan."
Mama menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melanjutkan ucapannya yang paling menyentuh hatiku hari itu.
"Mama tidak pernah berharap, dan tidak akan pernah menuntut orang lain untuk memperlakukan Abang sama seperti Mama memperlakukan teman-teman Abang di sini. Mama tahu setiap rumah punya aturannya sendiri. Mama hanya ingin satu hal, Nak... Mama cuma tidak mau Abang kelaparan. Itu saja."
Kalimat itu sederhana, tapi beratnya melebihi beban tugas kuliahku yang menumpuk. Di dalam sana, ada kasih sayang yang egois namun murni—sebuah proteksi mutlak dari seorang ibu yang tidak rela anaknya merasakan pahitnya dunia luar, bahkan meski itu hanya sekadar rasa lapar di sore hari.
---
Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah teman untuk kerja kelompok. Aku selalu menjadi orang pertama yang mengangkat tangan dan berkata, "Di rumahku saja, semuanya sudah tersedia."
Teman-temanku tentu saja bersorak kegirangan. Mereka tidak tahu bahwa di balik keriuhan kami di ruang tamu, ada seorang wanita yang dengan senang hati berkutat dengan bumbu dapur, memastikan tidak ada satu pun dari kami yang merasa "diusir" atau merasa perutnya kosong.
Rumahku resmi menjadi "basecamp". Terkadang aku merasa sedikit bersalah melihat Mama yang harus mencuci piring ekstra banyak atau bangun lebih pagi untuk menyiapkan camilan. Namun, setiap kali aku melihat wajahnya yang berseri-seri saat teman-temanku memuji masakannya, atau saat ia melihatku makan dengan lahap di rumah sendiri, aku tahu itulah kebahagiaannya.
Kini aku mengerti, menjadi "ibu yang siap menjadi ibu" bukan hanya tentang memberi makan, tapi tentang menciptakan ruang di mana tidak ada satu pun jiwa yang merasa terlupakan.
Dan bagiku, masakan Mama bukan sekadar pengganjal lapar. Ia adalah benteng. Ia adalah bukti bahwa di tengah dunia yang terkadang dingin dan tidak peduli, aku selalu punya tempat untuk pulang, di mana piringku selalu penuh dan hatiku selalu utuh.
Mama memang tidak bisa mengontrol bagaimana dunia memperlakukanku, tapi dia memastikan bahwa di bawah atapnya, aku adalah raja yang paling dicintai. Dan bagi seorang anak, pengetahuan itu lebih dari cukup untuk menghadapi dunia sehebat apa pun.
---