Satu aturan tak tertulis di rumah tua peninggalan kakek Nadia adalah: Jangan pernah melihat ke cermin besar di lorong belakang setelah pukul sembilan malam.
Nadia, yang tumbuh besar dengan logika kota besar, selalu menganggap itu hanya takhayul untuk menakut-nakuti anak kecil agar segera tidur. Namun, malam ini, saat ia harus mengambil segelas air, ia terpaksa melewati lorong itu. Jam dinding berdentang—tepat pukul 21:05.
Lampu lorong yang kuning temaram membuat bayangannya memanjang di lantai kayu yang berderit. Di ujung sana, cermin dengan bingkai ukiran jati itu berdiri tegak, memantulkan kegelapan ruang makan.
Nadia mencoba berjalan cepat tanpa menoleh. Tapi, seperti ada magnet yang menarik lehernya, ia justru melirik.
Di dalam cermin, ia melihat dirinya sendiri. Nadia berhenti. Ia memperhatikan pantulannya: kaos yang sama, rambut kuncir kuda yang sedikit berantakan, dan gelas di tangan kanannya. Semuanya tampak normal.
"Hanya cermin," gumamnya sambil tersenyum tipis.
Namun, senyum Nadia membeku saat ia menyadari satu hal yang mustahil. Di dalam cermin, pantulan Nadia sedang mengedipkan mata, sementara mata Nadia yang asli masih terbuka lebar menatap lurus.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Nadia mencoba mundur selangkah, namun pantulannya di cermin tetap diam tak bergerak. Pantulan itu mulai tersenyum—senyum yang terlalu lebar, terlalu kaku, hingga sudut bibirnya hampir menyentuh telinga.
Lalu, pantulan itu melakukan sesuatu yang membuat bulu kuduk Nadia berdiri sempurna. Alih-alih mengikuti gerakan mundur Nadia, sosok di dalam cermin itu justru melangkah maju, seolah-olah permukaan kaca itu hanyalah tirai air yang tipis.
Tangan pucat dari dalam cermin mulai terjulur keluar, jari-jarinya yang panjang menyentuh bingkai jati yang nyata. Nadia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Saat jemari dingin itu nyaris menyentuh bahunya, Nadia teringat pesan kakeknya yang lain: "Jika kau melihatnya, jangan lari, tapi tutup matamu dan bayangkan kau berada di tempat lain."
Nadia memejamkan mata seerat mungkin. Ia mendengar suara bisikan tepat di telinganya, "Kenapa buru-buru? Aku baru saja ingin bertukar tempat."
Suara derit kayu terdengar sangat dekat, lalu hening. Saat Nadia memberanikan diri membuka mata, ia sudah berada di kamarnya yang terkunci rapat. Namun, saat ia melihat ke arah jendela yang gelap, ia melihat pantulannya sendiri di sana... sedang melambai padanya dari luar jendela, seolah ia adalah orang asing yang terjebak di dunianya sendiri.