Pukul 15.30 selalu menjadi waktu favorit Arlan. Bukan karena itu jam pulang sekolah, tapi karena itu adalah waktu di mana Maya akan duduk di sudut perpustakaan, tepat di bawah sinar matahari sore yang menembus jendela kaca besar.
Arlan selalu mengambil posisi dua meja di belakang Maya. Cukup jauh agar tidak terlihat mencurigakan, tapi cukup dekat untuk melihat bagaimana Maya mengerutkan dahi setiap kali bertemu soal matematika yang sulit.
Rahasia dalam Diam
Bagi Arlan, menyukai Maya itu seperti membaca buku favorit tanpa suara. Ia tidak butuh tepuk tangan, ia hanya butuh halaman itu terus terbuka.
Pernah suatu pagi: Arlan sengaja datang lebih awal hanya untuk menaruh sekotak susu cokelat di kolong meja Maya tanpa nama. Ia tahu Maya sering melewatkan sarapan.
Pernah suatu sore: Arlan meminjam payung milik satpam sekolah dan meninggalkannya begitu saja di dekat tas Maya saat hujan deras, sementara ia sendiri pulang dengan basah kuyup menggunakan tasnya sebagai peneduh.
Percakapan Kecil
Suatu hari, suasana perpustakaan sangat sepi. Hanya ada mereka berdua. Maya tiba-tiba berbalik, membuat Arlan yang sedang memperhatikannya hampir menjatuhkan pulpen.
"Lan, kamu selalu ada di sini jam segini. Kamu lagi ngerjain proyek besar ya?" tanya Maya sambil tersenyum tipis.
Arlan berdeham, berusaha menetralkan degup jantungnya yang mendadak lari maraton. "Eh, iya. Cuma... merangkum sejarah. Kamu sendiri?"
"Lagi berantem sama aljabar," jawab Maya sambil terkekeh. "Makasih ya, Lan."
Arlan mengernyit. "Buat apa?"
"Buat susu cokelatnya. Dan payung biru kemarin. Aku tahu itu kamu karena gantungan kuncinya sama dengan yang ada di tas kamu."
Akhir yang Terbuka
Dunia Arlan seolah berhenti berputar sejenak. Ternyata, diamnya tidak benar-benar kedap suara. Maya melihatnya. Maya menyadarinya.
"Aku nggak bermaksud..." kalimat Arlan menggantung.
Maya menutup bukunya, lalu berdiri. Sebelum berjalan keluar, ia menoleh sedikit. "Besok nggak usah diam-diam lagi. Kalau mau kasih susu cokelat, kasih langsung aja. Aku lebih suka kalau ada temannya pas minum."
Arlan terpaku. Senyumnya perlahan merekah. Ternyata, mencintai dalam diam itu indah, tapi memberi tahu bahwa kita ada di sana ternyata jauh lebih melegakan.