Tribun lapangan basket sudah hampir kosong. Botol plastik dan kertas berserakan di bawah kursi. Alana masih duduk di barisan atas sambil memegang tasnya. Matanya mengikuti Gavin yang masih berdiri sendirian di tengah lapangan.
Gavin baru saja membawa tim sekolah menang tipis. Dia berjalan pelan menuju pinggir lapangan sambil mengusap wajahnya dengan kaus. Sorak-sorai penonton sudah lama hilang. Gedung olahraga terasa jauh lebih sunyi sekarang.
Alana seharusnya sudah pulang.
Namun dia tetap duduk di tempatnya.
Gavin mengangkat kaosnya sebentar untuk menyeka wajah. Gerakan itu membuat Alana buru-buru memalingkan muka. Langkah kaki Gavin kemudian terdengar mendekat ke tribun.
Dia menaiki anak tangga satu per satu. Suaranya menggema di ruangan kosong.
Gavin akhirnya duduk di samping Alana tanpa bertanya.
Alana menyodorkan botol air mineral yang sejak tadi dia pegang.
"Gue pikir lo udah balik duluan," kata Gavin.
Suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. Dia membuka botol itu dengan satu tangan.
Gavin minum cukup lama.
Beberapa tetes air jatuh ke kerah jersey merahnya. Dia menurunkan botol itu lalu menghela napas pendek.
"Gue cuma nggak mau lo punya alasan buat nyebar sketsa itu," jawab Alana.
Gavin tertawa kecil.
Dia menoleh ke arah Alana. Rambutnya masih basah oleh keringat dan menempel di dahi.
Tatapannya tidak setajam biasanya.
Gavin menyandarkan kepala ke dinding tribun.
"Kadang gue capek juga," katanya pelan.
"Harus selalu jadi nomor dua di mata lo."
Alana menoleh sedikit ke arahnya.
Kalimat itu membuatnya diam cukup lama.
Selama ini dia selalu melihat Gavin sebagai lawan. Sosok yang harus dikalahkan setiap ujian dan lomba. Dia tidak pernah memikirkan sisi lain dari cowok itu.
Tangannya bergerak sebentar.
Lalu dia meremas tali tasnya lagi.
"Lo nggak pernah jadi nomor dua," kata Alana akhirnya.
"Lo cuma musuh paling nyebelin yang pernah gue punya."
Gavin membuka matanya.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Dia berdiri dari tempat duduknya.
Gavin lalu mengulurkan tangan ke arah Alana.
"Ayo pulang," katanya.
Alana menatap tangan itu sebentar.
Kemudian dia meletakkan tangannya di sana.
Gavin menariknya berdiri.
Mereka berjalan keluar gedung olahraga tanpa banyak bicara. Koridor sekolah sudah gelap dan hampir kosong.
Langit di luar berubah ungu gelap.
Udara malam terasa lebih dingin.
Mereka berhenti di parkiran motor.
Gavin akhirnya melepaskan tangan Alana.
Dia naik ke motor hitamnya.
Helm dipasang dengan cepat.
"Besok jam delapan," katanya.
"Jangan telat."
Mesin motor dinyalakan.
Motor itu keluar dari parkiran dengan suara pelan.
Alana masih berdiri di sana.
Tangannya terangkat sedikit saat motor Gavin menjauh dari gerbang sekolah.
Dia baru sadar kalau dirinya tersenyum.