“Kau harus memilih antara dua orang itu.. kau tidak boleh egois, Zaq,” suara Dilan memecah kebisingan mesin-mesin di bengkelku. Sebagai Bos sebuah jaringan bengkel yang sedang berkembang, aku biasa mengatur ratusan mesin, tapi tidak dengan hatiku sendiri.
“Entahlah, Lan. Aku nyaman dengan mereka berdua,” jawabku pelan. “Meskipun Shannum itu masa lalu yang sering mengecewakan, tapi jujur, cinta ini masih ada untuk dia. Dia itu sisi manjaku.”
Tiba-tiba, ponsel di saku wearpack-ku bergetar. Sebuah nama muncul di layar.
“Aku tinggal dulu, Lan,” pamitku.
Dilan mendengus sinis. “Dia lagi?”
Aku hanya mengangguk kecil. Dia yang dimaksud Dilan adalah Ressa, pacarku yang sekarang. Ressa adalah segalanya yang diinginkan pria waras: mapan sebagai pegawai Bank Mandiri dan sering kali menjadi ‘donatur’ bagi ekspansi bisnis bengkelku. Tanpa suntikan modal dan jaringan dari Ressa, bengkel ini tak akan sebesar sekarang.
“Halo, Sayang? Aku sudah di depan bengkel, bawakan makan siang kesukaanmu,” suara lembut Ressa terdengar di seberang telepon.
Aku keluar menemuinya. Ressa tersenyum manis, menyerahkan bungkusan makanan seolah aku adalah dunianya. Aku mencium keningnya, tapi pikiranku melayang pada pesan singkat yang masuk semalam dari Shannum: “Zaq, aku kangen. Bisa jemput aku?”
Minggu-minggu berlalu dengan kemunafikan yang kupelihara rapi. Aku menikmati fasilitas dan kasih sayang Ressa. Dia membayar cicilan alat-alat baru bengkelku, menemani lemburku, dan mencintaiku tanpa syarat. Namun, di belakangnya, aku diam-diam kembali menemui Shannum.
Shannum tetaplah Shannum yang dulu; egois, manja, dan sering menghilang, tapi di pelukannya aku merasa menjadi diriku yang lama. Aku memutuskan untuk berhenti bersikap abu-abu. Aku akan meninggalkan Ressa setelah proyek besar bengkel ini cair. Aku hanya memanfaatkan kebaikannya untuk mencapai puncak, lalu aku akan mengejar cintaku yang sesungguhnya: Shannum.
Hari itu tiba. Aku memutus hubungan dengan Ressa lewat pesan singkat yang dingin. Tak peduli betapa hancurnya dia, tak peduli betapa banyak jasanya padaku. Bagiku, hutang budi bisa dibayar, tapi cinta tak bisa dipaksa.
Dengan bunga di tangan dan senyum kemenangan, aku memacu mobil menuju apartemen Shannum. Aku ingin memberinya kejutan bahwa sekarang aku sepenuhnya miliknya. Tanpa Ressa, tanpa penghalang.
Aku mengetuk pintu apartemennya dengan jantung berdebar. Pintu terbuka. Shannum berdiri di sana, tapi dia tidak sendiri. Seorang pria tegap merangkul pinggangnya dengan posesif.
"Zaqly? Ada apa?" tanya Shannum datar.
"Shannum, aku... aku sudah putus dengan Ressa. Aku kembali untukmu," kataku terbata-bata.
Shannum tertawa kecil, tawa yang dulu kupuja tapi kini terasa seperti belati. "Zaq, itu sudah telat. Kamu terlalu lama menggantungku dengan alasan pekerjaan. Kenalkan, ini Bram. Kami baru saja bertunangan kemarin."
Duniaku runtuh seketika. Bunga di tanganku terjatuh.
"Tapi kamu bilang kamu kangen..."
"Kangen bukan berarti menunggu selamanya, Zaq. Lagipula, aku dengar apa yang kamu lakukan pada Ressa. Kalau kamu bisa sejahat itu pada wanita sebaik dia demi ambisimu, aku tidak mau jadi korban berikutnya," ucap Shannum dingin sebelum menutup pintu di depan mukaku.
Aku berdiri mematung di lorong sepi itu. Aku kehilangan Ressa yang tulus mendukungku, dan aku kehilangan Shannum yang mati-matian kukejar. Aku pulang ke bengkel yang kini terasa seperti penjara besi yang dingin. Di meja kerjaku, ada nota pelunasan mesin dari Ressa dengan memo kecil: "Sukses selalu untuk bengkelmu, Zaq. Ini kado terakhir dariku."
Aku mendapatkan bengkel impianku, tapi aku kehilangan nyawaku. Aku sendirian dalam kejayaan yang dibangun di atas air mata orang yang tulus mencintaiku. Ternyata, menjadi egois hanya membuatku berakhir di ruang kosong tanpa siapa-siapa.