Namaku Alya Sasmita. Usia dua puluh tiga tahun. Seorang perempuan biasa yang hidup di rumah sederhana di pinggir kota. Ayah sudah lama meninggal, dan ibu bekerja menjahit baju tetangga untuk menghidupi kami. Hidup kami tidak pernah benar-benar kekurangan, tapi juga tidak pernah berlebih.
Sampai suatu hari, hidupku berubah karena seorang pria berusia lima puluh lima tahun.
Namanya Pak Arman Sastrawiharja.
Aku pertama kali bertemu dengannya di acara pengajian yang diadakan oleh seorang tetangga. Ia datang dengan mobil hitam besar yang membuat orang-orang di kampungku menoleh. Bukan hanya mobilnya yang mencuri perhatian, tapi juga sikapnya yang tenang, rapi, dan penuh wibawa.
Rambutnya sudah banyak yang memutih. Wajahnya tegas dengan garis-garis usia yang jelas. Tapi matanya hangat.
Aku tidak pernah berpikir bahwa pria itu akan melamarku.
---
Seminggu setelah pertemuan itu, ibu memanggilku ke ruang tamu.
“Alya, duduk dulu,” kata ibu pelan.
Di depan ibu duduk Pak Arman. Ia tersenyum ketika aku datang. Jantungku berdegup lebih cepat. Aku tidak tahu kenapa.
“Pak Arman mau bicara sesuatu,” kata ibu.
Pak Arman menarik napas dalam-dalam.
“Alya,” katanya lembut, “saya datang bukan hanya untuk bersilaturahmi. Saya datang untuk melamar kamu.”
Dunia terasa berhenti.
Aku menatap ibu. Ibu menatapku balik, seolah ingin berkata bahwa ini keputusan yang harus kupikirkan sendiri.
“Apa?” suaraku hampir tidak keluar.
Pak Arman tidak terlihat tersinggung dengan reaksiku. Ia justru tersenyum lebih lembut.
“Saya tahu usia kita sangat jauh. Kamu 23 tahun. Saya 55 tahun. Saya juga tahu ini tidak mudah untuk kamu terima.”
Aku menelan ludah.
Memang tidak mudah.
“Kenapa saya?” tanyaku akhirnya.
Ia tidak langsung menjawab. Ia menatapku sejenak, seolah memilih kata yang paling jujur.
“Karena sejak pertama melihat kamu, saya merasa tenang.”
Jawaban yang aneh.
Tapi entah kenapa terasa tulus.
---
Aku butuh waktu berhari-hari untuk berpikir.
Teman-temanku menertawakan cerita itu.
“Serius? 55 tahun?” kata Nisa sambil menahan tawa.
“Alya mau jadi istri om-om?” tambah Rika.
Aku juga sebenarnya merasa aneh. Bahkan sedikit takut.
Tapi Pak Arman tidak pernah memaksa. Ia hanya sesekali datang menanyakan kabar ibu dan mengirim buah-buahan atau makanan.
Sampai suatu hari, ia kembali datang membawa sesuatu yang membuatku semakin bingung.
Ia datang bersama seorang notaris.
Di atas meja ruang tamu kami, ia menaruh beberapa map.
“Alya,” katanya pelan, “kalau kamu menerima lamaran saya, ini maharnya.”
Aku mengerutkan kening.
“Maharnya?”
Ia membuka map pertama.
“Sertifikat tanah atas nama kamu.”
Aku terdiam.
Tanah itu luasnya hampir setengah hektar di pinggir kota.
Map kedua dibuka.
“Mobil.”
Di dalamnya ada dokumen mobil mewah yang bahkan namanya pun jarang kudengar.
Aku mulai gelisah.
Map ketiga.
“Ini saham di perusahaan saya.”
Map keempat.
“Ini rekening khusus untuk kebutuhan kamu. Termasuk skincare yang kamu butuhkan.”
Aku hampir tertawa karena kaget.
“Skincare?”
Pak Arman tersenyum kecil.
“Saya tahu perempuan suka merawat diri.”
Map terakhir.
“Dan ini… tas.”
Aku bingung.
“Tas?”
Ia menunjukkan katalog tas bermerek yang harganya bisa membeli rumah kecil.
Kepalaku terasa pusing.
“Kenapa semua ini?” tanyaku pelan.
Pak Arman menatapku dengan serius.
“Karena saya ingin kamu merasa aman.”
---
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku memikirkan semuanya.
Sertifikat tanah.
Mobil mewah.
Saham.
Tas mahal.
Skincare.
Itu bukan mahar biasa. Itu seperti kehidupan baru.
