Ruang OSIS terasa gerah meski kipas angin sudah berputar cepat.
Alana duduk di meja panjang dengan tumpukan soal latihan di depannya.
Matanya beberapa kali melirik pintu. Dia mencoba fokus pada angka-angka.
Pintu akhirnya terbuka.
Gavin masuk dengan napas sedikit cepat dan seragam agak berantakan. Rambutnya tampak lebih acak-acakan dari biasanya.
Dia langsung duduk di depan Alana. Sebuah botol air mineral dingin diletakkan di tengah meja. Tidak ada sapaan.
Alana menggeser botol itu menjauh sedikit.
"Gue telat lima menit. Ada urusan di ruang guru," kata Gavin.
Dia membuka tasnya lalu mengeluarkan buku bersampul kusam. Bukan buku kalkulus yang biasa dia bawa.
Alana melirik buku itu sekilas. Judulnya hampir pudar karena sering dibuka. Gavin menyadari tatapan itu dan mengangkat alis sedikit.
"Jangan liatin gue terus, Sang Seniman. Fokus ke soal lo."
Alana langsung menunduk dan mulai menulis. Pulpennya bergerak cepat di atas kertas. Beberapa coretan terlihat terlalu keras.
Ujung kertasnya sampai sedikit robek.
"Lo nggak perlu se-agresif itu sama kertasnya," komentar Gavin santai.
Dia tetap membaca bukunya tanpa melihat ke arah Alana. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Alana pura-pura tidak mendengar. Dia kembali mengerjakan soal yang semakin rumit.
Dua jam berlalu dengan suara pulpen yang terus bergerak. Soal terakhir membuat Alana berhenti cukup lama. Dia membaca ulang hitungannya beberapa kali. Hasilnya tetap tidak cocok.
Alana akhirnya menyandarkan punggung ke kursi.
Gavin menutup bukunya. Dia menggeser kursi sedikit lebih dekat ke meja. Tangannya mengambil kertas Alana tanpa bertanya.
Dia membaca hitungan itu sebentar. Lalu menulis beberapa langkah baru di bagian bawah kertas. Gerakannya cepat dan rapi.
"Lo terlalu fokus ke variabel ini," kata Gavin pelan.
Ujung pulpennya menunjuk baris ketiga perhitungan Alana. "Coba lihat dari sini."
Alana memperhatikan kertas itu dengan serius. Penjelasan Gavin ternyata jauh lebih sederhana. Cara berpikirnya berbeda dari yang Alana pakai.
Alana mengangguk pelan.
"Paham?" tanya Gavin.
Dia menatap Alana dari jarak yang lebih dekat dari biasanya.
"Gue paham," jawab Alana pendek.
Gavin tersenyum tipis.
Tangannya tiba-tiba mengacak rambut Alana sebentar.
Lalu dia kembali duduk di kursinya seperti tidak terjadi apa-apa.
Alana langsung merapikan rambutnya, pipinya memerah.
Gavin mulai merapikan buku-bukunya. Dia masukkan semuanya ke dalam tas dengan gerakan santai. Ruangan mulai terasa lebih sunyi.
"Latihan cukup hari ini."
Dia berdiri dari kursinya.
Alana masih duduk sambil menatap kertas hitungan yang sudah diperbaiki. Beberapa langkah baru itu langsung membuat jawabannya jelas. Dia menutup bukunya perlahan.
Gavin sudah sampai di pintu.
Dia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Besok nggak ada latihan," katanya.
"Ada pertandingan basket."
Dia membuka pintu ruangan.
"Lo harus datang kalau nggak mau rahasia 'sayap' itu muncul di mading."
Pintu tertutup setelah dia pergi.
Alana menatap pintu itu beberapa detik.
Lalu dia menjatuhkan dahinya ke tumpukan buku.
"Nyebelin banget..."