Bagi Arga, mengasuh putri kecilnya, Hana, yang baru berusia empat tahun adalah sebuah petualangan sekaligus luka yang belum sembuh. Istrinya, Sarah, meninggal tepat saat Hana lahir. Sejak saat itu, dunia Arga hanya berputar pada pekerjaan dan Hana.
Namun, Hana bukanlah balita biasa. Dia memiliki kebiasaan-kebiasaan yang sering membuat Arga terdiam mematung.
Kebiasaan yang Akrab
Suatu pagi, saat Arga sedang membuat kopi di dapur, Hana datang menghampiri. Ia tidak meminta susu atau sereal.
Sentuhan Kecil: Hana menarik ujung apron Arga, lalu merapikan ikatannya yang longgar dengan gerakan jemari yang sangat cekatan—persis seperti yang selalu dilakukan Sarah dulu.
Selera yang Sama: Hana membenci brokoli, tapi dia sangat suka mencampurkan madu ke dalam teh hangatnya dengan tiga kali adukan searah jarum jam. "Biar manisnya pas, Yah," katanya polos.
Arga hanya bisa menelan ludah. Kalimat itu adalah kalimat favorit Sarah.
Perjalanan ke Masa Lalu
Suatu akhir pekan, Arga membawa Hana mengunjungi rumah masa kecil Sarah yang sudah lama kosong di pinggiran kota. Begitu turun dari mobil, Hana tidak terlihat bingung. Ia justru berlari kecil menuju sebuah pohon mangga besar di halaman belakang.
"Yah, kotak besinya masih ada di bawah sana!" teriak Hana sambil menunjuk akar pohon.
Arga mengerutkan dahi. "Kotak apa, Sayang?"
"Kotak yang isinya surat-surat itu. Yang kita tanam waktu hujan deras, ingat?"
Langkah Arga terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Hanya dia dan Sarah yang tahu tentang time capsule yang mereka kubur di sana sepuluh tahun lalu sebagai janji pernikahan. Mereka bahkan belum sempat menceritakannya pada siapa pun.
Tatapan yang Berbicara
Hana berbalik, menatap Arga dengan binar mata yang tiba-tiba terasa sangat dewasa. Ia mendekat, menggenggam tangan Arga yang gemetar, lalu menyandarkan kepalanya di lutut ayahnya.
"Maaf ya, baliknya agak lama. Jalannya jauh sekali," bisik Hana pelan.
Di bawah bayang-bayang pohon mangga itu, Arga menangis. Bukan tangis kesedihan, melainkan kelegaan yang luar biasa. Ia tidak tahu bagaimana logika reinkarnasi bekerja, atau apakah ini hanya keajaiban sementara. Yang ia tahu, cinta tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya berganti wujud untuk memastikan mereka yang ditinggalkan tidak pernah merasa sendirian.
"Keluarga bukanlah sekadar soal darah, tapi soal jiwa yang selalu menemukan jalan pulang ke rumah yang sama."