Di bawah langit Madinah yang membiru, di mana wahyu turun menyentuh bumi dan keadilan ditegakkan di atas singgasana takwa, hiduplah seorang lelaki bernama Mugits. Ia bukanlah seorang panglima perang yang namanya digetarkan oleh derap kaki kuda, bukan pula saudagar kaya yang kafilahnya membelah gurun. Mugits hanyalah seorang hamba sahaya, seorang budak yang tubuhnya dimiliki oleh tuannya, namun hatinya sepenuhnya telah dicuri oleh seorang wanita bernama Barirah.
Cinta mereka tumbuh di antara debu-debu pekerjaan kasar dan keringat yang bercucuran. Dalam status perbudakan yang menghimpit, Barirah adalah satu-satunya napas bagi Mugits. Setiap kali fajar menyapa, Mugits tidak melihat matahari sebagai pemberi cahaya, melainkan sebagai pengingat bahwa ia akan kembali melihat wajah Barirah. Mereka menikah dalam keadaan sama-sama terbelenggu sebagai budak. Bagi Mugits, meski tangannya terikat oleh kepemilikan orang lain, batinnya merasa merdeka selama ia bisa pulang ke pelukan Barirah. Ia memuja Barirah dengan ketulusan yang melampaui batas-batas kasta manusia. Baginya, Barirah adalah segalanya—istrinya, kekasihnya, dan ibu dari anak-anaknya.
Namun, di dalam dada Barirah, ada api lain yang menyala lebih terang daripada cinta kepada Mugits. Api itu bernama kerinduan akan kemerdekaan. Barirah tidak pernah merasa benar-benar hidup selama ia masih menjadi properti manusia. Baginya, setiap sentuhan Mugits adalah pengingat akan status mereka yang rendah. Ia ingin bersujud kepada Allah tanpa harus meminta izin dari tuannya. Ia ingin berjalan di pasar Madinah sebagai wanita yang bebas, yang tidak bisa diperintah atau dijual kembali.
Hingga suatu hari, takdir mengetuk pintu kehidupan mereka melalui tangan mulia Ummul Mukminin, Aisyah ra. Dengan kemurahan hati yang tiada tara, Aisyah menebus Barirah. Seketika itu juga, rantai tak kasat mata yang selama ini membelenggu leher Barirah luruh ke bumi. Ia menjadi "al-hurrah", wanita merdeka. Namun, kemerdekaan itu membawa konsekuensi hukum yang amat berat bagi Mugits. Dalam syariat yang agung, seorang budak wanita yang dimerdekakan sementara suaminya masih berstatus budak, diberikan hak "Khiyar" yaitu hak untuk memilih apakah ia ingin melanjutkan pernikahannya atau mengakhirinya.
Bagi Mugits, hari kemerdekaan Barirah adalah hari kematian bagi jiwanya. Barirah, dengan segala luka masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam, memilih untuk berpisah. Ia ingin memulai hidup baru yang benar-benar bersih dari segala hal yang berbau perbudakan, termasuk Mugits. Barirah melangkah keluar dari rumah kecil mereka dengan kepala tegak, meninggalkan Mugits yang tersungkur di atas pasir.
Maka mulailah sebuah pemandangan yang paling menyayat hati dalam sejarah Madinah. Mugits, lelaki yang biasanya tegar memikul beban berat, kini hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi poros dunianya kini telah menjadi orang asing. Mugits mulai mengikuti Barirah ke mana pun ia pergi. Ia berjalan di belakangnya melewati lorong-lorong sempit Madinah, melewati keramaian pasar, hingga ke pelataran Masjid Nabawi.
Air mata Mugits mengalir deras tanpa henti. Janggutnya yang kasar basah kuyup oleh tangis yang tak kunjung usai. Ia meratap, memohon, dan merintih di belakang Barirah. "Wahai Barirah, ingatlah masa-masa kita. Takutlah kepada Allah atas diriku, kembalilah padaku!" Namun, Barirah terus berjalan. Ia tidak menoleh. Ia menjaga jaraknya dengan keteguhan yang bagi Mugits terasa seperti sembilu yang menyayat jantung. Pemandangan ini begitu dramatis hingga orang-orang Madinah berhenti sejenak dari aktivitas mereka hanya untuk menyaksikan duka yang meluap-luap dari seorang Mugits.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ sedang berjalan bersama pamannya, Abbas ra. Beliau melihat Mugits yang berjalan sempoyongan di belakang Barirah, air matanya menetes jatuh ke tanah, membasahi debu Madinah. Rasulullah ﷺ, yang hatinya paling lembut di antara seluruh manusia, menoleh kepada Abbas dengan rasa takjub yang mendalam. Beliau bersabda, "Wahai Abbas, tidakkah engkau heran melihat besarnya cinta Mugits kepada Barirah, dan betapa besarnya kebencian Barirah kepada Mugits?"
