Bagi Aris, perpustakaan kampus bukan sekadar tempat mencari referensi skripsi. Tempat itu adalah satu-satunya lokasi di mana ia bisa mencuri pandang ke arah Kirana tanpa terlihat aneh.
Kirana selalu duduk di meja yang sama: pojok kanan dekat jendela, tepat di depan rak buku kategori Sejarah. Aris biasanya bersembunyi di balik rak nomor tujuh, pura-pura sibuk membaca buku tentang teori arsitektur yang tebalnya minta ampun, padahal matanya terus bergerak ke arah gadis itu.
Ritual yang Tak Terucap
Setiap pukul dua siang, Kirana akan menguncir rambutnya ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang putih, lalu menyesap kopi dari tumbler peraknya. Di saat itulah, Aris merasa dunianya berhenti sejenak.
"Kenapa nggak disapa saja, Ris?" bisik batinnya setiap hari. Tapi Aris selalu punya alasan untuk mundur. Kirana adalah mahasiswi berprestasi, sementara Aris merasa dirinya hanyalah mahasiswa biasa yang lebih sering bicara dengan garis desain daripada dengan manusia.
Pesan dalam Halaman
Suatu sore, Kirana meninggalkan mejanya untuk mencari buku lain. Entah keberanian dari mana, Aris mendekat. Ia melihat buku catatan Kirana yang terbuka. Di pojok kertas itu, ada coretan sketsa kecil—sebuah gedung dengan gaya brutalisme. Itu adalah gaya arsitektur favorit Aris.
Aris mengambil sebuah selipan buku (bookmark) dari kantongnya, sebuah kartu kecil bergambar gedung serupa yang ia gambar sendiri. Tanpa berpikir panjang, ia menyelipkannya di antara halaman buku yang sedang dibaca Kirana, lalu segera kembali bersembunyi di rak nomor tujuh.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat Kirana kembali. Gadis itu membuka bukunya, menemukan kartu tersebut, dan tertegun. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari siapa pengirimnya. Aris menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada daftar pustaka bukunya.
Akhir yang Terbuka
Keesokan harinya, Aris kembali ke posisinya. Namun, ada yang berbeda. Meja nomor tujuh kosong. Kirana tidak ada di sana.
Dengan perasaan kecewa, Aris melangkah ke meja itu. Di sana, di atas permukaan kayu yang dingin, terdapat sebuah buku catatan kecil yang sengaja ditinggalkan. Di sampulnya tertempel kartu gambar gedung milik Aris kemarin.
Aris membukanya. Di halaman pertama, tertulis sebuah pesan pendek:
"Sketsamu bagus. Tapi aku lebih suka kalau yang menggambarnya duduk di depanku, bukan di balik rak nomor tujuh. Kopi jam dua siang besok?"
Aris mendongak. Di balik pintu kaca perpustakaan, ia melihat Kirana sedang berdiri sambil melambaikan tangan kecil dengan senyum yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Ternyata, selama ini bukan hanya Aris yang punya mata di balik rak buku.