Lapangan basket sekolah sore itu penuh teriakan. Alana berdiri di barisan penonton paling belakang dengan topi hitam dan masker. Dia tidak suka keramaian, tapi ancaman Gavin membuatnya datang. Matanya terus mengikuti pemain bernomor punggung 07.
Gavin bergerak lincah di tengah lapangan. Jersey tanpa lengan membuat gerakan tangannya terlihat jelas setiap kali ia melompat. Sorakan dari penonton perempuan di sekitar Alana terdengar semakin keras. Alana pura-pura melihat ke arah lain.
Botol air di tangannya diremas sampai plastiknya berbunyi.
Peluit babak kedua terdengar panjang. Tim Gavin unggul cukup jauh. Gavin berjalan ke pinggir lapangan sambil mengusap wajahnya dengan ujung jersey.
Matanya menyapu barisan penonton. Seolah sedang mencari seseorang. Alana refleks menunduk di balik topinya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan masuk dari Gavin.
"Gue tau lo di sana. Jangan sembunyi."
Alana mendongak. Gavin berdiri di pinggir lapangan sambil menatap langsung ke arahnya. Dia mengangkat botol minum seolah melakukan cheers.
Alana memutar mata. Tangannya memberi isyarat jari tengah kecil di depan dada.
Pertandingan dimulai lagi dengan permainan lebih kasar. Beberapa pemain lawan sengaja menjatuhkan Gavin. Alana tanpa sadar melangkah sedikit lebih dekat ke lapangan.
Dia menggerutu pelan.
Gavin akhirnya melakukan slam dunk tepat sebelum peluit akhir. Suara penonton meledak memenuhi lapangan. Tim basket sekolah menang telak.
Alana langsung berbalik.
Dia berjalan cepat menuju parkiran motor. Helmnya sudah hampir terpasang ketika sebuah tangan menahan stang motornya.
Alana menoleh tajam.
"Mau kabur kemana, Sang Seniman?"
Gavin berdiri di samping motornya dengan nafas masih cepat. Rambutnya basah oleh keringat dan jersey basketnya masih dipakai.
Beberapa siswi yang lewat melirik ke arah mereka.
"Urusan gue selesai. Gue udah dateng," kata Alana.
"Sekarang hapus rahasia itu dari otak lo."
Gavin tertawa kecil.
Dia mengambil botol air mineral dari tangan Alana. Tutupnya dibuka dengan sekali putaran.
Dia meminum air itu sampai habis.
Botol kosong dikembalikan ke tangan Alana.
"Rahasianya masih di sini," kata Gavin sambil menunjuk pelipisnya.
"Tapi karena lo dateng, gue kasih diskon."
Alana mengerutkan dahi.
"Latihan besok gue liburin."
Gavin melangkah sedikit lebih dekat. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Suaranya turun lebih pelan.
"Topi itu cocok di lo."
Alana menegang.
"Tapi gue lebih suka liat muka marah lo tanpa penghalang."
Gavin menepuk helm Alana dua kali.
Lalu dia berjalan pergi menuju gedung olahraga dengan santai. Beberapa pemain timnya memanggil dari jauh.
Alana masih duduk di atas motornya beberapa detik.
Dia akhirnya menyalakan mesin motor.
Motor itu melaju keluar gerbang sekolah lebih cepat dari biasanya.