Rasulullah ﷺ tidak tega melihat penderitaan itu. Beliau memanggil Barirah, wanita yang baru saja merasakan manisnya kemerdekaan itu. Dengan suara yang penuh rahmat, Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Barirah, sekiranya engkau mau kembali kepadanya, sesungguhnya ia adalah suamimu dan ayah dari anakmu."
Barirah terdiam sejenak. Ia tahu siapa yang berbicara di hadapannya. Ini adalah manusia yang paling ia cintai melebihi dirinya sendiri, sang pembawa wahyu. Namun, Barirah juga tahu bahwa Islam adalah agama yang memberikan hak-hak individu secara adil. Dengan penuh adab dan ketenangan, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah Anda memerintahkanku, atau Anda hanya sekadar memberi syafaat (saran)?"
Rasulullah ﷺ menjawab dengan kejujuran yang agung, "Aku hanyalah memberi syafaat."
Mendengar itu, Barirah memberikan jawaban yang menggetarkan sejarah, sebuah jawaban yang menegaskan hak seorang wanita atas hatinya sendiri: "Wahai Rasulullah, jika itu hanya saran, maka aku tidak lagi memiliki keinginan kepadanya. Aku tidak butuh lagi padanya."
Mugits yang mendengar itu dari kejauhan merasa dunianya benar-benar kiamat. Syafaat manusia paling mulia di bumi pun telah ditolak oleh Barirah demi prinsip kemerdekaannya. Namun, Rasulullah ﷺ tidak marah. Beliau tidak memaksa Barirah untuk kembali. Beliau menunjukkan kepada dunia bahwa dalam urusan hati, paksaan adalah sebuah kezaliman, bahkan jika paksaan itu datang dari seorang pemimpin tertinggi.
Mugits tetap menjadi bayang-bayang di Madinah selama beberapa waktu. Ia belajar tentang arti kehilangan yang paling absolut. Ia belajar bahwa mencintai dengan sepenuh hati tidak menjamin seseorang akan dicintai kembali dengan cara yang sama. Di sela-sela doanya, Mugits barangkali bertanya-tanya mengapa takdir begitu kejam memisahkan dua insan yang pernah berbagi suka dan duka. Namun, di dalam perihnya, ia tetap menjaga kehormatan Barirah. Ia tidak membencinya, ia tetap memujanya dalam diam, meski ia tahu pintu itu telah tertutup rapat oleh kunci kemerdekaan.
Seiring berjalannya waktu, riwayat mencatat bahwa duka Mugits perlahan mengering, meski bekasnya tetap ada di relung hatinya. Ia melanjutkan hidupnya sebagai muslim yang taat. Ada yang mengatakan ia tetap sendiri dalam sisa umurnya, membawa cinta yang tak berbalas itu sebagai bekal menuju keabadian. Ia menjadi pengingat bagi setiap pencinta di dunia ini, bahwa adakalanya Allah menguji seorang hamba bukan dengan kekurangan harta, melainkan dengan kekurangan cinta dari manusia yang ia dambakan.
Kisah cinta Mugits dan Barirah berakhir bukan dengan pelaminan, melainkan dengan pemahaman. Mugits memahami bahwa cinta harus memiliki kerelaan, dan Barirah memahami bahwa kebebasan adalah hak yang harus dijaga meski harus mengorbankan perasaan orang lain. Dan di atas segalanya, Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran abadi bahwa agama ini tegak di atas penghormatan terhadap hak-hak manusia. Di Madinah, kota cahaya itu, air mata Mugits tetap dikenang sebagai salah satu air mata paling jujur yang pernah tumpah, mengajarkan kita bahwa bahkan di dalam kesedihan yang paling dalam, ada kemuliaan yang bisa dipetik oleh mereka yang bersabar.
Kini, setiap kali nama Barirah disebut dalam kitab-kitab hadis tentang hukum kemerdekaan, nama Mugits pun ikut terbawa. Mereka abadi dalam sejarah bukan karena kebahagiaannya, melainkan karena luka yang dihadapi dengan iman. Mugits mengajarkan kita cara mencintai, Barirah mengajarkan kita cara menentukan pilihan, dan Rasulullah ﷺ mengajarkan kita cara menghargai keduanya.
Mugits mungkin tidak pernah lagi memeluk Barirah di dunia ini. Namun, ia telah memenangkan tempat di hati sejarah sebagai lelaki yang cintanya begitu besar hingga mengherankan seorang Nabi. Ia telah melewati ujiannya, sebuah ujian rasa yang barangkali lebih berat daripada membelah lautan. Dan di penghujung jalan, ia menyerahkan segala urusan hatinya kepada Sang Pemilik Hati, berharap bahwa di surga kelak, tidak ada lagi status budak atau merdeka, tidak ada lagi cinta yang bertepuk sebelah tangan, hanya ada kedamaian yang abadi bagi jiwa-jiwa yang telah kenyang dengan luka di dunia.