Tapi yang paling menggangguku bukan barang-barang itu.
Melainkan perasaan.
Aku takut orang mengira aku menikah karena uang.
Aku takut dianggap perempuan matre.
Aku takut menjadi bahan gosip.
Keesokan harinya aku memberanikan diri bertanya langsung pada Pak Arman.
“Pak,” kataku, “apa Bapak yakin dengan keputusan ini?”
Ia mengangguk.
“Sangat yakin.”
“Kenapa saya?”
Ia tersenyum tipis.
“Karena kamu tidak pernah meminta semua ini.”
Aku terdiam.
“Perempuan yang hanya mengejar uang biasanya sudah bertanya tentang mobil saya sejak pertama bertemu,” lanjutnya. “Kamu bahkan tidak tahu saya punya apa.”
Aku tidak bisa membantah.
“Dan satu lagi,” katanya.
“Apa?”
“Saya ingin menikah sekali lagi sebelum usia saya terlalu tua. Tapi saya tidak ingin hanya menikah. Saya ingin bertanggung jawab.”
Aku menatapnya lama.
Di wajahnya tidak ada kesombongan.
Tidak ada pamer.
Hanya ketulusan yang anehnya membuat hatiku tenang.
---
Tapi ada satu hal yang belum ia ceritakan.
Masa lalunya.
Suatu sore ia mengajakku bicara di taman kecil dekat rumahku.
“Alya,” katanya pelan, “sebelum kamu memutuskan, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Aku menunggu.
“Saya pernah menikah.”
Aku mengangguk. Itu tidak mengejutkan.
“Tapi sekarang kami sudah berpisah.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Ia menarik napas panjang.
“Karena kami tidak lagi saling mencintai.”
Ia tidak menceritakan drama atau kesalahan siapa pun.
Hanya sebuah kalimat sederhana yang terasa sangat dewasa.
“Kami berpisah baik-baik. Anak-anak saya juga sudah dewasa.”
Aku sedikit lega.
“Tapi mereka tahu tentang saya?”
Ia mengangguk.
“Mereka tahu saya ingin menikah lagi.”
“Dan mereka setuju?”
Ia tersenyum kecil.
“Mereka hanya ingin saya bahagia.”
Aku menatap langit senja yang mulai berubah warna.
Hidup kadang aneh.
Seorang perempuan 23 tahun sedang mempertimbangkan menikah dengan pria 55 tahun.
---
Beberapa hari kemudian aku membuat keputusan.
Bukan karena sertifikat tanah.
Bukan karena mobil mewah.
Bukan karena saham.
Bukan karena tas mahal atau skincare.
Tapi karena satu hal yang jarang kutemui pada pria seumurnya.
Tanggung jawab.
Ketika ia datang lagi ke rumahku, aku sudah siap.
“Alya,” katanya lembut, “saya tidak ingin kamu merasa terpaksa.”
Aku menggeleng.
“Aku sudah memikirkan semuanya.”
Ia menunggu jawabanku dengan tenang.
“Aku mau menerima lamaran Bapak.”
Untuk pertama kalinya aku melihat matanya berkaca-kaca.
Ia tidak melonjak kegirangan. Tidak juga memelukku.
Ia hanya mengucapkan satu kalimat yang sangat sederhana.
“Terima kasih sudah percaya pada saya.”
---
Pernikahan kami tidak mewah.
Justru sederhana.
Di depan penghulu, Pak Arman menyerahkan mahar yang membuat semua orang terdiam.
“Sertifikat tanah.”
“Mobil.”
“Saham.”
Beberapa tamu saling berbisik.
Aku bisa mendengar mereka.
“Gila…”
“Maharnya kaya sultan…”
“Tuh kan, pasti karena uang…”
Tapi untuk pertama kalinya aku tidak peduli.
Karena ketika aku melihat Pak Arman mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap, aku tahu satu hal.
Ia tidak sedang membeli cinta.
Ia sedang menjaga seseorang yang ia cintai.
Dan entah bagaimana, di usia yang sangat jauh berbeda itu, aku mulai percaya bahwa cinta memang bisa datang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.
Bahkan melalui mahar yang awalnya membuatku bingung dan hampir menolaknya.
Kini semua itu bukan lagi sekadar sertifikat tanah, mobil mewah, tas mahal, skincare, atau saham.
Semua itu adalah simbol satu hal:
Keseriusan seorang pria yang datang di usia 55 tahun…
untuk mencintai seorang perempuan 23 tahun dengan tanggung jawab penuh.
Dan mungkin, itu adalah mahar paling jujur yang pernah kuterima dalam hidupku.