Langit hari ini berada di antara dua sisi; tidak mendung, tapi juga tak menawarkan hangat matahari yang ramah. Seolah semesta sedang ikut bergeming, sama sepertiku. Aku bangkit dari kursi kerja, meregangkan penat yang sedari tadi kupaksakan untuk menimbun sisa-sisa sesak di dada.
"Besok pagi,jam 09.00 temui Bu Anita ya, Rin," suara atasanku memecah lamunan saat aku baru saja melangkah menuju kantin.
"Ya, Bu," jawabku singkat, berusaha memasang wajah profesional meski hatiku sedang runtuh berkeping-keping.
Sejak Don memutuskan hubungan kami tanpa syarat, pekerjaan adalah satu-satunya pelarian. Namun, semakin aku mencoba sibuk, bayangan hari itu justru semakin tajam di kelopak mata. Pengkhianatan paling sunyi adalah melihat orang yang kau cintai membeli tiket pergi tanpa memberitahumu sedikit pun. Dia memilih masa depan yang tidak menyertakan namaku di dalamnya.
Aku berjalan menyusuri lorong kantor, melewati kerumunan rekan kerja yang tertawa, merasa seperti hantu di tengah keramaian. Hatiku sudah kukunci rapat. Tak ada ruang untuk siapa pun lagi, setidaknya untuk waktu yang tidak bisa kutentukan.
Langkahku terhenti di depan jendela besar dekat kantin. Di luar sana, aku melihat sebuah mobil yang sangat kukenal terparkir di seberang jalan. Jantungku berdegup kencang.Apakah Don kembali? Apakah dia membatalkan kepergiannya?
Dengan sisa harapan yang bodoh, aku berlari keluar gedung. Aku tak peduli lagi dengan makan siang. Namun, saat aku sampai di trotoar, mobil itu mulai melaju. Dari kaca yang terbuka sedikit, aku melihat Don duduk di kursi penumpang. Dia tidak sendiri. Di sampingnya, seorang wanita lain sedang tertawa sambil merapikan kerah kemeja yang dulu sering kupilihkan untuknya.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Don yang belum sempat kuhapus.
"Rin, aku berangkat sekarang. Tolong jangan cari aku lagi. Aku sudah menemukan rumah yang baru di kota yang berbeda. Selamat tinggal."
Aku berdiri mematung di pinggir jalan yang berdebu. Langit yang tadinya netral, tiba-tiba meneteskan rintik hujan yang dingin. Ternyata, dia tidak hanya membeli tiket pergi tanpaku, dia juga membawa pergi seluruh harapanku tanpa sisa.
Di bawah langit yang mulai menggelap, aku sadar; menutup hati bukan lagi sebuah pilihan, melainkan satu-satunya cara agar aku tidak mati karena luka yang sama.
...
Keesokan paginya, tepat jam 09.00, aku melangkah masuk ke kantor dengan perasaan yang masih terasa kelu. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah yang lembap, sedingin perasaanku saat ini. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketegaran; aku harus tetap profesional meski jiwaku baru saja hancur untuk kedua kalinya.
Setelah merapikan blazerku sejenak, aku berdiri di depan pintu ruangan Bu Anita. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengetuk pintu itu perlahan.
"Masuk, Rin," suara tegasnya terdengar dari dalam.
Aku duduk di depannya, berusaha mengatur napas. Bu Anita menatapku tajam di balik kacamatanya, lalu menggeser sebuah map cokelat ke arahku.
"Saya tahu kinerja kamu menurun sejak bulan lalu, Rin. Saya sudah kasih banyak kompensasi karena saya tahu masalah pribadimu. Tapi perusahaan punya aturan," ucapnya tanpa basa-basi.
Aku membuka map itu. Isinya adalah surat peringatan terakhir sekaligus mutasi kerja ke kantor cabang di pelosok yang jauh dari kota ini.
"Ini kesempatan terakhirmu. Kalau kamu tidak bisa fokus di sana, saya terpaksa melepasmu," lanjutnya dingin.
Aku terdiam. Don pergi meninggalkanku demi wanita lain, dan sekarang pekerjaanku—satu-satunya pegangan hidupku—berada di ujung tanduk. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini, namun dikirim ke tempat asing dalam kondisi hancur seperti ini terasa seperti hukuman mati.
Aku keluar dari ruangan Bu Anita, melewati meja kerjaku yang penuh dengan barang-barang pemberian Don yang belum sempat kubuang. Di luar, hujan turun semakin deras, menghapus jejak ban mobil Don yang kemarin kulihat.
Tahun ini aku kehilangan segalanya: cintaku, semangatku, dan perlahan, masa depanku. Aku berjalan menuju kantin yang sudah sepi, memesan kopi yang mendingin sebelum sempat kuminum. Ternyata benar, ketika dunia memutuskan untuk meruntuhkanmu, ia tidak akan menyisakan satu pun tiang untuk bersandar.
Aku sendirian, benar-benar sendirian di bawah langit yang kini sepenuhnya mendung.